Keluar Dari NII, Hasanuddin Ungkap Doktrin Bahaya NII

  • Bagikan

harianjatim.com-Sidoarjo.Muhammad Hasanuddin yang pernah ikut bergabung dengan kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW-9) meminta kepada semua pihak agar tidak lengah dan tetap mewaspadai gerakan NII, hal ini dikarenakan NII bagaimanapun dahulu secara struktur telah terbentuk dan mempunyai anggota yang cukup banyak.

“dengan demikian, gerakan kelompok NII mungkin saja saat ini masih ada, namun dengan pola gerakan baru atau bawah tanah yang sulit dideteksi” kata Hasan

Hasanuddin lantas menceritakan pengalamannya sewaktu bergabung dengan NII KW 9 yang mana pada saat itu sudah punya struktur layaknya sebuah negara.

“memang ketika bergabung dengan NII sudah mirip negara, ada pimpinan tertinggi yang disebut imam besar, di tingkat provinsi dipimpin seorang gubernur, ada yang bagian peradilan dan lain lain” jelasnya

Baca Juga :  PMI mulai kirimkan barang bantuan untuk korban Banjir Bandang Sumbar

Hasanuddin pernah menjabat pada skitar tahun 1997 hingga 1999 untuk wilayah Jatim dengan posisi divisi atau lajnah untuk urusan protokoler keamanan dan transportasi Gubernur NII di Jawa Timur sebelum akhirnya di tarik sebagai ring 1 keamanan pemimpin pusat atau imam besar NII KW 9.

Namun demikian dalam perjalanannya ada beberapa hal yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip dan nurani menyebabkan Hasanuddin memilih keluar dari NII. Ia merasa ada ketidaksesuaian antara imam besar dengan konstitusi yang dimiliki NII pada saat itu. Selain itu dirinya merasa di NII spiritulnya menjadi sangat kering, bahkan disana ajaran atau doktrinnya sangat aneh.

Baca Juga :  Pendidikan semakin tidak terjangkau dan minimnya lapangan pekerjaan

“misalnya saja untuk urusan ibadah sholat secara formal dianggap tidak perlu, yang penting substansi sholat” terangnya.

“bahkan kalau melaksanakan sholat itu dianggap salah, alasan mereka yaitu karena negara kita dianggap belum menjadi negara yang menerapkan syariat islam secara kaffah, sehingga sholat di dalam negara yang masih di pimpin negara thogut adalah tidak sah” jelasnya.

Itulah yang membuat akhirnya Hasanuddin memilih untuk keluar dari NII. Lalu bagaimana dahulu NII berhasil merekrut anggota cukup banyak, menurut Hasanuddin dikarenakan pola perekrutan calon anggota dengan penggiringan doktrin hitam dan putih.

Orang orang akan digiring pada sebuah doktrin dengan menyandingkan dua pilihan yang menjebak yakni antara sistem Islam dan yang bukan Islam.

Baca Juga :  Anggota DPR RI Sosialisasi 4 Pilar MPR RI

“misal orang atau target di suruh memilih antara Islam dan Pancasila, padahal perbandingan itu kan sebenarnya tidak apple to apple” katanya.

Hasanuddin kemudian memberikan pesan pada masyarakat khususnya generasi muda agar terhindar dari organisasi NII juga kelompok lain yang mengajarkan paham intoleransi, radikal ataupun terorisme.

Salah satu cara untuk bisa terhindar paham tersebut yakni harus lebih selektif dalam memilih guru mengaji. Karena guru apalagi di bidang agama sangatlah penting sehingga harus dipilih yang benar benar mempunyai sanad keilmuan yang baik dan jelas. (Red).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 336x280