Oleh Zaehol Fatah
( Kaum S3tv dan Dosen biasa)
Tahun baru merupakan perubahan kalender pada hitungan bulan atau matahari. Hitungan tersebut adalah hasil dari keilmuan dan kecerdasan manusia. Hitam-putih kehidupan digambarkan dalam konteks peribadatan. Inilah perenungan sunyi dalam memaknai peras pikir dan olah jiwa saat engkau hadir di depan Ka’bah dalam tajuk ibadah haji ataupun umroh.
Hajar Aswad berwarna hitam legam, sedangkan pakaian ihram putih bersinar. Pikiran-pikiran beberapa kalangan menyematkan warna hitam dengan kejahatan, keburukan atau kesesatan. Juga banyak kisah bahwa simbol-simbol hitam lekat dan menggambarkan salah jalan.
Dalam proses pewarnaan, saat semua warna dicampur maka yang ditemukan adalah hitam. Sunnatullah hitam-putih ini menjadi hikmah bagaimana kita duduk dalam kesemestaan untuk menemukan jalan hidup yang baik dalam kebermanfaatan. Karena salah satu cara menjadi baik itu cukup dengan diam, sehingga akan selamat. Namun, untuk bermanfaat kita harus menemukan jati diri dan keilmuan yang benar sebagai suluk jiwa.
Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam karyanya Al-Hajj Fadlail wa Ahkam (h: 263) mengungkapkan bahwa: “Agama mensyariatkan mencium serta mengusapkan tangan pada batu hitam ini”. Hal tersebut sesuai dengan kisah Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anhu, yang suatu saat mendatangi Hajar Aswad kemudian menciumnya.
Kemudian Sayyidina Umar RA berkata, “Sungguh, aku tahu, kamu hanya batu. Tidak bisa memberi manfaat atau bahaya apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku pun enggan menciummu.” (HR Bukhari) Warna hitam Hajar Aswad disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Asqallani, “Warna hitam Hajar Aswad memberikan petunjuk jika warna batu saja dapat berubah menjadi hitam legam karena disentuh manusia yang kerap berbuat salah dan dosa, bagaimana dengan hati manusia”.
Sedangkan dengan warna putih, harapan-harapan cahaya dan kenampakan jalan Allah ﷻ menjadi tekad untuk senantiasa bertahan dalam jalan kebaikan yang bermanfaat. Dengan warna hitam, ada muhasabah bahwa kegelapan sebagaimana pelajaran Hajar Aswad melakukan berbagai upaya untuk tidak menjadi bergelimang pekat dengan kedosaan. Yang hitam menjadi pengingat bahwa setiap insan bisa saja memiliki jalan keliru, bahkan tersesat. Pintu taubat selalu terbuka lebar melebihi langit dan bumi beserta semua galaksi yang ada. Namun melakukan dosa yang sama secara terus-menerus dan berfikir bahwa bisa bertobat lagi merupakan jalan pikir yang tidak beres, karena ajal tak ada satupun yang tau.
Dikhawatirkan sebelum bertobat dengan dosa yang direncanakan, namun kematian datang lebih awal. Di sisi lain, merasa malu untuk terus berdosa patutlah menjadi pegangan hidup yang mengakar dalam bumi keimanan. Bagaimana tahun 2024? Yakin masih berumur panjang? Masih ingin mengulang pesta pora, bermain-main kembang api dan terompet, dengan perayaan-perayaan yang kurang bermanfaat dan malah mencelakakan serta menorehkan warna hitam demi hitam kembali. Waktu yang tersisa, umur yang bermanfaat dan berkah merupakan rizki Allah ﷻ yang tanpa batas.
Maka umur ini seyogyanya dibelanjakan pada peristiwa yang berfaedah. Tahun baru yang diisi dengan budaya serta tradisi berdzikir dan bershalawat, menjadi pilihan baik di antara yang terbaik. Wariskan budaya dan tradisi yang membahagiakan, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kelak di akhirat bersama senyuman Sang Baginda Nabi Muhammad ﷺ yang kita cintai dan rindukan. Saat amal-amal dibuka dan diperlihatkan membuat putih semerbak yang bergelora. Allahua’lam bisshowab. (*)


