Lovilia Sukma Wardiana Putri
—————————————
Di balik bukit-bukit hijau yang indah, ada sebuah desa kecil bernama Desa Asri. Udaranya segar dengan aroma tanah basah dan bunga liar yang tercium hingga ke sudut-sudut desa. Pepohonan rimbun mengelilingi perkampungan, menciptakan pemandangan yang menenangkan mata. Desa ini jauh dari hiruk-pikuk kota, tapi anak-anak di sana selalu bermain dengan riang gembira. Suara tawa mereka sering terdengar memenuhi udara setiap sore hari.
Adi, Bagus, dan Doni adalah tiga sahabat karib yang suka berpetualang di sekitar desa. Mereka sangat akrab dan selalu bersama-sama sejak kecil. Persahabatan mereka sudah terjalin begitu erat, seolah-olah mereka adalah saudara kandung. Ketiga anak laki-laki ini tidak pernah terpisah dalam menjalani hari-hari mereka yang penuh keceriaan.
Setiap pagi setelah membantu orang tua di ladang, ketiga sahabat ini berkumpul di bawah pohon beringin tua yang berdiri kokoh di tengah desa. Pohon itu adalah markas rahasia mereka, tempat di mana mereka merencanakan berbagai petualangan seru. Cabang-cabang besar pohon beringin itu memberikan keteduhan yang nyaman, dan akar-akar gantungnya menjadi tempat favorit untuk duduk-duduk sambil mengobrol.
Doni dengan rambut keriting yang selalu acak-acakan, biasanya datang pertama ke markas. Dia adalah anak yang paling bersemangat di antara mereka bertiga. Bagus, si anak yang lincah dan suka memanjat pohon, selalu membawa buah jambu dari kebun neneknya untuk dibagikan kepada teman-temannya. Sedangkan Adi adalah anak yang paling banyak ide dan sering menjadi pemimpin dalam setiap petualangan mereka.
Pagi itu, seperti biasa, mereka bertiga berkumpul di bawah pohon beringin. Matahari baru saja naik, dan embun pagi masih menempel di dedaunan.
Adi menatap kedua sahabatnya dengan bersemangat. “Hari ini kita main di mana?”
“Bagaimana kalau kita menjelajah sungai?” Bagus mengusap tangannya yang kotor. Matanya berbinar-binar penuh antusiasme. “Kemarin aku lihat ada batu besar yang bentuknya seperti kura-kura! Pasti seru kalau kita ke sana!”
Doni melompat kegirangan. “Setuju! Nanti kita juga bisa mencari ikan kecil di sana! Siapa tahu kita bisa menangkap banyak ikan!”
Mereka pun bergegas menuju sungai yang airnya jernih mengalir tenang. Perjalanan menuju sungai melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan dan semak-semak. Burung-burung berkicau dengan merdu, mengiringi langkah mereka yang penuh semangat.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba mereka mendengar suara gemerisik dari balik semak-semak. Suara itu terdengar lemah namun cukup jelas untuk menarik perhatian mereka. Adi mendekati tempat suara itu berasal dengan hati-hati. Bagus mulai ketakutan, sementara Doni berdiri di belakang mereka sambil menggenggam tongkat kayu.
Adi mengangkat tangannya. “Diam! Aku akan memeriksanya.”
Langkahnya melambat. Dia sedikit takut ketika mendekati semak-semak tersebut, tidak tahu apa yang akan dia temukan di sana. Jantungnya berdebar kencang. Ketika Adi membuka rumput semak dengan pelan-pelan, dia menemukan seekor anak burung kecil yang terjatuh dari sarangnya. Bulu-bulunya masih jarang dan sayapnya belum bisa digunakan untuk terbang.
“Oh, ternyata hanya seekor anak burung.” Adi menghela napas panjang.
“Lihat!” Dia menunjuk ke arah burung kecil itu. “Ini hanya anak burung yang terjatuh dari sarangnya.”
Bagus dan Doni bergegas menghampiri Adi dengan penuh rasa ingin tahu. Ketika melihat anak burung kecil yang terjatuh itu, mereka merasa kasihan. Burung itu mencicit lemah, seolah meminta tolong.
Bagus menatap burung kecil itu dengan wajah prihatin. “Kasihan sekali anak burung ini. Bagaimana kalau kita bantu mengembalikan ke sarangnya?”
Adi dan Doni mengangguk setuju tanpa ragu.
Mereka bertiga kemudian mencari sarang burung di pohon terdekat. Setelah menemukannya di cabang yang cukup tinggi, Bagus yang paling lincah memanjat pohon dengan hati-hati sambil menggendong anak burung itu. Dengan penuh kehati-hatian, dia meletakkan burung kecil itu kembali ke sarangnya. Induk burung yang tadinya terbang gelisah di sekitar pohon akhirnya kembali ke sarangnya, seolah mengucapkan terima kasih kepada anak-anak itu.
Setelah mengembalikan anak burung ke sarangnya, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke sungai dengan hati yang lebih ringan. Tawa mereka mengisi udara desa yang tenang, bergema di antara pepohonan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di tepi sungai. Air sungai mengalir dengan jernih, dan batu-batu licin tersebar di sepanjang aliran air. Adi dan Doni berlomba melompati batu-batu licin dengan penuh keceriaan, sementara Bagus berendam dalam air yang sejuk menyegarkan. Ketika Bagus sedang menikmati segarnya air, dia menemukan batu yang berbentuk seperti kura-kura di tepi sungai dekat jembatan kayu tua.
Bagus menunjuk dengan antusias. “Teman-teman, lihat ke sana! Itu batu yang berbentuk seperti kura-kura!”
Adi dan Doni bergegas menyusul Bagus yang sudah lebih dulu mendekati batu tersebut. Mereka berdiri di sekitar batu besar itu dengan mata berbinar.
Doni menyentuh permukaan batu yang halus. “Wah, iya! Bentuknya benar-benar mirip kura-kura ya!”
“Aku punya ide!” Adi bersemangat. “Bagaimana kalau kita hias batu ini agar terlihat lebih menarik?”
Bagus dan Doni mengangguk setuju dengan antusias. Mereka lalu menghias batu itu dengan bunga-bunga liar berwarna-warni dan daun-daun lebar yang mereka ambil dari sekitar sungai. Batu itu seperti menjadi singgasana raja dan ratu hutan yang megah. Mereka sangat senang bermain air di sekitar bebatuan sungai, sesekali berpercikan air satu sama lain sambil tertawa lepas.
Setelah puas bermain air, mereka memutuskan untuk menangkap ikan di sungai. Adi yang pandai mencari akal, berhasil mendapatkan ikan dengan cepat menggunakan jaring kecil yang dia bawa dari rumah. Bagus dan Doni juga ikut membantu, dan tak lama kemudian mereka sudah mengumpulkan beberapa ekor ikan sungai yang segar.
Ketika sore tiba, langit mulai berwarna jingga kemerahan yang indah. Matahari perlahan tenggelam di balik bukit-bukit hijau, menciptakan pemandangan yang memukau. Mereka kembali ke markas pohon beringin dengan membawa hasil tangkapan ikan mereka.
“Hari sudah mulai sore. Ayo kita kembali ke markas untuk menyimpan barang-barang kita, lalu pulang ke rumah,” ajak Adi sambil memimpin jalan. Bagus dan Doni mengangguk sambil mengikuti langkah Adi.
Ketika sampai di markas, mereka menyimpan alat-alat petualangan mereka di sana dengan rapi. Tongkat kayu, jaring ikan, dan tas kecil mereka ditaruh di tempat yang aman. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa ikan hasil tangkapan.
Setelah sampai di rumah, mereka mandi dan bersiap untuk berkumpul kembali di halaman depan rumah Bagus. Mereka berencana akan membakar ikan hasil tangkapan untuk makan malam bersama, seperti yang sudah mereka sepakati di perjalanan pulang.
“Teman-teman, ayo kita bakar ikannya! Aku sudah sangat lapar,” kata Bagus dengan semangat sambil mengelus perutnya.
Nenek Bagus yang baik hati menyiapkan bumbu untuk ikan dengan senang hati. Beliau sangat menyayangi cucunya dan teman-temannya. Bagus dan Doni mengumpulkan kayu bakar dari belakang rumah, sementara Adi menyiapkan tempat dan membuat api unggun dengan terampil. Mereka sangat antusias dan bersemangat menjalankan tugas masing-masing. Keceriaan selalu ada pada mereka bertiga, tidak peduli apapun yang mereka lakukan.
Setelah ikan bakar matang dengan sempurna dan aromanya menggugah selera, mereka makan bersama-sama hingga habis. Ikan itu terasa sangat lezat setelah seharian berpetualang. Ketika perut sudah kenyang, mereka berbaring di atas tikar sambil menatap bintang-bintang di langit yang mulai bermunculan satu per satu. Wajah mereka berseri-seri, tersenyum bahagia merasakan hari yang luar biasa.
“Seru sekali hari ini!” kata Doni dengan penuh kekaguman.
“Iya,” sahut Bagus sambil mengangguk. “Padahal kita cuma di desa, bukan di kota yang penuh dengan permainan modern, tapi rasanya sangat menyenangkan dan tidak terlupakan.”
Adi tersenyum lebar sambil menatap langit malam. “Kita tidak perlu pergi jauh untuk bahagia. Kebahagiaan itu ada di sini, di Desa Asri, bersama kalian. Persahabatan kita adalah harta yang paling berharga.”
Bintang-bintang berkelap-kelip seolah ikut merasakan kebahagiaan yang dialami Adi, Bagus, dan Doni. Bulan pun bersinar terang menerangi desa yang damai. Mereka tahu, esok hari akan ada petualangan baru yang menanti mereka. Karena di Desa Asri, setiap hari adalah perayaan kebahagiaan dan persahabatan yang indah. Mereka tertidur dengan senyuman di wajah, bermimpi tentang petualangan berikutnya yang akan mereka jalani bersama.
Tamat
***********
Lovilia Sukma Wardiana Putri
Asal Jombang, Jawa Timur
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


