Madura dalam Cermin Prasangka: Ketika Identitas Dipukul Rata oleh Ulah Oknum

  • Bagikan
Syaf Anton Wr Budayawan asal Kabupaten Sumenep, Madura. (foto: lontarmadura)

Oleh: Syaf Anton Wr*

********

Sejak munculnya kegaduhan yang melibatkan kelompok bernama Madas beberapa waktu lalu, dampaknya tidak berhenti pada individu atau kelompok yang terlibat. Dampak itu justru meluas dan menimpa seluruh warga Madura. Di ruang-ruang digital, warganet dengan mudah menggeneralisasi, membangun narasi bahwa orang Madura identik dengan kekerasan, kekasaran, dan kejahatan. Identitas etnis yang seharusnya menjadi penanda budaya, berubah menjadi label negatif yang diwariskan secara serampangan.

Lebih menyedihkan lagi, ketika orang Madura berusaha meluruskan persoalan—menjelaskan bahwa apa yang terjadi hanyalah ulah oknum—yang muncul justru perundungan. Pembelaan dianggap tidak perlu, suara klarifikasi dianggap tidak penting. Frasa seperti “playing victim” kerap digunakan untuk membungkam, seolah-olah orang Madura tidak berhak menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana realitas sosialnya.

Pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa setiap kejadian yang melibatkan oknum orang Madura selalu ditarik pada identitas kemaduraannya, bukan pada individu pelakunya? Mengapa latar etnis harus selalu ditonjolkan, bahkan ketika peristiwa tersebut bersifat personal dan tidak ada kaitannya dengan budaya atau nilai-nilai Madura?

Istilah Madas—yang merupakan singkatan dari Madura Asli—menjadi contoh paling jelas dari kesalahan berpikir ini. Di ruang publik, Madas dianggap sebagai representasi orang Madura secara keseluruhan. Padahal, faktanya, hanya segelintir orang yang mengetahui apa itu Madas. Bahkan di Pulau Madura sendiri, kelompok ini sangat asing dan tidak dikenal dalam kehidupan sosial masyarakat luas. Namun karena narasi media dan warganet terus mengulang istilah tersebut, ia perlahan dibentuk sebagai simbol “kemaduraan”, meski tanpa dasar yang jelas.

Kesalahan serupa juga terjadi pada penggunaan istilah “carok”. Setiap peristiwa perkelahian, pembunuhan, atau kekerasan yang melibatkan orang Madura kerap langsung dilabeli sebagai carok. Padahal, carok bukan sekadar perkelahian atau tindak kriminal biasa. Carok memiliki aturan, ritual, serta proses yang sangat spesifik. Ia merupakan praktik budaya masa lalu, yang berlangsung dalam konteks sosial tertentu, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Menyebut semua kekerasan sebagai carok menunjukkan ketidaktahuan, baik dari media maupun masyarakat yang mengonsumsinya.

Ketidaktahuan ini kemudian melahirkan eksploitasi. Media yang tidak memahami konteks budaya Madura menulis berita secara sensasional. Publik luar Madura menerimanya tanpa verifikasi. Dari sinilah stigma diproduksi dan direproduksi, hingga akhirnya dianggap sebagai kebenaran umum.

Padahal, etnik Madura sendiri sangat beragam. Orang Madura hidup dan berkembang dalam konteks wilayah dan budaya yang berbeda-beda: Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, serta wilayah Tapal Kuda di Jawa Timur. Masing-masing memiliki karakter sosial, cara hidup, dan nilai yang tidak bisa disamaratakan. Sebagai contoh, masyarakat Sumenep sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—muncul dalam pemberitaan kriminal di luar Pulau Madura. Namun karena berada dalam lingkaran identitas Madura, mereka tetap harus menanggung stigma yang sama.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari: mengapa etnis lain, ketika ada oknum yang melakukan kejahatan di luar kelompoknya, identitas etnisnya jarang diseret? Mengapa pelaku dipandang sebagai individu, bukan sebagai wakil budaya? Lalu mengapa Madura harus selalu menanggung beban kolektif atas kesalahan segelintir orang?

Tulisan ini bukan upaya membela kesalahan. Setiap tindakan kriminal tetap harus diproses secara hukum, tanpa kompromi. Namun keadilan tidak akan pernah lahir dari cara berpikir yang menyamaratakan. Menghakimi satu etnis berdasarkan perilaku oknum bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Prasangka yang terus dipelihara hari ini dapat berubah menjadi diskriminasi sosial di masa depan.

Sudah saatnya publik belajar membedakan antara individu dan identitas. Karena ketika identitas dipukul rata, yang terluka bukan hanya satu kelompok, melainkan nilai keadilan itu sendiri.


*) Syaf Anton Wr
Budayawan


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!.

h

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
punta cana : lujo, relax y el mejor todo incluido del caribe. Free ad network.