Mochamad Rafli Kurnianto
*********
Ada hal-hal yang tidak pernah dikatakan Raka kepada siapa pun. Tentang bagaimana ia sejak beranjak remaja belajar bahwa kedekatan adalah ancaman, dan bahwa orang yang terlalu dekat pada akhirnya akan pergi. Ketakutan itu menempel seperti bayangan. Ia tumbuh menjadi pemuda dengan senyum tipis dan penuh mandiri, Padahal dalam dirinya, ada jurang yang sunyi yang perlu disinari oleh cahaya yang tepat.
Kehidupan remajanya penuh pertanyaan kepada diri sendiri “Sebenarnya aku membutuhkan orang lain untuk merias suatu momen dalam hidup…. atau tidak?”. Pertanyaan itu terus berputar saat dia merasa kembali ke masa kelam yang pernah dialami, pertanyaan demi pertanyaan terus menggeluti di dalam pikiran.
Saat dia memulai kehidupan di perkuliahan, dia sudah bertekad untuk melawan keraguan selama masa remaja kemarin, sampai suatu waktu ia berkelompok dengan wanita yang sesuai dengan kriteria Raka selama ini. Kelompok tugas Observasi Sosial bersama tiga temannya di antaranya Dimas, Aldo, dan Naya. Dimas paling cerewet, Aldo paling santai, dan Naya, dialah sosok sempurna di mata Raka, karena kepedulian Naya terhadap sesama terutama kepada Raka sosok kulkas berjalan selama ini yang meleleh dengan perlakuan Naya.
Suatu sore, mereka duduk di taman kampus. Bangku-bangku kayu lembap oleh sisa hujan semalam, daun-daun berguguran di atas paving.
“Rak, kamu kelihatan capek. Kamu beneran nggak apa-apa?” tanya Naya lembut.
“Aman,” jawab Raka cepat, seperti refleks.
“Bro, kalau lo suatu hari bilang lagi nggak baik, langit bisa runtuh kali,” celetuk Dimas sambil tertawa kecil.
Aldo ikut tertawa. Raka tersenyum tipis, tetapi dadanya mengencang. Bagi orang lain, itu hanya candaan. Bagi Raka, pertanyaan tentang perasaan adalah alarm. Ia belajar sejak lama bahwa membukanya hanya akan berujung luka.
Beberapa hari kemudian, mereka lembur di ruang UKM. Lampu neon putih menggantung redup, papan tulis penuh coretan ide, dan suara kipas tua berdengung konstan. Tekanan lomba kampus semakin terasa.
“Rak, bagian analisis ini mau kamu susun seperti…” ujar Naya.
“Aku nggak tahu!” suara Raka meninggi. “Kenapa semua orang harus nanya ke aku?!”
Ruangan mendadak sunyi. Dimas menatapnya kaget.
“Santai, bro. Kita cuma diskusi,” katanya pelan.
“Aku capek!” Raka berdiri tergesa, jantungnya berdegup keras, telapak tangannya dingin. “Kalian pikir aku selalu tahu? Selalu kuat?”
Ia meraih tas dan melangkah keluar. Pintu ditutup keras.
Brak.
Suara itu menggema di lorong, bercampur dengan dengung hujan yang mulai turun di luar. Dimas dan Aldo saling pandang. Mereka tahu, pagar itu kembali ditarik rapat oleh Raka.
Namun Naya berlari mengejarnya. Di halaman kampus, hujan turun deras. Asap tipis mengepul dari tanah, bau aspal basah memenuhi udara. Raka berhenti di bawah pohon besar. Rambutnya basah, kausnya menempel di tubuh, napasnya berat seolah dadanya ditekan beban tak kasatmata.
“Raka! Tunggu!” seru Naya.
“Kenapa kamu ngejar aku?” suara Raka pecah, hampir kalah oleh suara hujan.
Naya menatapnya tanpa menghakimi. “Kamu kenapa akhir-akhir ini?”
Raka menunduk. Tenggorokannya terasa kering, kepalanya berdenyut. “Biarkan aku sendiri dulu, Nay…”
Hening sejenak, hanya hujan yang berbicara.
“Aku takut,” ucap Raka lirih. “Takut nggak cukup. Takut ngecewain. Takut kehilangan lagi.”
Naya mendekat perlahan. “Rak, kedekatan itu bukan ancaman. Itu proses. Kamu nggak harus sempurna buat diterima.”
Kata-kata itu masuk pelan, seperti cahaya kecil di tengah kabut.
Raka melepas hoodie-nya, menyampirkannya ke bahu Naya tanpa banyak kata, lalu berlari menembus hujan. Naya menatap punggungnya yang menjauh.
“Tuh kan,” gumamnya sambil tersenyum tipis, “bingungnya kayak ngerjain olimpiade matematika.”
Tiga hari kemudian, Dimas dan Aldo mendatangi kos Raka. Kamar itu sunyi, tirai tertutup, udara pengap.
“Lu boleh marah, boleh frustrasi,” kata Dimas sambil duduk di lantai, “tapi jangan ngilang dua hari.”
“Lu ngejauh mulu, Rak,” tambah Aldo. “Tapi inget, kita masih di sini.”
Raka mengusap wajahnya. Kepalanya terasa berat, bahunya kaku. “Gue nggak tahu caranya dekat tanpa takut.”
“Ya belajar,” jawab Dimas ringan. “Pelan-pelan.”
Raka mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia tak merasa harus sembunyi.
Minggu-minggu berikutnya, perubahan kecil muncul. Ia mulai jujur pada jawabannya.
“Lagi pusing.” “Lumayan.” “Atau, aku butuh waktu.”
Bagi Raka, itu langkah besar.
Saat Naya kembali menyapanya di kampus, tawa terasa lebih ringan. Hoodie itu kembali ke tangannya, wangi deterjen lembut tercium.
Mereka berjalan menuju kelas bersama.
Dalam hati, Raka berbisik, “Aku nggak harus menoleh ke belakang lagi”.
Baginya, kedekatan kini bukan jembatan rapuh, melainkan ruang aman yang perlahan ia bangun. Perjalanannya belum selesai, tetapi untuk pertama kalinya, ia percaya dan itu cukup untuk memulai bab baru.
Mochamad Rafli Kurnianto
Mahasiswa Aktif Universitas Muhammadiyah Malang
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


