|| Penulis : Sapa Redaksi
Di balik pertumbuhan ekonomi yang kerap diumumkan pemerintah, ada kenyataan lain yang tumbuh diam-diam di tengah masyarakat: semakin banyak keluarga Indonesia yang hidup dengan utang digital.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan nilai pinjaman online di Indonesia telah menembus lebih dari Rp94 triliun pada akhir 2025. Angka itu tumbuh sekitar 25 persen dibanding tahun sebelumnya. Di saat yang sama, rasio gagal bayar juga meningkat hingga menyentuh kisaran 4,3 persen—angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Statistik itu bukan sekadar angka ekonomi. Di baliknya ada jutaan cerita tentang masyarakat yang sedang berusaha bertahan.
Ada pekerja yang meminjam untuk membayar kontrakan. Ada orang tua yang mencari dana cepat demi biaya sekolah anak. Ada pelaku usaha kecil yang menutup modal harian dengan utang berbunga tinggi. Di banyak rumah tangga, pinjaman online bukan lagi dipakai untuk kebutuhan konsumtif, melainkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: tekanan ekonomi masyarakat semakin nyata.
Ironisnya, pertumbuhan pinjaman online justru berlangsung ketika ekonomi nasional terus berbicara tentang optimisme. Investasi meningkat, pembangunan berjalan, dan berbagai indikator makro masih dijaga tetap stabil. Namun, di lapisan bawah masyarakat, banyak keluarga menghadapi kenyataan berbeda—pendapatan yang tidak cukup mengejar kenaikan biaya hidup.
Karena itu, persoalan pinjaman online tidak bisa hanya dipahami sebagai masalah literasi keuangan atau kedisiplinan individu. Ia adalah cermin dari rapuhnya ketahanan ekonomi rumah tangga.
Data OJK bahkan menunjukkan jumlah pengguna pinjaman online yang gagal membayar melonjak tajam pada kuartal pertama 2025. Dari sebelumnya sekitar 500 ribu rekening bermasalah pada 2024, jumlahnya naik mendekati 780 ribu rekening pada awal 2025. Ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai kesulitan keluar dari lingkaran utang.
Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena tersebut mulai menjalar lintas generasi. Diskusi publik di berbagai forum digital memperlihatkan bagaimana pinjaman online kini tidak hanya digunakan kelompok muda, tetapi juga usia produktif hingga kelompok lanjut usia yang menghadapi tekanan ekonomi keluarga.
Kita sedang menyaksikan perubahan pola krisis sosial-ekonomi. Dahulu masyarakat mungkin terjebak rentenir di pasar-pasar tradisional. Kini, rentenir itu hadir melalui aplikasi di telepon genggam, dengan akses yang jauh lebih cepat dan jangkauan yang jauh lebih luas.
Negara tentu tidak bisa menutup mata terhadap kondisi ini. Sebab, ketika masyarakat semakin bergantung pada utang untuk memenuhi kebutuhan dasar, maka sesungguhnya ada persoalan serius dalam distribusi kesejahteraan.
Pemerintah memang telah memperketat pengawasan terhadap pinjaman online ilegal. Namun, penindakan saja tidak cukup. Selama pekerjaan informal tetap mendominasi, upah tidak tumbuh signifikan, dan biaya hidup terus meningkat, masyarakat akan terus mencari jalan tercepat untuk memperoleh uang tunai.
Karena itu, solusi utama tetap berada pada penguatan ekonomi riil masyarakat. Negara perlu memperluas akses pekerjaan yang layak, memperkuat perlindungan sosial, serta menghadirkan sistem pembiayaan yang lebih sehat dan manusiawi bagi kelompok rentan.
Di sisi lain, industri teknologi finansial juga harus memahami bahwa inovasi tidak boleh semata mengejar pertumbuhan transaksi. Teknologi keuangan seharusnya membantu memperkuat daya tahan masyarakat, bukan justru memperbesar kerentanannya.
Pada akhirnya, maraknya pinjaman online bukan hanya cerita tentang kemajuan digital. Ia adalah alarm tentang kecemasan ekonomi yang sedang hidup di banyak keluarga Indonesia.
Dan ketika utang menjadi cara paling umum untuk bertahan hidup, bangsa ini perlu bertanya lebih serius: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar sudah menghadirkan rasa aman bagi rakyatnya?
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


