Oleh : Moch. Rokhis Wildan Al AshFidi
***
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan deretan pohon rindang, berdirilah sebuah rumah sederhana bercat putih bersih. Rumah itu milik keluarga Sari, sebuah keluarga kecil yang hangat dan penuh cinta. Setiap pagi, udara desa selalu segar dan harum oleh bau tanah basah dan bunga-bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan.
Hari itu, sinar mentari pagi mengintip malu-malu dari balik awan, menyebarkan cahayanya yang hangat dan lembut ke seluruh desa. Suara burung berkicau merdu menambah damainya suasana.
Di halaman rumah, Sari yang berusia sekitar sepuluh tahun sedang bermain kelereng bersama adiknya yang belum genap tujuh tahun. Mereka tertawa riang, saling berlomba memukul kelereng dengan sekali tolak agar kelereng lawan keluar dari lingkaran.
Sari adalah kakak yang penyayang dan selalu menjaga adiknya dengan hati-hati. Adiknya yang kecil, meskipun belum terlalu pandai bermain kelereng, sangat senang belajar dan selalu ingin mengikuti langkah kakaknya.
Sambil bermain, mereka berbicara tentang berbagai hal seru di sekitar desa—seperti katak di sawah, kupu-kupu berwarna-warni, dan hewan kecil yang sering mereka temui saat berpetualang di alam.
Keceriaan itu mengisi halaman rumah dengan suasana hangat dan penuh tawa, seolah-olah tidak ada yang bisa mengganggu kebahagiaan mereka.
Tiba-tiba, di arah pepohonan yang rimbun, seekor burung gagak hitam muncul dan terbang melintas tepat di atas rumah keluarga sari. Kepakan sayapnya yang lebar terdengar jelas di udara pagi yang tenang.
Sari berhenti bermain dan menatap burungitu dengan mata membulat. “Lihat, Kak! Burung itu burung gagak!” seru adiknya dengan suara kecil yang mulai gemetar.
Sari teringat cerita yang pernah diceritakan neneknya malam sebelum tidur. Ia pelan-pelan berkata, “Iya, aku ingat… nenek pernah bilang, kalau burung gagak terbang di atas rumah, itu pertanda akan ada sesuatu yang buruk, seperti ada yang akan meninggal.”
Adiknya langsung menarik tangan Sari. “Jangan-jangan itu benar, Sar… Aku takut,” katanya sambil menunduk.
Sari mencoba menguatkan adiknya. “Ah, jangan takut dulu. Mungkin itu cuma cerita lama yang nenek buat supaya kita lebih hati-hati saja. Nggak harus terjadi kok.”
Tapi burung gagak itu tidak segera pergi. Ia kembali terbang mengitari rumah mereka beberapa kali sebelum hinggap di sebuah dahan pohon dekat halaman.
“Kenapa burung itu gak pergi-pergi?” tanya adiknya dengan mata penuh rasa ingin tahu sekaligus cemas.
Sari menatap burung hitam itu, merasa ada sesuatu yang aneh tapi juga penasaran.
“Sar, aku mau ke dalam dulu ya, aku takut,” bisik adiknya sambil berpamitan pergi ke dalam rumah.
Sari hanya mengangguk, namun hatinya juga mulai merasa tidak tenang.
Sari berdiri di halaman sendirian, memandangi burung gagak yang masih hinggap di dahan pohon. Angin pagi mulai berembus lembut, membuat dedaunan bergoyang pelan. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit sunyi dan misterius.
Tak lama kemudian, orang tua Sari pulang dari sawah sambil membawa keranjang penuh sayur segar.
“Ibu, Ayah!” panggil Sari dengan suara sedikit gemetar, “Ada burung gagak yang terbang di atas rumah kita.”
Ibu Sari menatap burung gagak yang terbang entah ke mana, lalu mengelus kepala Sari dengan lembut. “Dulu nenek juga pernah bilang hal yang sama, tapi jangan langsung takut, Nak.”
Ayah meneruskan, “Hari ini nenek tetangga kita sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Jadi kita harus lebih banyak berdoa dan menjaga keluarga kita di rumah.”
Sari menghela napas lega. “Jadi, burung gagak itu bukan pertanda buruk buat kita?”
Ibu tersenyum, “Tidak selalu. Kadang itu cuma peringatan supaya kita lebih waspada dan selalu peduli dengan orang-orang di sekitar kita.”
Adik Sari yang tadi menakut-nakuti pun mengintip dari jendela dan tersenyum kecil.
Sari berusaha mengusir rasa takut dan mengajak adiknya keluar lagi bermain. “Ayo, kita lanjut main, jangan sampai burung gagak bikin kita sedih ya.”
Mereka bermain kembali dengan penuh semangat, dan burung gagak itu pun perlahan menghilang di balik pepohonan.
Malam hari pun tiba-tiba, suasana di rumah keluarga Sari terasa berbeda. Setelah makan malam, nenek datang berkunjung, membawa segelas teh hangat untuk Sari dan adiknya.
“Nenek dengar dari ibu kalian tadi tentang burung gagak yang terbang di atas rumah,” ujar nenek sambil duduk di kursi kayu dekat perapian.
Sari menatap nenek dengan penuh rasa ingin tahu. “Nenek, memang benar burung gagak itu pertanda buruk? Kenapa burung itu nggak pergi-pergi, nenek?”
Nenek terdiam sejenak, lalu berkata, “Dulu, cerita tentang burung gagak itu disampaikan oleh orang-orang tua supaya anak-anak lebih berhati-hati dan menjaga keluarganya. Tapi aku yakin burung itu bukan cuma membawa kabar duka.”
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan di pintu depan. Ayah bangkit dan membuka pintu. Seorang tetangga datang dengan wajah cemas.
“Pak, saya datang membawa kabar buruk. Nenek tetangga tadi malam meninggal dunia,” ucapnya lirih.
Keluarga Sari terdiam sejenak, suasana menjadi hening penuh haru. Sari memandang burung gagak di dahan pohon dari jendela, hatinya campur aduk. Ia mulai berpikir, apakah benar burung gagak itu pembawa pertanda?
Adik Sari mulai menangis kecil, merasa takut dan bingung. “Sar, kenapa burung itu datang ke rumah kita? Apa kita juga akan kehilangan seseorang?”
Sari ingin menghibur adiknya, tapi hatinya sendiri masih ragu dan takut. Ia sadar bahwa cerita tentang burung gagak bukan hanya sekadar mitos, tapi mungkin ada pesan yang lebih dalam di baliknya.
Nenek mencoba menenangkan mereka. “Kita harus kuat dan selalu menjaga satu sama lain. Burung gagak itu mungkin ingin mengingatkan kita untuk lebih peduli, bukan untuk membuat takut.”
Namun, ketidakpastian dan rasa takut mulai merayapi pikiran Sari dan keluarganya.
Hari-hari setelah kabar kematian nenek tetangga membuat suasana di rumah Sari berubah jadi tegang. Setiap orang seolah menyimpan kegelisahan dalam hati. Burung gagak yang dulu hanya muncul sesekali, kini sering terbang dan hinggap di dahan-dahan pohon tepat di atas atap rumah mereka.
Malam-malam pun terasa sunyi dan sedikit menyeramkan. Adik Sari yang biasanya ceria, kini beberapa kali terbangun dan menangis ketakutan karena mendengar suara gagak di luar jendela.
Suatu malam, saat Sari sedang membacakan cerita untuk adiknya, si kecil tiba-tiba berkata dengan suara gemetar, “Sar… aku takut burung gagak itu benar-benar membawa petaka. Kalau nanti ada yang meninggal di rumah kita, aku nggak mau.”
Sari menarik nafas panjang, berusaha menahan air matanya sendiri. “Kita nggak boleh takut, adik. Kita harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.”
Tapi hatinya sendiri mulai dipenuhi rasa was-was.
Suatu pagi, ibu Sari terlihat murung. Ia bercerita bahwa ayahnya, kakek Sari, mengidap sakit lama yang tiba-tiba kambuh. Keluarga Sari pun sibuk mengantarkan kakek ke puskesmas. Ketika mereka pergi, mereka melihat seekor gagak besar hinggap di atap rumah tetangga sebelah.
Ketika mereka kembali, burung gagak yang biasanya berkeliaran di rumah mereka kini tak tampak. Namun, kekhawatiran di hati Sari belum hilang.
Sari merasa beban semakin berat. Ia takut akan kehilangan orang yang sangat dicintainya. Malam-malam yang dilaluinya dipenuhi mimpi buruk dan bayangan burung gagak yang hitam kelam.
Suatu sore, saat Sari duduk sendirian di bawah pepohonan, ia bertemu Pak Lurah, kepala desa yang bijak. Pak Lurah tersenyum dan berkata, “Cerita burung gagak ini sudah lama beredar, tapi kita jangan sampai dikuasai rasa takut karena cerita itu.
Kadang burung gagak hanya bagian dari alam, bukan pesan kematian.”
Kata-kata Pak Lurah sedikit menenangkan hati Sari, tapi ketegangan di rumahnya belum hilang.
Anak-anak tetangga mulai berbicara tentang burung gagak dengan nada takut, membuat Sari merasa makin terisolasi dengan ketakutannya sendiri.
Puncaknya, suatu malam ketika kakek Sari jatuh sakit lebih parah, keluarga itu berkumpul di sekitar ranjang kakek. Hati Sari hancur melihat kakek yang dulu kuat kini terbaring lemah.
Saat itulah Rasa takut akan kematian dan tanda-tanda petaka dari burung gagak benar-benar menyergap.
Sari duduk di samping ranjang, memegang tangan kakek dan berbisik, “Tolong kuat, Kakek. Aku nggak mau kehilanganmu.”
Malam itu, suasana di rumah Sari dipenuhi doa dan harapan. Keluarga berkumpul di kamar kakek, berpegangan tangan sambil menunggu bersama. Sari yang selama ini dihantui ketakutan berusaha menguatkan dirinya sendiri dan adiknya.
Kakek membuka matanya perlahan, dan dengan suara lemah, ia berkata, “Jangan takut, anak-anakku. Hidup dan kematian adalah bagian dari perjalanan yang harus kita terima dengan ikhlas dan penuh kasih.”
Kata-kata itu membawa ketenangan yang tak terduga bagi Sari dan keluarganya. Mereka sadar bahwa rasa takut yang menghantui mereka selama ini berasal dari ketidakpastian dan kekhawatiran tentang hal yang belum pasti.
Keesokan harinya, burung gagak yang selama ini terbang di sekitar rumah tiba-tiba menghilang. Udara terasa lebih ringan dan suasana hati keluarga pun membaik.
Sari dan keluarganya mulai menjalani hari-hari dengan semangat baru. Mereka belajar untuk tidak membiarkan cerita-cerita lama tentang burung gagak membuat mereka takut atau cemas.
Nenek mengajarkan mereka, “Burung gagak itu bukan pembawa malapetaka, tapi pengingat agar kita selalu berhati-hati dan menjaga keluarga dengan penuh cinta.”
Sari mulai mengajak teman-temannya di desa untuk melihat burung gagak dari sudut pandang yang berbeda. Ia menceritakan bagaimana keluarganya belajar menjadikan burung gagak sebagai simbol perhatian dan kasih sayang, bukan sebagai tanda buruk.
Di halaman rumah, Sari dan adiknya bermain kembali dengan riang. Suara tawa mereka menggantikan kegelisahan yang dulu pernah ada.
Kini, setiap kali burung gagak terlihat terbang di atas rumah mereka, Sari dan keluarga tidak takut lagi. Mereka menganggapnya sebagai tanda untuk selalu menjaga dan mencintai satu sama lain.
Kisah tentang burung gagak pun berubah dari cerita menakutkan menjadi pelajaran berharga yang mengajarkan arti kekuatan keluarga dan kasih sayang dalam menghadapi ketidakpastian hidup.
******
Moch. Rokhis Wildan Al AshFidi
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


