Lovilia Sukma Wardiana Putri
*********
Sore itu, Hana duduk di kursi balkon kosnya, memeluk secangkir teh hangat yang uapnya tipis-tipis naik ke udara. Senja menggantung pelan di antara gedung-gedung, seolah enggan benar-benar pergi. ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi, Hana terkejut kecil. Sebuah pengingat muncul di layar; merevisi tugas akhirnya. Ia segera mengambil laptop.
Di layar, file skripsi terbuka dengan nama yang memalukan: BAB III Revisi Final Fix Ga Bohong.docx.
Isinya baru satu paragraph. Itu pun ditemani satu kalimat yang digarisbawahi merah karena salah ketik. Hana menyandarkan diri pada kursi dan mendesah panjang. Menatap layar kosong itu lama sekali.
“Aduh, skripsi ini,” gumamnya lirih. “sumpah ya, lebih keras kepala daripada mantan.”
Belum sempat ia merasa bersalah karena membandingkan tugas akhir dengan mantan, notifikasi WhatsApp berbunyi. Nadanya ceria, sama sekali tidak cocok dengan suasana hati Hana yang sedang seperti air got.
Pesan itu datang dari grup teman seangkatan.
“Guys, aku sempro Jum’at ini! Dateng yaaa~”
Disusul foto seorang teman berdiri manis sambil memegang map biru yang tampak baru, bersih dan menyilaukan.
Hana menatap layar dengan ekspresi antara ingin menangis dan ingin pindah negara. Kenapa semua orang seminar proposal minggu ini? Kenapa semua orang melaju seperti naik sepeda listrik, sementara ia masih mengayuh sepeda roda tiga?
Ia menutup wajah dngan kedua tangan.
“Semesta, aku salah apa?” gerutunya pasrah.
Belum lima menit berlalu, notifikasi dari Rara masuk.
“Hana, kamu kapan sempro? Ayo barengan, biar seru!”
Hana ingin membalas: Barengan? Aku mau bareng kalian semua, tapi Bab Tiga-ku masih bareng spasi kosong.
Malam itu, Hana mencoba kembali waras dengan membuat kopi saset. Dua bungkus sekaligus, karena katanya hidup tidak butuh keraguan, terutama soal kafein. Sayangnya, keputusan itu membuat jantungnya berdegup terlalu kencang, seolah ikut panic bersamanya.
Ia membuka laptop lagi. Kursor di Bab Tiga berkelip-kelip seolah mengejek. Hana mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Akhirnya, ia menyerah dan memilih keripik dan media sosial sebagai pelarian sementara – mencari inspirasi, katanya.
Musik pop kesukaannya mengalun pelan dari speaker laptop. Matanya terasa berat. Tanpa sadar, Hana tertidur dengan laptop masih menyala dan Bab Tiga yang tetap sama: kosong.
Getaran ponsel kembali membangunkannya. Pesan dari Rara teman dekatnya di kelas.“Hana, tolong makeup-in aku ya pas sempro nanti!”
Disertai foto map biru.
“Ra,” gumam Hana, “Map biru itu lebih sering aku lihat belakangan ini daripada wajah dosen pembimbingku.”
Belum selesai ia mengeluh, terdengar ketukan pintu disertai suara cempreng dari luar yang terlalu bersemangat untuk pagi hari.
“Hanaaa! Bangun! Aku masak banyak. Lagi happy nih!”
Hana tergopoh-gopoh. Ia membuka pintu kamar dengan mata setengah terbuka. Rupanya Sasa, teman satu kosnya Hana yang ia juga mahasiswa akhir sama seperti Hana.
“Eh Sasa, kenapa? Ada apa?”
Sasa tersenyum lebar“Tahu ngga? Minggu depan aku sempro!”
“Wah, selamat, Sa!” Hana memeluknya, berusaha setulus mungkin meski dadanya terasa sedikit nyeri. “Kapan ya aku bisa nyusul…”
“Kamu belum sempro juga?” Sasa langsung paham.
Mereka duduk di lantai kamar Hana sambil menyantap nasi goreng special buatan Sasa. Dua perempuan yang seharusnya menulis skripsi, justru sibuk menukar keluh kesah hidup.
“Dosen pembimbingku belum membalas pesan,” ujar Hana pelan.
“Belum sama sekali?”
“Belum. Centang dua abu-abu, itu hubungan kami sekarang.”
Sasa tersedak makanannya lalu ia tertawa getir.
“Han, itu bukan hubungan. Itu ghosting akademik.”
“Ghosting paling menyakitkan,” sahut Hana dramatis, “adalah ghosting dosen pembimbing.”
Senin pagi, Hana bersiap lebih awal. Bukan untuk ke kelas, melainkan memenuhi janji pada Rara yang hari itu seminar proposal.
Di kos Rara, Hana merias wajah temannya dengan tangan cekatan. Foundation tipis eyeshadow cokelat muda, lipstik nude, ia bekerja dengan teliti, meski pikirannya terus melayang pada Bab Tiga yang belum selesai.
“Han, kamu nggak apa-apa? Kenapa diam saja?” Tanya Rara sambil memejamkan mata saat Hana mengaplikasikan eyeshadow.
“Nggak apa-apa, aku baik-baik saja Raa,” bohon Hana. “Sekarang nggak usah banyak bicara, nanti riasannya belang.”
Lima belas menit kemudian, riasan selesai. Rara menatap cermin dengan mata berkaca-kaca.
“Han… ini bagus banget. Makasih ya. Aku nggak tahu harus balas gimana.”
Hana tersenyum tipis, “Nggak usah dibalas. Nanti kalau aku sempro, kamu yang rias aku. Deal?”
“Deal!” Rara memeluknya erat.
Mereka berangkat bersama ke kampus. Di ruang siding, Hana duduk di barisan paling belakang. Ia menyaksikan Rara tampil percaya diri di depan dosen penguji. Map biru tergeletak di meja. Proyektor menyala. Presentasi berjalan lancar.
Ia bertepuk tangan saat Rara dinyatakan lulus seminar proposal. Ada bahagia untuk temannya, tapi juga luka kecil yang diam-diam menganga di dadanya sendiri.
Siang itu, Hana betekat menemui bu Ani, dosen pembimbingnya. Ia berkeliling kampus, dari perpustakaan hingga kantor kemahasiswaan. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda.
Ia duduk di gazebo dan membuka laptop. Jari-jarinya mulai menari di atas papan ketik. Satu kalimat terbentuk. Dua kalimat, lalu listrik padam.
“Ya Tuhan!” Hana menjerit frustasi.
Ia bergegas kembali ke kos, berharap ada koneksi internet di sana. Tapi nasib berkata lain, di kos juga mati lampu. Pemadaman bergilir, rupanya. Hana menatap ponselnya dengan putus asa. Ia membuka WhatsApp, mengetik pesan untuk Bu Ani.
“Assalamu’alaikum, Bu. Mohon maaf mengganggu waktunya. Kira-kira kapan saya bisa bertemu Ibu untuk bimbingan skripsi?”
Pesan terkirim. Centang dua abu-abu. Hana melempar ponselnya ke kasur dan menutup wajah dengan bantal.
Satu jam kemudian, listrik menyala lagi. Hana langsung menyalakan laptop dengan semangat seperti orang yang baru menang undian. Kali ini, ia serius. Ia menulis, menghapus, menulis lagi. Perlahan kalimat demi kalimat terbentuk.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif…
Satu paragraph selesai. Lalu dua paragraf. Lalu tiga paragraf.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. Hana merasa kepalanya tidak kosong seperti tabung gas habis. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Getaran yang berbeda. Getaran yang membuat jantung ikut berdebar.
Pesan dari Bu Ani masuk.
Hana menarik napas dan menghembuskannya perlahan, lalu membuka pesan itu dengan tangan gemetar.
“Besok jam 13.00 kita bimbingan. Bawa Bab Tiganya ya!”
Hana berdiri dari kasurnya. “Aaaa!”
Sasa yang mendengar teriakan Hana, berlari dari kamarnya. “Hana! Kenapa? Ada apa?!”
“Saaa! Bu Ani balas!” Hana memeluk Sasa seperti orang yang baru bertemu idolanya. Kebahagiaan itu meluap-luap. Hana hamper ingin membalas dengan “Terima kasih atas balasan yang indah ini, Bu”, tapi ia tahan. Terlalu dramatis.
Keesokan harinya, Hana datang ke kampus mengenakan kemeja sedikit kebesaran. Riasan seadanya, rambut dicepol asal. Di tangannya, map skripsi dipeluk erat seperti memeluk masa depan. Di depan ruang dosen, ia menunggu sambil mengatur napas.
Bu Ani membaca Bab 3-nya dengan alis naik-turun. Dada Hana naik-turun lebih cepat. Setelah membaca lima menit yang terasa seperti lima tahun, Bu Ani menutup berkas.
“Hana, ini… sudah ada bentuknya.”
Kalimat itu terdengar seperti pengumuman lulus SNBT.
“Serius, Bu?” Hana hamper berdiri, tapi ingat sopan santun.
“Masih perlu revisi di bagian analisis, tapi kamu bisa kejar sempro minggu depan.”
Hana merasa dunia berhenti berputar. “Minggu depan… saya bisa sempro?”
“Iya. Asal kamu selesaikan revisinya sebelum Jum’at.”
Hana hamper menangis. “Bu… terima kasih banyak!”
Sore itu, Hana pulang dengan langkah paling ringan dalam hidupnya. Kemeja kebesaran, riasan luntur, dan rambut acak-acakan tidak mengurangi kepercayaan dirinya.
Sesampainya di kos, ia menemukan Sasa sedang duduk di lantai sambil makan roti tawar langsung dari bungkusnya.
“Hanaaa! Bagaimana bimbingannya?”
Hana meletakkan map sambil tersenyum lebar. “Aku…. Sempro! Minggu depan.”
Sasa menjerit sambil memeluknya. “Yes! Akhirnya kita barengan!”
Mereka tertawa. Tertawa keras. Tertawa seperti orang yang akhirnya melihat cahaya di ujung terowongan panjang penuh revisi dan penolakan.
Malam itu, Hana membuka laptopnya lagi. Kali ini dengan kepala lebih dingin, emosi lebih stabil, dan semangat yang menggebu. Ia mengetik dengan senyum kecil.
Untuk pertama kalinya. Skripsi tidak lagi terasa seperti musuh bebuyutan. Ia bukan lagi mahasiswa yang tertinggal. Ia bukan lagi mahasiswa yang hanya menerima undangan sempro orang lain. Karena minggu depan, undangan itu miliknya sendiri.
Dan Hana akhirnya percaya bahwa semua kekacauan, panic, listrik mati, ghosting dosen, dan map biru teman-teman… semuanya adalah bagian dari cerita kemenangan kecil yang akan ia kenang selamanya. Sebuah cerita yang tidak ia pesan, tapi ternyata sangat ia butuhnkan.
Lovilia Sukma Wardiana Putri
Jombang, Jawa Timur
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


