
Reporter : DK. Habibun
Probolinggo-Harianjatim.Com. Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama Paiton, Probolinggo (MWCNU) kembali mengadakan kegiatan Forum Tadarus Kitab yang disingkat dengan FORTAK, Rabu malam (11/08/21) di kediamaan Kiai Mahrus Kholil Pondok Pesantren Darul Ulum Paiton, Probolinggo.
Terbentuknya forum tadarus kitab ini bermula dari keresahan Majelis Wakil Cabang NU Paiton melihat gerakan radikalisme yang menyebar diberbagai pelosok desa terutama di kecamatan paiton.
“Awal mula forum tadarus kitab (Fortak) menjadi salah satu agenda penting MWCNU Paiton, pada saat itu, kita telah melihat semaraknya gerakan radikalisme yang telah masuk menyasar desa-desa, terutama di kecamatan paiton,” kata Ustaz Syamsuri Hasan Wakil Ketua Tanfidziyah MWCNU Paiton.
Pertama-tama kitab yang kita kaji adalah Bidayatul Mujtahid terus di ganti kitab Tafsir Ahkam dan selanjutnya kitab Mafahim Antushahhah hingga sekarang,” imbuhnya.
Hal yang sama disampaikan Ustaz Barzan Ahmadi Rois Syuriah MWCNU, Fortak ini telah berjalan kurang lebih 10 tahun dan mengkaji kitab yang dibutuhkan sesuai dengan kepentingan untuk menangkal paham radikal yang telah mengganggu kegiatan keagamaan yang telah berjalan di masyarakat NU.
“Fortak ini telah berjalan kurang lebih 10 tahun. Semoga terus istikamah,” pungkasnya.
Sedangkan bab yang di bahas tadi malam (rabu, 11/08) sangat menarik karena membahas tentang hadits Nabi Muhammad yang mengatakan surga ada di telapak kaki ibu.
Hadits ini seringkali di pahami kurang tepat oleh minhum dan menjadikannya sebagai bahan kritikan. Padahal mereka belum memahami maksud dari hadits ini secara baik dan benar,” kata Ustaz Hasan Basri
Pokoknya seru sekali pembahasan malam ini,” kata Ustaz Suherdiyansah.
Selanjutnya, Ustaz Barzan Ahmadi Rois Syuriah MWCNU Paiton berharap forum tadarus kitab terus aktif melakukan kajian kitab mafahim, tadi malam selesai kajian para pengurus telah menyepakati waktu kajian secara rutin, yaitu setiap malam kamis bertempat di kantor MWCNU Paiton.
Kita ingin dengan adanya kegiatan fortak memperkaya wawasan untuk menjaga khazanah keilmuan. Lebih-lebih kitab yang kita bahas sebagai bahan untuk bisa menghadapi paham-paham yang telah mengusik kita,” kata Ustaz Mustafa Syukur.

