Mengenal Kesenian Sintong yang dapat Sertifikat WBTb dari Kementrian

  • Bagikan
Kesenian Sintong (Foto : Webset Pemerintah Kabupaten Sumenep)

Harianjatim.com – Salah satu kesenian tradisional di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur mendapat sertifikat Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tahun 2021.

Penyerahan sertifikat WBTb 2021 dilakukan Gubenur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Achmad Fauzi

Kesenian tradisional Sintung atau Sintong masih mengundang kontroversi banyak orang mengenai akar sejarahnya. Dari mana asal kesenian yang kini hidup di Kecamatan Ambunten itu masih belum pasti. Penyebabnya tidak ada literatur tertulis yang sifatnya kuna dan otentik. Yang ada hanya riwayat lisan, yang turun tidak hanya dari satu kepala, ke banyak kepala lainnya.

“Riwayat lisan bisa jadi lemah. Karena tergantung pada ingatan yang meriwayatkannya. Apalagi jika yang bersangkutan bertambah usia. Penerima riwayat dari perawi kala usianya masih muda, bisa jadi tidak sama isinya dengan penerima riwayat lain saat perawi di usia tua,” kata R B Muhlis, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep pada Media Center beberapa waktu lalu.

Menurut salah satu pemerhati sejarah Sintung, Faiqul Khair, setidaknya ada lebih dari dua versi tentang asal-usul Sintung. Salah satu versi menyatakan kesenian Sintong dibawa oleh sunan Muria, namun ini belum pasti juga, karena di kalangan Wali Sanga, Sunan Muria konon dikenal sebagai sosok yang sangat anti terhadap musik. Tokoh Wali Sanga yang menggunakan dan mengkombinasikan musik dalam dakwahnya adalah Sunan Kudus. “Ini lebih mungkin, karena keturunan Sunan Kudus justru paling banyak di Madura khususnya Sumenep,” kata tokoh muda di Parongpong ini.

Cerita lain, tambah Faiq, panggilan pria lajang ini, kesenian Sintong diambil dan dibawa ke Sumenep oleh salah satu orang Kampung Prongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk antara abad ke 17-18 yang menjelajah Aceh, Minang hingga Riau dalam sebuah ekspedisi perang. “Kemudian setelah beliau pulang ke Prongpong, mengajarkan hal itu hingga menjadi tembang rutin yang terus berkembang seperti halnya Saman dan Sandur,” tambahnya.

Sementara menurut Budayawan Madura, Syaf Anton, kehidupan seni tradisi bisa hidup dan berkembang di mana saja dan selalu terkait dengan seni tradisi di luarnya. Seni tradisi tidak bisa hidup tanpa pengaruh kekuatan tradisi lain. Bahkan dalam folklore Madura pun, kebanyakan pengaruh dari tradisi di luarnya. Jadi pendapat apa dan bagaimana kehidupan seni tradisi menurutnya bisa saja diklaim oleh siapapun. Karena wilayah terdekatnya saling mempengaruhi.

“Jadi tentang Sintung bisa saja muncul di mana saja, meski beda nama. Yang kami perhatikan langsung dulu, gerak tari/rudat Sintung mirip dengan tari Saman Aceh. Ada perbedaan mencolok penampilan para sesepuh Sintung dengan salah satu video latihan sintung yang diupload di medsos baru-baru ini, khususnya dalam gerak tangan. Dan yang kami perhatikan saat itu tampilan Sintung sangat indah, dinamis, ritmis dan harmonis.Yang bermain pun rata-rata dalam usia tua,” kata suami Lilik Rosida Imawati, penulis buku “Berkenalan dengan Kesenian Madura”(2014), yang di dalamnya memuat tentang bab Sintung. 

Baca Juga :

(Jd/Wait)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Create a self growing dr65+ ai blog with weekly content updates. Booking todo incluido ofertas al caribe.