Gus Yahya dan NU

  • Bagikan

Penulis : Ponirin Mika*

Muktamar Nahdlatul Ulama telah selesai di gelar pada 25 Desember 2021 di Lampung. Hajatan 5 tahunan masyarakat NU ini merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu oleh sejuta pasang mata masyarakat nasional maupun internasional. Kita sama-sama mafhum bahwa organisasi yang didirikan Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari ini memiliki aura yang sangat luar biasa, baik bagi perkembangan keagamaan, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik.

NU terus ikut andil memberikan kontribusi bagi keberlangsungan hidup bernegara yang baik. Keistikamaannya hingga saat ini belum surut dalam menyebar luaskan paham-paham yang sesuai dengan ajaran rasulullah SAW yang sangat realistis. Fikroh moderatnya menjadi solusi bagi keganasan paham-paham yang akan merongrong nasib masyarakat di dalam menjalankan aktifitas keagamaan dan menjalani hidup yang menjunjung tinggi bangsa dan negara dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tentu warna NU dalam menjalankan fungsinya sebagai organisasi sosial keagamaan akan terus mendapatkan hati ditengah-tengah masyarakat. NU bukan hanya karena didirikan oleh para alim di bumi nusantara melainkan NU terus menerus hadir pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dari begitu pentingnya ber-NU, ada goyunan dari masyarakat kangean “agamana sengkok ya NU” perrnyataan ini tidak bisa ditafsiri dengan logika sederhana agar tidak menganggap orang yang mengatakan demikian menjadi orang yang murtad. Pernyataan itu lebih kepada sikap kebanggaanya pada NU, karena baginya NU adalah nafas juang.

Kembali kepada muktamar 34 kemarin. Dunia menyaksikan perjalanan intektual dan adab yang tengah mewarnainya. Dimana kiai-kiai sepuh yang saling menghormati satu sama lain, dan tidak ada egoisme yang dipertontonkan. Inilah sebenarnya cerminan masyarakat kita yaitu Indonesia. Bangsa yang memiliki adab dan intelektualitas yang tinggi sehingga negara-negara luar sangat menyeganinya.

Akhlak dan budi pekerti yang rupawan ini menggambarkan keistimewaan ilmu. Orang-orang yang terlahir dari kultur pesantren dan budaya nenek moyang di nusantara ini telah menunjukkan kualitasnya pada dunia, yang seakan-akan ingin mengabarkan bahwa inilah adab kami yaitu adab nusantara.

Dan pada akhirnya pada muktamar 34, Gus Yahya terpilih menjadi nahkoda NU untuk 5 tahun mendatang menggantikan Abuya Kiai Said Aqil yang telah menahkodai NU 10 tahun. Pergantian kemimpinan PBNU dari kiai said ke gus yahya memberi sinyal agar masyarakat memahami bahwa pada setiap organisasi jabatan harus dipergilirkan asal yang menggantikannya memiliki visi-misi untuk membawa organisasi kerah yang lebih baik. Siapa yang meragukan kealiman kiai said aqil begitu pula siapa yang meragukan kealiman gus yahya. Menjadi pimpinan NU bukan sesuatu yang mudah atau gampang, karena di dalamnya di isi oleh para alim-ulama. Para alim yang telah memiliki keilmuan dan adab yang luhur, dan memiliki ketakwaan kepada Allah yang sangat luar biasa.

Terpilihnya gus yahya menjadi ketua umum PBNU adalah angin segar bagi anak-anak muda NU untuk lebih memaksimalkan potensi dan perjuangannya di NU, sebab para sesupuh NU tidak menutup akses bagi anak muda NU yang memiliki kecakapan, keilmuan, dan komunikasi yang baik untuk memimpin di tubuh NU.

Saat ini semua tau, bahwa NU organisasi yang terbuka bagi kadernya untuk melakukan perjuangan dan memilih posisi juang sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan. Bagi NU gus yahya hadir dengan gagasan NU harus memikirkan dan berkontribusi bagi peradaban dunia.

Selamat Gus….

*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, Dewan Pakar Forum Pemuda dan Mahasiswa Gelaman.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Exact matches only. Enter address information (edit). Bienvenido a la sección dedicada a cayo santa maria :.