
Oleh : Ponirin Mika*
Banyak ulama nusantara yang gigih berjuang mempertahankan nasib bangsa Indonesia dari cengkeraman para penjajah. Salah satu diantaranya adalah ulama kharismatik KH. Zaini Mun’im pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ia sosok yang tidak hanya allamah dalam ilmu-ilmu agama, ekonomi, sosial dan politik. Juga ia adalah seorang pemberani yang tak pernah merasa takut menghadapi keberingasan para penjajah.
Dalam perjuangannya, Kiai Zaini menjadi ulama yang diperhitungkan oleh penjajah Belanda, dan bahkan keberadaannya menjadi ancaman bagi niat jahat para penjajah bahkan Belanda menganggapnya sebagai orang yang berbahaya. Sebab menurut Belanda, Kiai Zaini mampu mempengaruhi dan dan menggerakkan rakyat untuk melawan para penjajah. Dengan kegigihan dan keberaniannya mengantarkannya dimasukkan penjara selama tiga bulan, dan setelah itu dikembalikan ke desa Karanganyar, Paiton, Probolinggo tempat beliau bermukim.
Sebenarnya kedatangan Kiai Zaini ke pulau jawa pada 10 muharram 1948 tidak lepas dari keserakhan dan kekejaman belanda, karena Belanda ingin menangkap Kiai Zaini dan ingin menghentikan perlawanannya yang menghalangi kebiadaban para penjajah pada bangsa Indonesia. Kiai Zaini bukanlah sosok yang mudah di rayu atau dijinakkan dalam melaksanakan perjuangannya. Ia memiliki prinsip yang sangat kuat dengan memegang semboyan” merdeka atau mati”. Hal ini pula yang menjadi pembakar semangat para santri-santrinya dalam berdakwah untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kiai Zaini dan Pemberdayaan Umat
Setelah sepulang dari penjara, Kiai Zaini mengasuh santri-santrinya yang sedang menunggu kedatangannya. Sejak itulah Kiai Zaini membimbing santri-santrinya yang mulai berdatangan dari berbagai daerah. Keinginan untuk bergabung dengan teman-temannya di pedalaman Yogyakarta diurungkan demi mendidik santri di Pondok Pesantren yang ia asuh.
Adalah KH. Muwafiq Amir salah satu santri beliau berasal dari Banyuangi mengungkapkan bahwa Kiai Zaini adalah sosok pengajar yang luar biasa, telaten dan bahkan terkadang tidak sungkan-sungkan mengoreksi jika ada kesalahan teks dalam kitab kuning yang beliau ajarkan pada santri-santrinya. Beliau (kiai zaini) itu ulama yang sangat alim (wawancara saya Bersama beliau saat harlah ke 71). Meskipun mendidik santri-santrinya, Kiai Zaini tidak melupakan nasib masyarakat terlebih dalam persoalan ekonomi.
Tidak hanya sebagai pendidik, Kiai Zaini memiliki kepedulian terhadap kondisi kemiskinan dan ketebelakangan masyarakat. Karakter keperdulian ini tercermin dari Pondok Pesantren yang didirikannya, yaitu memiliki kepedulian yang tinggi untuk ikut andil dalam mengelola dan menciptakan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tentu dakwah yang dijalankan Kiai Zaini disamping memberikan pemahaman berkait agama agar masyarakat mempunyai kesadaran agama yang tinggi, pun Kiai Zaini memberikan wawasan keilmuan berkait dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Secara pelan-pelan kesadaran masyarat mulai terbangun dari hari ke hari. Kondisi masyarakat Tanjung sangat bergantung pada alam. Mereka menganggap bahwa jika alam tidak lagi mampu memberikan rezeki maka ia tidak akan bisa makan, dan biasanya mereka pindah ke tempat lain, diantaranya pilihan tempat mereka adalah pinggiran laut.
Sedangkan tanah yang ada dikuasai oleh segelintir orang yang itu bisa disebut orang-orang yang berduit.
Dengan terus menerus memberikan penyadaran akan pentingnya mengelola tanah, Kiai Zaini berhasil membuat masyarakat Tanjung memiliki kesadaran yang sangat tinggi menjadi petani yang mampu mengangkat kehidupan ekonominya.
Suatu ketika saya pernah berbincang-bincang bersama masyarakat Tanjung, Karanganyar, Paiton, Probolinggo tentang sosok Kiai Zaini. Mereka mengatakan bahwa perjuangan Kiai Zaini dalam mengembangkan ekonomi masyarakat tanjung dirasakan hingga saat ini, yaitu adanya tanaman tembakau.
Menurutnya, andai saja tidak karena Kiai Zaini orang-orang tidak akan bertani tembakau, beliau sangat peduli terhadap kondisi masyarakat setempat. Kiai Zaini adalah sosok kiai yang menginkan para santri-santrinya tidak hanya memikirkan dirinya semata, namun harus mampu melihat problematika keummatan dan ikut bergerak untuk menyelesaikannya.
Lintingan Rokok dan Tafsir Jalalain
Ada yang mengatakan Kiai Zaini perokok, hanya saja tidak perokok berat. Beliau hanya merokok di dhalemnya dan saat ada tamu. Diluar itu beliau tidak merokok.
Sebaliknya ada juga yang mengatakan bahwa Kiai Zaini adalah perokok. Dan beliau merokok dengan tembakau tidak pernah merokok sigaret kretek. Tembakau pun bukan sembarang tembakau, melainkan tembakau ternama berasal dari Kepulauan Madura. Tembakau itu dikenal dengan tembakau jambangan atau campalok hasil dari tanaman tembakau petak tanah tegalan di ujung barat Kecamatan Karduluk, Sumenep, Madura.
Bukti bahwa beliau perokok disampaikan KH. Zainul Mu’in Husni, suatu ketika di bulan Ramadhan, saat membaca khataman kitab tafsir jalalain di masjid pesantren. Kiai Zainul Mu’in melihat Kiai Zaini membawa lintingan rokok tembakau, dan tentu beliau tidak merokok karena bulan puasa dan di masjid pula. Menurutnya sesekali Kiai Zaini menciumi lintingan rokok tersebut dan tampak menikmatinya.
Walhasil, Kiai Zaini berhasil menciptakan masyarakat Tanjung menjadi masyarakat yang mencintai pertanian, salah satunya tembakau. Sehingga tembakau milik masyarakat Tanjung terkenal dan menasional. Ini tidak lepas dari salah satu gerakan dan perjuangan Kiai Zaini, hingga saat ini masyarakat Probolinggo menikmatinya. Kepada beliau, Alfatihah.
*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Probolinggo dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.


