Oleh : Ponirin Mika*
Seorang kiai yang sangat alim dalam ilmu agama merupakan hal yang biasa. Tapi tak semua kiai memiliki keahlian dalam mengelola sebuah organisasi. KH. Abdul Wahid Zaini Pengasuh ke III Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo adalah seorang kiai yang memiliki kecakapan dalam mengelola sebuah organisasi. Selain memiliki keilmuan agama yang sangat tinggi (alim), Kiai Wahid mampu menjadi teknokrat sejati.
Putra kedua dari Kiai Zaini Mun’im ini sangat aktif di berbagai macam organisasi. Selain daripada itu, Kiai Wahid mempunyai pemikiran maju pada zamannya berkait tentang pendidikan dan kepesantrenan.
Pada saat Kiai Wahid menjadi santri di Pondok Pesantren Darul Ulum, beliau turut memikirkan pesantren. Kala itu, beliau pernah menggagas tentang berdirinya Ikatan Keluarga Darul Ulum (IKDU), organisasi ini didirikan sebagai wadah bagi santri diberbagai daerah guna untuk memberikan sumbangan, baik berupa pemikitan dan lainnya, demi sebuah kemajuan pesantren.
Semenjak tamat di sekolah tingkat SLTA, Kiai Wahid melanjutkan jenjang pendidikannya di Perguruan Tinggi, yaitu Institut Agama Islam Sunan Ampel Surabaya. Di sini beliau memilih masuk Fakultas Syari’ah dan memilih jurusan Akhwal As-Shaksyiah. Pada saat bersamaan itu pula, Kiai Wahid menyempatkan diri kuliah di Universitas Darul Ulum, Jombang pada Fakultas Hukum.
Selain menekuni dunia akademik, Kiai Wahid terjun dalam dunia organisasi, beliau termasuk perintis berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan beliau dipercaya sebagai ketua komisariat untuk lingkungan kampus IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Selanjutnya, Kiai Wahid dipercaya sebagai sekretaris dan ketua satu untuk Wilayah Jawa Timur. Selain aktif di PMII beliau juga menempa keorganisasiannya di Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Wilayah Jawa Timur, dan dipercaya sebagai coordinator departemen mahasiswa dan perguruan tinggi wilayah Jawa Timur.
Wahid muda aktifitasnya semakin padat. Saat itu, selain menjadi Rektor Institut Agama Islam Nurul Jadid (IAINJ) di Paiton, Probolinggo, beliau juga dipercaya menjadi anggota DPRD Jawa Timur melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Kiai Wahid Aktif di Berbagai Organisasi
Perjuangan Kiai Wahid di NU diawali dengan ajakan kakaknya, Kiai Moh. Hasyim Zaini dan adik iparnya, Kiai Hasan Abdul Wafi, untuk ikut aktif mengikuti kegiatan di organisasi NU. Mulanya, Kiai Wahid aktif di Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Paiton. Selanjutnya, beliau di beliau dipercaya menjadi Ketua Umum Tabfidziyah Pengurus Cabang NU Kraksaan, beliau juga pernah menjabat Wakil Khatib Syuriah di PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur dan selanjutnya menjadi salah satu Ketua Tanfidziyah PBNU melalui muktamar ke 29 di Cipasung Jawa Barat tahun 1994. Sejak menjadi pengurus PWNU Jawa Timur, Kiai Wahid telah banyak mengeluarkan gagasan demi kemajuan NU. Diantaranya adalah; pertama, beliau berharap agar kantor PWNU dalam setiap harinya diisi oleh satu pengurus NU sehingga kantor PWNU bisa difungsikan sebagai tempat konsultasi, menampung aspirasi masyarakat sekitar, dan melayani kepentingan masyarakat NU. Kedua, dalam setiap periode NU harus memiliki program prioritas dan benar-benar bisa dijalankan secara optimal, tanpa harus menghilangkan program yang lain. Program ini harus sistematis dan berkesinambungan agar masyarakat NU dapat merasakan program NU dari period eke periode berikutnya. Ketiga, beliau memikirkan tentang peta jamaah NU, baik yang ada di pedesaan maupun di perkotaan. Dengan pet aini diharapkan agar para pengurus NU mengetahui basis NU berada di daerah manapun, dan lebih dari itu pengurus NU mengetahui sosio-kultur dan kebutuhan warga NU di setiap daerah.
Bahkan banyak ide-ide Kiai Wahid yang tidak sempat dimunculkan pada forum-forum resmi pengurus NU, namun beliau menyampaikannnya pada diskusi-diskusi kecil saat berbicang-bincang santai dengan pengurus NU lainnya. Selain itu, Kiai Wahid berjuang di Lembaga bKajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat (LAKPESDAM), beliau dipercaya sebagai direkturnya untuk wilayah Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur. Selama di Lakpesdam, Kiai Wahid acapkali menyelenggarakan pelatihan peningkatan kualitas SDM terhadap pengurus cabang NU se-Jawa Timur, yang diisi para kiai dan tokoh masyarakat. Adapun materi yang disampaikan adalah keorganisasian, manajemen dan kepemimpinan. Sementara narasumber yang beliau hadirkan dari tokoh-tokoh nasional, seperti Gusdur dan Dr. Syaifuddin Zuhri, MM. Billah dan lainnya. Pada pelatihan itu, Kiai Wahid berharap nantinya mereka menjadi kader NU yang mumpuni bisa turut mengembangkan dan memajukan NU menjadi organisasi besar dan professional, Ketika menangani Lakpesdam Kiai Wahid memiliki keinginan besar agar Lakpesdam independent dan tidak bergantung pada NU soal pendanaannya, sebagai program prioritas membangun SDM terlebih dahulu daripada membangunfasilitas fisik, sebagai jam’iyah maka program-programnya harus membumi (kongkrit).
Semasa berjuang di Rabithatul Ma’hadil Islamiyah dan menggagas lahirnya Ma’had Aly, Kiai Wahid Zaini memiliki pemikiran maju kedepan. Maka dengan itu, Kiai Wahid mendapatkan sebutan sebagai ulama intelektual dari Mendiknas Malik Fajar. Kelebihannya tidak hanya disitu, Kiai Wahid sangat lincah menjadi mediator konflik pemikiran antara pengurus NU yang sepuh-sepuh dengan kalangan anak muda NU. Lebih-lebih beliau mampu mempersatukan dua gagasan tersebut.
Sebagai pengasuh di Pesantren Nurul Jadid, Kiai Wahid pernah melontarkan ide bahwa pondok pesantren harus menjadi basis kader untuk pengembangan NU ke depan. Sebagai pengasuh pesantren, Kiai Wahid juga memikirkan pengembangan pendidikan dan teknologi, hingga kemajuan pendidikan pesat di bawah tangan dinginnya.
Sebagai sosok kiai yang bergelut di dunia aktivis, Kiai Wahid juga tak pernah lupa memperjuangkan kemandirian masyarakat sekitar pesantren untuk digalakkan. Melalui Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM) antara lain mendirikan Unit Simpan Pinjam (USP), guna membantu para petani tembakau dan juga memberikan pendampingan pada mereka. Ide ini muncul karena petani tembakau di sekitar Paiton tidak memiliki posisi kuat di hadapan para pengambil kebijakan. Padahal tembakau merupakan sumber utama ekonomi masyarakat Paiton.
Di bawah kepengasuhannya, Pesantren Nurul Jadid merintis berbagai usaha agrobisnis berupa penanaman tanaman bervariasi, usaha yang lain seperti peternakan, perikanan dan juga membantu pelayanan Kesehatan masyarakat. Dan Kiai Wahid pula yang mendirikan panti asuhan untuk menampung anak-anak dari kalangan lemah di Pesantren Nurul Jadid.
Kiprahnya Kiai Wahid menjadi teknokrat sejati perlu ditiru.
*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Probolinggo dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.


