Pasuruan, sejak zaman orde baru, politikus di DPR masih didominasi para senior dan orangtua. Nama mereka tenar. Sudah kawakan lantaran malang melintang di dunia politik. Kala itu anak muda jadi anggota dewan adalah sebuah keniscayaan. Hampir tidak ada. Sulit tembus seleksi. Alasan santer terdengar masalah fulus. Bikin jalan mereka tak mulus.
Urusan duit harus disadari menjadi kendala penting. Alat perjuangan untuk bertemu calon pemilih. Sekaligus untuk membeli perlengkapan kampanye. Beragam cara dilakukan demi menekan pengeluaran. Caleg muda selalu punya cara sendiri. Murah dan sederhana serta inovasi
Ragam cara dilakukan anak muda bersaing dengan para senior. Bertarung di dapil bukan hal mudah. Anak muda harus pintar ambil celah. Tak mau pakai cara lama. Semua dipakai politisi lama sudah usang. Mereka justru lebih semangat.
Dengan kondisi fisik masih segar bugar, semua dilakoni. Ide cemerlang pun muncul. Seperti dilakukan caleg dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) , Gisky Fernanda. Anak Muda asli Pasuruan ini memang menarik banyak pemilih dari milenial dan kaum ibu.
Bagi laki-laki muda ini, tidak mudah bisa menang di dapil itu. Sebab harus bersaing dengan caleg lain lebih berpengalaman yang hari ini menduduki kursi dewan.
Meski harus bersaing dengan senior, gisky tetap optimis bisa lolos ke DPRD Jatim. Sebab, selama ini jauh jauh hari, dia datang langsung menemui konstituen. Hal ini dianggap cara paling efektif untuk menarik perhatian dan membuat pemilih menjatuhkan pilihan pada dirinya.
Sebagai generasi milenial, sudah selayaknya tahu mengenai banyak teknologi. Kemudahan mengakses internet harus dimanfaatkan betul. ini menjadi senjata lain para caleg muda. Selain dirasa ampuh, juga hemat biaya.
Bro Gizky menambahkan “Menang pemilu tidak instan, semua harus dilakukan dengan baik dan bertahap tetapi saya optimistis 2024 akan banyak anak-anak muda yang menduduki kursi Legislatif maupun eksekutif” Terang sekjen PSI kab. Pasuruan


