Reporter: Ahmad Fauzi
Bojonegoro, -harianjatim.com, Berkarir sebagai Kepala Sekolah di SDN Mojorejo, Kedungadem Bojonegoro, tidak lantas membuat Junaidi Agus Salim, 41 tahun melupakan kewajibanya untuk mensyukuri nikmat sehat dengan menjaga pola asupan makanan yang bergizi dan rajin berolahraga. Sejak dirinya terdaftar menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tahun 2008, ia mengaku kerap sekali menggunakan layanan JKN-KIS terutama saat istrinya melahirkan sesara sesar di rumah sakit Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro tahun 2012.
“Awalnya saya memilih untuk menggunakan jalur mandiri, karena mendengar banyak sekali layanan JKN-KIS tidak diperhatikan saat digunakan di rumah sakit. Apalagi muncul rasa khawatir, jika menggunakan BPJS Kesehatan, layanan menjadi tidak maksimal dan terlalu ribet dalam mengurus administrasinya, “ jelas Junaidi.
Namun setelah ia mendapati istrinya di layani dengan sangat ramah, baik dan cekatan, membuat Junaidi semakin percaya bahwa layanan JKN-KIS ini sangat luar biasa manfaatnya dan ia tidak pernah lagi merasa khawatir.
“Alhamdulillah saya tidak menemui kendala saat awal masuk ke UGD rumah sakit Sosodoro Djatikoesoemo. Sempat saya bertanya ke petugas, berapa kira-kira jika membayar sendiri tanpa penjaminan dengan layanan JKN-KIS. Ternyata mahal juga ya, “ terang Junaidi.
Pengalaman Junaidi tidak hanya sampai disitu dengan menggunakan layanan JKN-KIS, tepat di bulan April tahun 2015, ayah mertuanya melakukan operasi ring jantung. Ia membayangkan betapa besarnya biaya pengobatan, apalagi masih harus kontrol setelah operasi.
“Sekali lagi, dalam hati bertanya apakah bisa BPJS Kesehatan membiayai operasi ring jantung semahal itu. Dan ternyata sepeserpun tidak dipungut biaya. Hal yang kami dapati bahwa petugas di rumah sakit tidak membeda-bedakan pelaynan walau ayah mertua saya terdaftar hak kelas rawat inapnya di kelas 1, “ tutur Junaidi.
Tidak berhenti sampai disitu, Junaidi menceritakan tepat di bulan Februari 2022, ayah mertunya kembali memasuki ruangan ICU karena penyakit diabetes mellitus. Pembiayaan pengobatan yang cukup besar akan sangat memberatkan tentunya tanpa layanan JKN-KIS.
“ Sepuluh (10) hari ayah mertua saya menginap di ICU rumah sakit Sosodoro Djatikoesoemo untuk kesembuhan diabetes miletusnya. Proses penjaminan pelayanan kesehatan sangat memudahkan dan berjalan dengan lancar. Dokter dan perawat sangat cekatan dalam memberikan perawatan. Saya dan keluarga sangat bersyukur sekali menjadi peserta JKN. Doanya semoga dijauhkan dari penyakit, lebih baik membayar iuran saja agar dapat membantu mereka yang membutuhkan dan bernilai ibadah, “ tutup Junaidi. (af/ru)


