Pada tahun 2019 silam. Saya Bersama keluarga jalan-jalan ke Negara Malaysia. Negara yang menjadi tempat mencari nafkah orang kampung say aini sangat indah dan mengesankan. Saya tidak pernah membayangkan Malaysia seindah yang saya lihat. Kebersihan lingkungannya terjaga, tertib lalu lintas dan penuh inspirasi.
Kedatangan saya di sana. Di sambut baik oleh kawan-kawan saya se kampung halaman di Gelaman, Arjasa, Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura. Saya tambah bahagia bisa bertemu dengan teman SD yang 30 tahun lamanya tidak bertemu. Kita saling berpelukan, tertawa lepas dan satu sama lain saling bertanya kabar. Sesampainya di Malaysia. Saya banyak mendapatkan pelajaran yang tidak saya dapatkan di Negeri saya sendiri.
Sebenarnya acara jalan-jalan ke Malaysia itu tidak direncanakan. Hanya karena ingin memenuhi undangan dari teman-teman sekampung saya di Gelaman, Kangean. Yang ada dalam pikiran saya temu kangean Bersama dengan teman-teman dan melihat pemandangan indah seperti Menara kembar dan menara tunggal, dan tentu tempat indah lainnya. Saat saya sampai di Bandara Sepang, Malaysia. Ternyata sudah banyak kawan-kawan saya yang menunggu kedatangan saya. Saya merasa sangat terhormat.
Setelah saya sampai di tempat kerja para kawan-kawan. Telah ada tersedia kamar istirahat untuk saya. Kamar yang bagus, ber AC layaknya pada sebuah hotel. Saya langsung istirahat menghilangkan penat badan, capek dan mabuk dalam perjalanan. Malam harinya sudah mulai berdatangan teman-teman se desa untuk menyambut dan menemani saya di teras kamar. Tidak ada pembicaraan yang serius. Tapi pembicaraan yang ringan-ringan dan santai penuh keakraban dan kekeuargaan.
Kebiasaan orang kampung selalu menghargai tamu yang datang. Mulai dari menemani jalan-jalan, menemani di ruang istirahat, dan bahkan menemani makan dengan berkelompok dan penuh ketulusan. Mereka tidak pernah berfikir akan kehabisan uang demi menyamankan teman-teman se kampungnya. Pelajaran pertama yang saya dapat adalah menjaga hubungan persaudaraan sesama anak kampung telah mereka tanamkan. Walaupun mereka sebagai pekerja koli bangunan. Saya terus di ajak makan ke warung-warung bagus. Kawan-kawan saya pun rebutan untuk membayar. Pelajaran yang kedua adalah mereka rela berkorban untuk membahagiakan teman dan saudara sekampungnya. Walaupun mereka pekerja kasar, merantau di negeri orang. Tapi ada keikhlasan dalam menjaga hubungan kekerabatan, kekeluargaan dan persatuan yang oleh mereka di junjung tinggi. Uang bukanlah segalanya bagi mereka. Persahabatan dan kekeluargaan lebih berarti. Ini pesan yang saya tangkap.
Bahkan di antara mereka ada yang tidak bekerja selama saya ada di Malaysia. Dan menemani saya berkunjung ke Dataran, Menara kembar, Bukit Damansara, ICity dan tempat-tempat rekreasi yang lain.
Sembari jalan-jalan ke Malaysia. Saya ingin mencari menambah pengetahuan dari Negara Malaysia tentang banyak hal. Berkait dengan kebersihan, ketertiban, kesalehan dan semangat dalam bekerja. Pada soal kebersihan, saya pernah makan di warung yang ada di Sri Kucing Kuala Lumpur. Di tempat itu menjadi tempat makan pilihan teman-teman saya. Suatu Ketika tempat itu di tutup. Saat saya berada di Malaysia kurang lebih tiga harian. Warung yang menjadi tempat saya Bersama teman-teman nungkrong, di tutup oleh pemerintah setempat. Sebab kamar mandinya kotor tidak sesuai dengan standar kebersihan yang ditetapkan. Warung itu di beri sangsi bayar dan di tutup dalam waktu yang cukup lama. Tepat pada hari jum’at saya shalat jum’at di masjid wilayah. Pada pukul 11.00 WIB saya berangkat ke Masjid Wilayah. Sampai di masjid itu, saya mendapatkan ada pengajian kitab (majelis ilmi) yang di gelar dan banyak pengikut pengajian itu dari unsur pekerja dari berbagai negara termasuk kawan-kawan dari kampung saya.
Setelah usai melaksanakan shalat jum’at. Saya mampir di pasar dekat masjid wilayah. Berbagai macam makanan yang saya temukan. Dari harga yang murah sampai harga yang mahal. Mereka yang berjualan di dekat masjid itu adalah orang-orang yang telah melaksanakan shalat jum’at di masjid wilayah. Saya lihat semangat beribadah dan bekerja dari mereka perlu di acungi jempol. Sebuah pesan ilahi mengatakan “Jika ada panggilan adzan maka segeralah bersiap-siap untuk melaksanakan shalat. Apabila selesai melaksanakan shalat menyebarlah di muka bumi untuk bekerja”. Semangat ibadah dan semangat bekerja harus seimbang karena itu adalah ajaran agama islam.
Kurang lebih 20 hari saya di Malaysia. Banyak pengetahuan yang saya dapatkan. Dan tidak ada yang pantas saya ucapkan. Selain Malaysia layak menjadi Negara maju melihat kualitas dan kepribadian seluruh SDM yang ada. Wallau’alam.
Oleh : Ponirin Mika | Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research.


