
Hari raya kurban atau di sebut pula dengan hari raya idul adha merupakan peristiwa bersejarah dalam perjalanan hidup manusia. Di mana seorang hamba bernama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (bapak dan anak) telah mengajarkan pada umat manusia berkait pentingnya sebuah ketaatan secara total kepada Tuhan yang memiliki alam semesta. Keduanya telah mencerminkan kulitas seorang insan yang telah mencapai puncak kesabaran dan penghambaan. Penggalan kisahnya yang membuat nama keduanya terlukis dalam sejarah dan terus di kenang dan dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia.
Suatu ketika Nabi Ibrahim melalui mimpinya di perintah Allah untuk menyembeli Ismail, padahal Ismail merupakan anak yang disayanginya. Selepas dari tidurnya, Nabi Ibrahim menceritakan peristiwa tersebut kepada Ismail. Ibrahim berkata,” Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu,”. Ia (Ismail) menjawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Nabi Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah dia,” Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.
Peristiwa besar itu gagal terjadi karena Allah mengganti Ismail dengan domba untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim. Dan tampak terlihat keberhasilan Ismail membunuh nafsunya sehingga dengan penuh kesadaran meminta Nabi Ibrahim untuk merealisasikan mimpinya.
Berkurban Nafsu
Dalam diri manusia ada sifat malaikat dan setan. Jadi potensi manusia bersikap sombong sangat besar apabila sifat setan menguasai dirinya. Sebaliknya manusia akan menjadi makhluk yang baik jikalau sifat-sifat malaikat menguasainya. Ada penekanan-penekan yang harus diupayakan oleh seorang manusia agar mampu mendudukkan dirinya di puncak kedudukan terhormat, yaitu dengan menekan nafsu agar tidak menjadi raja yang menguasai hati, pikiran dan tingkah lakunya. Suatu kelalaian dan kedhaliman besar apabila nafsu menjadi mesin pengendali seseorang. Naudzubillah.
Nafsu akan membuat orang sombong, arogan, angkuh dan menjauh dari Allah dan Rasulnya. Nafsu bisa menutup hati seseorang agar tidak menjadi hamba yang taat dan mengabdi pada Tuhan dan Rasulnya, dan nafsu pula yang akan mengantarkan seorang manusia ke lembah kesesatan dan kebinasaan. Berkurban dengan menyembeli nafsu akan mengembalikan manusia pada fitroh yang sesungguhnya. Seorang manusia yang dilahirkan dalam keadaan suci dan mengenal terhadap Tuhan maha pencipta, dan memiliki ikatan janji untuk mengimani-nya dengan haq. Berkurban nafsu dengan cara mengendalikan dari seluruh sifat-sifat setaniyah dan hewaniyah. Kemampun berkurban semacam ini akan mudah diperoleh bagi seseorang yang memiliki ilmu. Sebab dengan ilmu kualitas kesalehan spiritual dan kesalehan sosial seseorang akan mudah terwujud. Tanpa ilmu tidak akan mampu mengeluarkan dirinya dari penjarah nafsu setan.
Adalah Imam Ghazali dan kitan Bidayatul Hidayah mengatakan jika manusia tidak mampu berbuat baik maka setiadak diam tidak usah melaksankan perbuatan jelek. Bahkan tidur pun menjadi pilihan terbaik.
Kisah ini menceritakan tentang arti dari sebuah penghambaan yang total, dan kecintaan kepada Allah melebihi kecintaannya pada makhluk. Nabi Ibrahim menyadari bahwa Allah tengah menguji dirinya untuk mengetahui kualitas iman yang di milikinya. Begitu pula, Allah menguji kesabarannya dengan memerintah putera yang ia dambakan dan sayanginya. Imam Alghazali menyebutkan bahwa mencintai dunia (hubbun dunya) akan membutakan hati seseorang hamba akan sebuah perintah dari Tuhannya. Berlebihan dalam mencintai dunia adalah pertanda akan mengalami kebinasaan. Seseorang yang bangga dengan bertambahnya harta, tahta dan wanita (istri), namun ia tidak susah dengan berkurangnya ketakwaan dirinya kepada Allah, ini sebuah tanda bahwa ia telah mengalami krisis penghambaan bahkan telah mengantarkan pada dirinya ke lembah kehinaan.
Menurut Imam Ghazali cinta tanpa pamrih terhadap sesuatu sebagai cinta hakiki, yaitu cinta seseorang terhadap sesuatu tanpa ada kepentingan dan pamrih di balik itu. Sementara mencintai dunia tidak termasuk kepada cinta yang hakiki. Nabi Ibrahim memasuki kondisi batin di mana cinta kepada Allah mengalahkan cintanya kepada seluruh makhluk termasuk cinta terhadap puteranya. Sehingga apapun bentuk perintah Allah akan disambut dengan penuh ketundukan dan kesabaran.
Momentum hari raya idul adha harus dijadikan sebagai media transformasi peristwa bersejarah yang pernah di alami oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai ibrah berbobot. Tidak hanya menjadi bacaan sejarah yang pernah di alami oleh umat manusia. Jangan pula hanya dijadikan sebuah dongeng-dongeng saat menemani anak sebagai pengantar tidur. Bahkan tidak hanya di muat sebagai materi khutbah pada pelaksanaan hari raya kurban.
Bagaiman dengan peristiwa itu, anak manusia termotivasi untuk menjadikan dirinya sebagai hamba-hamba Allah yang muslim kaffah dengan tunduk dan patuh pada apa yang diperintahkan agama dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Karena dengan kesungguhan dan tanggung jawab dalam mengembah amanah sebagai abdun dan khalifah, ia (manusia) akan berada pada maqam tertinggi melebihi malaikat.
Oleh : Ponirin Mika | Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.

