Manusia adalah makhluk lemah. Butuh bantuan makhluk yang lain. Ibnu Khaldun seorang sosiolog muslim berkata sebagai makhluk lemah itu menandakan bahwa manusia tidak sempurna dan membutuhkan orang lain. Manusia tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa ada bantuan yang lain. Tentu pula sebagai makhluk yang lemah, manusi tidak akan lepas dari sebuah kekeliruan yang menyebabkan dirinya melanggar terhadap perintah Allah dan Rasulnya.
Perintah Allah dan Rasulnya yang termuat dalam agama islam memberikan petunjuk agar manusia berada pada garis yang di ridhoi. Tidak berada pada tempat yang di murkai. Sebagai makhluk yang di beti tanggung jawab sebagai abdun dan khalifah bisa dipastikan manusia mengalami hambatan-hambatan dalam mengerjakan amanah mulia itu. Baik saat ia melakukannya secara vertical maupun horizontal. Ibadahnya kepada Allah kurang sempurna begitu pula hubungannya terhadap manusia. Hal itu tidak terlepas dari banyaknya lika-liku kehidupan. Muhasabah sebuah keharusan untuk mengetahui rapor dirinya selama melakukan perjalanan hidup selama satu tahun untuk menuju tahun berikutnya.
Seyogyanya memasuki awal tahun baru islam kali ini sebuah momentum bagi setiap individu untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Perjalanannya selama satu tahun pasti di hiasi dengan berbagai macam problematika kehiduapan. Adakalanya itu baik dan adakalanya juga buruk. Ini merupakan sifat manusia yang tidak pernah terhindar dari sebuah kealpaan. Sebab kesempurnaan adalah milik sang penguasa semesta alam. Bukan milik makhluk termasuk manusia.
Muhasabah itu adalah cara manusia untuk menghitung kesalahannya agar selanjutnya bisa diperbaiki dengan mengikuti ketentuan-ketentuan islam. KH. Moh. Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo menyampaikan bahwa muhasabah merupakan sarana bagi setiap manusia untuk mengevaluasi diri. Kesempatan tersebut sebuah jalan baginya supaya bisa memperbaiki diri menuju kesempurnaan. Tentu kesempurnaan itu sesuai dengan standar yang diberikan Allah kepada manusia.
Sebagai makhluk yang lemah, manusia harus menyadari akan pentingnya muhasabah. Tanpa muhasabah akan sulit menemukan cacat pada dirinya dan akan kesulitan melakukan perjalanan berikutnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar sesuai dengan petunjuk agama. Atau mungkin bisa menabrak hukum-hukum tuhan dengan keangkuhan dan kesombongan dengan tanpa merasa bersalah.
Padahal, barang siapa yang hari ini prilakunya lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini perilakunya sama seperti hari kemarin maka ia termasuk orang yang rugi. Barang siapa yang hari ini prilakunya lebih jelek dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang celaka. Untuk mengetahui apakah seseorang termasuk orang yang beruntung, rugi atau celaka tidak lain kecuali dengan introspeksi diri. Itu sebuah jalan menuju kesejatian. Sejati yang di maksud adalah menemukan hakikat diri sebagai makhluk yang tercipta untuk beribadah secara totalitas. ibadah bukan hanya berupa shalat melainkan segala macam tidakannya harus bernilai ibadah dan diperuntukkan kepada Allah SWT.
Allah menciptakan manusia berbeda dengan binatang yang tidak akan mampu mengevaluasi dirinya. Binatang tidak memiliki akal sebagai alat untuk melakukan evaluasi tersebut. Akal hanya di miliki oleh manusia sebagai pemberian teragung Allah untuknya. Keberfungsian akal menandakan bahwa manusia mampu menjaga eksistensinya sebagai ahsanu taqwim. Namun apabila akal itu tidak berfungsi sebagai alat untuk mengevaluasi diri agar terwujud dirinya menjadi insan kamil maka status manusia akan lebih rendah daripada binatang. Naudzubillah.
Keterhalangan muhasabah disebabkan oleh rasa angkuh, sombong, riya dan beberapa penyakit hati lainnya. Kotoran yang di sebut dengan najis mughalladah batin itu menerjunkan harkat martabat manusia turun ke lubang yang paling dasar. Di situlah salah satu fungsi alqur’an dan hadits sebagai pedoman bagi kehidupan manusia agar mampu memilihara dirinya sebagai makhluk yang di beri derajat tinggi oleh Allah SWT. Jika alqur’an dan hadits tidak lagi dijadikan sebagai way of life dan menjadikan hawa nafsu sebagai pengendali dirinya itu adalah pintu menuju lembah kehinaan dan kesesatan. Nafsu akan terus mengajak kepada manusia untuk menjadi hina. Bahkan mengajak kepada manusia untuk menjadi makhluk yang durhaka. Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu akan sulit menemukan kedamaian dan kebenaran yang bersifat ilahi. Sebaliknya orang yang mengikuti akalnya akan mendapatkan petunjuk berupa keimanan. Iman mampu mendatangkan cahaya ilahi sehingga mampu mengimplementasikan nilai-nilai luhur sesuai dengan gari yang telah ditetapkan agama.
Di akhir tuliasan ini penulis ingin menyampaikan seruan Allah kepada manusia untuk selalu mengeavaluari dirinya sendiri ketimbang mengevaluasi orang lain. Sangat disayangkan apabila waktu kita habis berjalan sia-sia dikarenakan terus menilai orang lain, dan atau mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Sementara kesalahan dirinya semakin menumpuk tak pernah tersentuh oleh penglihatannya sendiri. Jika ini terjadi maka manusia yang demikian masuk pada kategori makhluk Allah yang hina dihinakan oleh prilakunya sendiri. Wallahu’alam.
Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Probolinggo dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.


