Sekretaris Jenderal Himpunan Aktivis Milenial, Muchlas J Samorano, menjelaskan, terdapat fakta paradoks antara kepedulian lingkungan kalangan milenial dan generasi Z terhadap respon kenaikan harga BBM.
“Kepedulian milenial dan generasi Z sangat besar terhadap isu lingkungan. Berdasarkan sejumlah survei, 77% lebih milenial dan generasi Z memiliki concern terhadap diskursus lingkungan. Tetapi, khusus isu BBM, justru sebagian dari mereka abai,” terang dia.

Gelombang demonstrasi, lanjut Muchlas, hanya tampak seperti parade protes yang minus data. Menurut Muchlas, demonstran kurang melek data soal distribusi BBM subsidi yang justru dinikmati orang mampu. Bagi Muchlas, aksi protes yang tak cukup data adalah kepongahan intelektual.
“Bahkan, demonstran yang adalah kalangan muda-milenial, tampak tidak peduli pada potensi kerusakan lingkungan akibat penggunaan BBM beroktan rendah. Padahal, bensin RON rendah akan menimbulkan kerugian berganda yang cukup serius terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi,” kata dia.
Karena itu, bagi Muchlas, pengalihan alokasi subsidi bisa jadi skema yang bisa diambil dari rencana penghpusan BBM Premium dan Pertalite. Subsidi BBM dialihkan pada subsidi non-energi, seperti pupuk, benih, dan pangan untuk mengendalikan inflasi. Dana subsidi juga bisa dialihkan sebagai pendanaan percepatan pembangunan.
“Skema kedua, pemerintah harus lebih detail membuat produk regulasi, misalnya melalui Peraturan Presiden atau Perpres, untuk memudahkan masyarakat miskin mengakses jenis BBM subsidi supaya tepat sasaran,” tutup Muchlas.
Baca Juga : Protes Kenaikan BBM, Mahasiswa dan Pemuda Demo dan Bakar Ban di Pamekasan
(Rls/Jd/Red)


