money politic sudah menjadi trend yang sering dialami warga Indonesia di saat kontestasi politik dinegri ini. Banyak yang berlomba – lomba mengumpulkan suara dan memberi uang untuk suksesi pemenangan, mulai dari dprd tingkat 2, walikota, bupati sampai presiden. Tindakan ini sudah membudaya di masyarakat dan sudah dianggap wajar oleh masyarakat secara umum, tidak ada adu gagasan visi misi tapi malah adu kuat modal yang dikeluarkan oleh calon.
Sejak awal pemilu cara ini kerap digunakan oleh calon guna meraup suara agar bisa melenggang di senayan maupun didaerah – daerah.
Melalui Latihan kader III HMI BADKO KALSEL-TENG kita dididik untuk bagaimana mengurai banyaknya praktik – praktik tidak bertanggung jawab itu. Dalam materi “kedaulatan kerakyatan” yang di sampaikan kakanda Dr. Idham Kholik, M.Si dijelaskan bahwa demokrasi yang berakar dari liberalisme ini harus selaras dengan apa yang digagas oleh orang-orang terdahulu. Kenapa bisa begitu sangat disayangkan indahnya pesta demokrasi kita ini malah disalah gunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Sebagai mahasiswa yang memiliki julukan agen perubahan dan agen kontrol sosial, saya merasa miris. Pesta demokrasi yang harusnya semarak akan penuh gagasan malah dijadikan ajang perusak moral bangsa dinegri ini. Banyak daerah yang menjadi korban money politic, bagaimana tidak ketika mereka yang melakukan money politic mereka berlomba – lomba untuk korupsi besar – besaran untuk mengembalikan modal yang mereka keluarkan saat kontestasi politik. Hal itu lah yang mengakibatkan rusaknya negara ini uang negara yang dipergunakan untuk membangun negri secara optimal malah dikorupsi besar – besaran untuk memperkaya oknum – oknum tidak bertanggung jawab.


