Saling Menjaga
Acara doa bersama berlangsung sekitar pukul 21.30 sampai 22.30. Hujan turun tidak membuat massa beranjak dari tempat acara. Ribuan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengamankan jalannya acara sambil ikut luruh dalam doa.
Aremania sendiri saling menjaga agar suasana tetap kondusif. Untuk itu setiap ada yang meneriakkan kata-kata emosional seperti “Sambo”, Aremania yang lain segera menghentikan agar tidak terjadi penularan emosi. “Aremania itu aslinya mudah diatur. Tidak brutal,” kata Sam Rizal, tokoh Aremania.

Sebagaimana diberitakan musibah kubro (besar) atau insiden Stadion Kanjuruhan terjadi pada Sabtu (1/10/2022) malam saat berlangsung pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan kompetisi Liga Indonesia Baru (LIB). Dalam insiden itu 131 nyawa melayang, ratusan orang luka-luka. Para korban terdiri laki-laki dan perempuan, anak-anak berumur 4 tahun sampai orang tua. Dari kalangan penonton, pedagang asongan dan polisi.
Pemerintah dinilai responsif terhadap insiden ini. Direpresentasikan dengan tindakan Menko PMK yang turun ke lapangan pada kesempatan pertama. Penanganan mitigasi atau tanggap darurat bencana sosial yang selesai hanya dalam waktu dua hari. Yang langsung disambung dengan penanganan investigasi dengan turunnya TGIPF.
Insiden ini merupakan yang terbesar dalam sejarah sepak bola dunia dalam 40 thun terakhir. Melampaui tragedi Stadion Heysel Brussels tahun 1985 dalam pertandingan Liverpool melawan Juventus yang menewaskan 39 orang dan 600 orang luka-luka.
Baca Juga : Azam Khan Buka Posko Bantuan Hukum untuk Korban Tragedi Kanjuruhan Gratis
(Ano/Red)


