Beberapa kali saya menghadiri acara maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di perkotaan dan pedesaan. Seringkali saya dapatkan ceramah-ceramah para muballig seputar menjelaskan tentang akhlah Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan. Sejarah dan napak tilas Nabi menjadi materi ceramah para muballig. Kesempurnaan pribadi Nabi taka da yang memperdebatkan tentu ini dirasakan oleh orang-orang yang memiliki kesempurnaan akal. Sebaliknya bagi para pembenci Nabi dan islam menilainya sebagai manusia yang tidak sempurna bahkan seorang pesdusta. Islam pun dianggap sebagai agama khayalan. Naudzubillah.
Tuduhan-tuduhan yang sangat sadis tersebut disematkan kepada Nabi datangnya dari para pembencinya. Mengapa mereka sampai membenci Nabi?. Salah satu hal yang bisa kita ceritakan adalah Nabi Muhammad seorang nabi revolusioner yang datang membawa ajaran-ajaran ilahi yang berpihak pada kebaikan dan kebenaran. Tidak berpihak pada oligargi dan keserakahan. Di mana risalah ilahi membawa spirit untuk mengeluarkan manusia dari kebiadaban keadaan. Nabi Muhammad tidak hanya sekedar manusia yang di utus oleh Tuhan sebagai penyelamat nilai-nilai kemanusiaan yang universal tapi menyelamatkan tauhid manusia dari segala sesembahan berupa berhala-berhala. Tidak muda penyampaian risalah olehnya. Ia memperoleh penolakan dari berbagai macam orang, golongan dan kasta. Tapi itu tak menyurutkan semangat Nabi Muhammad untuk menciptakan keadilan dan kebenaran. Semangat dan pengorbanan beliau tak dapat diceritakan namun dirasakan oleh seluruh alam semesta. Ancaman-ancaman itu berkait dengan keselamatan jiwa dan raganya. Tapi itulah Nabi Muhammad tidak pernah gentar menghadapi apapun dan siapapun. Dalam pikiran dan hatinya adalah menyelamatkan seluruh penduduk bumi dari keserakahan dan kedurhakaan. Keummatan dan kebangsaan serta keislaman mengalahkan lapar, dahaga, dan keselamatan jiwanya. Begitulah potret sejati seorang pemimpin yang ideal dan patriotis.
Momentum maulid ini seyogyanya harus menjadi wasilah untuk menenun kembali ummat yang terpecah-belah akibat dari banyak factor, baik faktor ekonomi, sosial dan konflik. Membaca ulang sejarah emas yang dilakono oleh Nabi Muhammad sang panutan umat itu adalah modal melangkah dalam kehiduapan. Adalah KH. Moh. Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid menyampaikan bahwa perayaan maulid nabi tidak hanya sekedar ritual tahun semata. Maulid ini bentuk ungkapan mahabbah dan syukur kita kepada nabi Muhammad SAW berkat perjuangannya dalam menegakkan agama dan nilai-nilai kemanusiaan.Yang lebih utama dari itu adalah mampu mencontoh prilaku nabi untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara lebih-lebih dalam beragama.
Oleh : Ponirin Mika I Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Coomunity of Critical Social Research, Probolinggo.


