Abd. Rohim Ghazali selaku Direktur Eksekutif Maarif Institute, sangat mengapresiasi pemikiran-pemikiran kritis almarhum Buya Syafii, terkait isu-isu keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, kebhinekaan, dan keadilan sosial. Kumpulan tulisan Buya Syafii yang tercecer di media, baik di Kompas maupun di Republika, lanjut Rohim, kini sudah bisa dibaca secara utuh karena sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Produktivitas pemikiran-pemikiran Buya Syafii sangat diperlukan untuk memperkaya khazanah pemikiran Islam Indonesia.
“Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada penerbit, Kompas, Mizan dan Suara Muhammadiyah, yang dengan tulus menerbitkan kumpulan karya tulis Buya Syafii, sehingga kini sudah bisa dinikmati oleh anak anak bangsa. Penerbitan ini, tentu merupakan usaha keras untuk merekam riwayat intelektualisme Buya Syafii yang selama ini berkembang di ruang publik. Kami berharap kehadiran ketiga buku ini dapat memberikan sumbangan dalam memperkaya khazanah Islam Indonesia”, ujar Rohim.
Mengawali pemaparannya, tokoh perempuan Muslim, Musdah Mulia, mengucapkan selamat atas terbitnya tiga buku Buya Ahmad Syafii Maarif. Buku ini layak dibaca tidak hanya oleh mereka yang tertarik dengan masa depan dunia Islam, tetapi juga oleh setiap orang yang peduli akan masa depan kemanusiaan. Menurut Musdah, Buya Syafii merupakan sosok yang berani dan mengungkapkan pendapat secara kritis, obyektif dan jernih. Sosok seperti inilah yang, menurutnya, dibutuhkan bangsa Indonesia sekarang ini. Buya juga orang yang berempati pada orang-orang yang mengalami penindasan. Itu terlihat ketika Buya dengan berani tanpa rasa takut menyebut Ahok tidak menghina Al Quran, khususnya Surat Al-Maidah 51.
Musdah juga menambahkan bahwa Buya Syafii adalah juga tokoh yang sangat memberikan perhatian penuh serta penghormatan setinggi-tingginya pada kaum perempuan. “Meskipun Buya Syafii tidak menulis hal-hal yang lebih spesifik tentang isu-isu kesetaraan dan keadilan gender, isu feminisme, bagi saya cukup dua hal. Buya tidak melakukan poligami dan tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan, baik di ruang domestic maupun ruang publik” jelas Musda Mulia.
Narasumber berikutnya, Ade Armando, memaparkan bahwa peluncuran buku ini menjadi penting dalam rangka mensosialisasikan dan melanjutkan pemikiran Buya Syafii Maarif dalam konteks keindonesiaan. Buku yang memuat isu isu keislaman, kebangsaan, kemanusiaan dan juga pengalaman bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa patut untuk dijadikan bahan refleksi.
“Semoga buku ini bisa menyebarkan pemikiran Islam yang inklusif, toleran, moderat serta berpihak pada kemanusiaan, kenegaraan serta keindonesiaan, utamanya di kalangan anak-anak muda millenial”, ujar Ade.
Baca : Gubernur Jatim Paparkan 7 Program Prioritas 2023


