Ketika Kiai As’ad sedih ditinggal wafat Kiai Zaini Mun’im

  • Bagikan

Reporter : Ponirin Mika

Probolinggo-harianjatim.com. Salah satu tokoh penting dalam pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama adalah KH. R. As’ad Syamsul Arifin Pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo.

Sangat masyhur dikalangan ulama dan masyarakat dunia bahwa Kiai As’ad melaksanakan perintah Kiai Kholil Bangkalan untuk menyampaikan amanah kepada Kiai Hasyim Asy’ari.

Ceritanya adalah, Pemuda yang bernama As’ad itu diberikan amanah oleh Kiai Kholil untuk menyampaikan sebuah tongkat kepada Kiai Hasyim di Tebuireng. Saat sampai di Tebuireng, As’ad juga dipesani agar membacakan Alquran surat Thaha ayat 17-23 kepada Kiai Hasyim. Saat Kiai Hasyim menerima kedatangan As’ad dan mendengar ayat tersebut, hatinya pun langsung bergetar.

“Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujar Kiai Hasyim saat itu sambil meneteskan air mata.

Kendati demikian, pada kunjungan pertama As’ad tersebut tampaknya belum membuat Kiai Hasyim mantap, sehingga satu tahun kemudian Kiai Kholil mengutus As’ad kembali. Kali ini, ia diamanahi sebuah tasbih untuk disampaikan ke Kiai Hasyim.

Saat membawa tasbih tersebut, Kiai Kholil juga meminta As’ad untuk mengamalkan sebuah wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar selama perjalannya dari Bangkalan ke Tebuireng, Jombang.

“Kiai, saya diutus oleh kiai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ucap As’ad saat bertemu Kiai Hasyim sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan di lehernya tersebut.

Kehadiran As’ad kedua inilah yang membuat Kiai Hasyim benar-benar mantap untuk mendirikan NU, lantaran menangkap isyarat bahwa Kiai Kholil sebagai gurunya tidak keberatan jika ia dan sahabat-sahabatnya mendirikan organisasi tersebut. Itulah jawaban yang dinanti-nantikannya selama ini.

Akhirnya, tepat pada tanggal 16 Rajab 1344 Hijriyah atau 31 Januari 1926, organisasi NU resmi didirikan dan Kiai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama.

Perjuangan Kiai As’ad dalam membesarkan NU tak dapat dipungkiri. Ia pun rela mengorbankan nyawa untuk memperjuangkan Islam melalui jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Kegigihannya melawan penjajah Belanda patut menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Membela dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa menjadi nafas pada setiap denyut nadinya.

Ketegasan beliau itu ternyata ada sikap kasih sayang dan bahkan sedih sedalam-dalamnya, yaitu tatkala wafatnya KH. Zaini Abdul Mun’im.

Kiai A Zaim Ibrahimy menceritakan. Tidak ada yang membuat Kiai As’ad sedih kecuali atas wafatnya Kiai Zaini Mun’im Pendiri dan Pengasuh Pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Bagaimana tidak, Kiai Zaini merupakan Kiai alim, egaliter, pejuang dan merawat NU.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Booking todo incluido ofertas al caribe. Free ad network.