Judul buku : Seni Memaafkan
Penulis : Brian Adam
Tahun terbit : 2020
Nama penerbit : Bright Publisher
Cetakan : Ke-1, 2020
Tebal buku : 128 halaman
ISBN : 978-623-7778-43-1
Harga : 49.000
Peresensi : Sabrina Rosita Fathul Fadila*
Apa itu Seni Memaafkan? Seni Memaafkan adalah buku karya Brian Adam tahun 2020 yang mengajak kita untuk memaafkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum kita memaafkan orang yang menyakiti kita. Kita perlu melepaskan diri dari semua rasa bersalah yang muncul pada masa lalu. Apapun dan bagaimana pun luka hati. Kita harus memaafkan dan menerima keadaan sekarang.
Apa itu memaafkan? Memaafkan adalah kesedihan untuk meninggalkan kesalahan-kesalahan masa lalu yang menyakitkan, tidak lagi memendam amarah dan kebencian, dan menepis keinginan untuk menyakiti orang lain ataupun diri sendiri. Memaafkan dapat mendorong seseorang untuk tidak melakukan pembalasan dendam dan meredakan dorongan untuk membalas rasa sakit. Dengan memaafkan, tidak akan terjadi penghakiman terhadap orang yang bersalah. Dalam hal ini memaafkan harus dilakukan dengan ketulusan. Banyak orang beranggapan bahwa memaafkan hanya akan merendahkan diri sendiri. Dan banyak juga yang enggan memaafkan orang lain karena menganggap tidak adanya permintaan maaf dari pihak bersalah. Sesungguhnya memaafkan tidak berkaitan dengan salah atau benar, memaafkan adalah karena bebesaran jiwa, harga diri seseorang, dan keikhlasan jiwa masing-masing.
Memaafkan bukan berarti menjadi patokan bahwa semua yang sudah terjadi harus dilupakan. Karena kemampuan untuk memaafkan merupakan bukti kelapangan hati yang tulus. Memberi maaf atau memaafkan merupakan tindakan yang hebat karena orang yang tersakiti berhasil menurunkan ego dan menyadari pentingnya hubungan baik dengan orang lain. Kita harus bisa menerima keadaan atau kenyataan bahwa memang terdapat konflik dalam hubungan soisal. Dengan penerimaan itu kita bisa sehat secara mental dan memperoleh ketenangan. Karena kitab bisa meninggalkan segala kekecewaan, kekesalan, maupun amarah akibat perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang lain.
Kata “maaf” adalah salah satu kosa kata yang sangat popular. Kata itu muncul di mana-mana dalam berbagai kesempatan dan peristiwa. Manusia tidak mungkin luput dari kesalahan. Kesalahan itu muncul karena setiap orang memiliki pendapat atau pandangan yang berbeda. Perkataan dan perbuatan ini dapat menimbulkan rasa tersinggung salah satu pihak mulai dari masalah kecil hingga besar. Oleh karena itulah setiap orang perlu melakukan instrospeksi diri agar tidak mengulangi kesalahan. Siapapun perlu untuk melatih diri sendiri untuk memahami dan memaafkan kesalahan orang lain. Karena pemaaf itu secara dewasa bukan berarti menghapus seluruh perasaan negative, tetapi menjadi sebuah keseimbangan perasaan. Dengan memaafkan kita bisa membebaskan diri dari kemarahan dan dendam yang kita rasakan sebelumnya. Memaafkan bukan berarti menafikan keadilan tetapi mengutamakan kemanusiaan. Biarkan waktu bergulir dalam suasana penuh pemaafan. Waktu akan menyembuhkan luka hati.
Marah itu boleh, tapi marah yang berkepanjangan justru menjadi perkara yang tidak membahagiakan. Ego yang tinggi dapat membuat orang yang sakit hati sulit memaafkan orang yang bersalah padanya. Ego yang tinggi dapat membuat orang yang sakit hati bisa merasa sangat special hingga dia tidak mau memaafkan orang yang bersalah kepadanya. Hal ini dapat memperpanjang masalah dan kesalahpahaman yang bisa diselesaikan pun justru mengambang berlarut-larut.
Tidak ada hal positif yang muncul dari sikap emosional dan membenci orang yang bersalah. Orang yang sakit hati tidak akan merasa lega jika masih meyimpan bara amarah dan dendam. Dia tidak bisa melangkah tanpa beban. Begitulah alasannya di balik pentingnya memaafkan orang yang bersalah. Dia bisa meredakannya dengan cara memaafkan orang yang bersalah padanya.
Memaafkan adalah sebuah proses atau hasil dari sebuah proses yang berkaitan dengan perubahan emosi dan sikap terhadap orang yang bersalah. Tapi prosesnya memang tidak mudah untuk dilakukan. Ada banyak factor yang bisa menimblkan keenganan untuk memaafkan. Tapi di luar itu, keenggaan dapat memperburuk keadaan dan memperpanjang kenangan buruk. Memberi maaf tidak hanya dilakukan sebatas menyampaikan pernyataan lisan. Orang yang sakit hati harus memaafkan orang yang menyakitinya dengan hati yang ikhlas. Ingat bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan. Dengan hal tersebut, tidak ada alas an bagi tidak memaafkan kesalahan orang lain. Kita harus dengan hati ikhlas bisa memaafkan kesalahan orang yang pernah menyakiti kita. Dengan begitu kita bisa lebih tenang, damai, dan bahagia.
Buku ini memiliki kelebihan dalam tata bahasa. Sang penulis membawakan inti dari buku ini dengan bahasa yang mudah diapahami pembaca. Buku berjudul “Seni Memaafkan” mengajak pembaca untuk bisa saling memaafkan satu sama lain. Menerima kesalahan, kekecewaan dengan ikhlas dan membuat diri lebih tenang. Buku ini juga mengajarkan kita untuk selalu memaafkan diri kita terlebih dahulu sebelum memafkan orang yang menyakiti kita. Buku ini tidak hanya mengajarkan unutuk saling memaafkan saja, tetapi juga banyak poin-poin penting lainnya yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Cover buku ini sederhana dan juga menarik, meskipun hanya dengan kata-kata, bisa membuat saya ingin membacanya. Kelemahan dari buku ini terdapat pada beberapa kata yang salah dalam pengetikan.
Saya tertarik untuk membaca buku ini karena pada bagian cover, buku ini menuliskan kalimat yang membuat saya ingin membacanya lebih lanjut, yaitu “Seni Memaafkan”. Buku ini sangat cocok untuk kita yang masih sulit untuk memaafkan diri sendiri ataupun orang lain yang menyakiti kita.
*Peresensi adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang


