Judul buku : Bertegur sapa Dengan Keinginan Diri
Nama Pengarang : Seruni Nareswari
Identitas penerbit : c Klik Media
Tahun Terbit : 2022
Tebal buku/jumlah halaman : 193 Halaman
Ukuran : 14 x 20
Harga buku : Rp.63.000
Peresensi : Fajar Nursaid*
Buku karya dari Seruni Nareswari yang dihadirkan untuk mengajak pembaca menghadapi segala hal terkait realita secara sederhana dan lapang dada. Perlu diketahui bahwa ketertarikan yang muncul dalam diri seseorang pembaca mengenai suatu hal, itulah yang disebut keinginan. Akhirnya, pencapaian yang seseorang dapatkan membuat pembaca puas dan merasa bahagia. Keinginan sangat berpengaruh terhadap berbagai tindakan seseorang yang dilakukannya. Ada banyak orang yang ambisius untuk memperoleh keinginannya. Pembaca boleh saja berambisi untuk mencapai keinginan, tetapi apabila ambisi tersebut terlalu kuat akan menjadi tidak baik.
Banyak orang yang tidak mampu menerima nasib hidupnya sebagai kenyataan yang harus disyukuri. Banyak orang yang menyakiti dirinya karena menganggap takdir yang diterimanya tidak seperti yang diharapkan. Padahal kenyataan hidup mestinya dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan dan harus dinikmati. Pembaca harus mampu memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri ketika hal baik maupun buruk terjadi. Apapun kenyataan hidup yang terjadi, pembaca harus menerimanya dengan lapang dada. Kenyataan hidup yang beragam, mulai dari kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, kekecewaan, dan lain sebagainya silih berganti datang. Pembaca harus menyadarinya sebagai hal yang harus diterima. Walaupun kenyataan hidup tidak sesuai dengan keinginan, Pembaca harus berani menghadapinya sebagai kepastian dengan menemukan jalan keluar untuk tetap bahagia.
Berdamai dengan kenyataan merupakan jalan terbaik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik kedepan. Jangan paksakan diri menjadi sempurna, tetapi berusahalah bahagia dengan menentukan tujuan hidup. Pembaca harus bisa menikmati setiap proses dalam hidup. Pembaca harus menyadari bahwa kenyataan sering tidak sesuai keinginan dan tidak perlu panik menghadapinya. Pembaca harus menumbuhkan rasa cinta dan menghargai diri sendiri, sehingga setiap hal yang pembaca jalani selalu dilandasi rasa syukur. Pembaca harus logis dan realistis dalam memandang kehidupan ini. Dengan demikian, berdamai dengan kenyataan bukanlah hal yang sulit bagi pembaca.
Lalu, bagaimana seseorang harus menyikapi kenyataan yang tidak sesuai keinginan? Satu-satunya jalan ialah hidup berdampingan dengan kenyataan tersebut. Pembaca tidak akan mampu menghindarinya, apalagi bersembunyi dari kenyataan yang jelas-jelas ada dihadapan mata. Pembaca harus memiliki keberanian untuk berteman baik dengan kenyataan. Pembaca harus meyakini bahwa terkadang sesuatu yang menurut pembaca buruk nyatanya belum tentu seburuk yang ada dipikiran pembaca. Pembaca hanya perlu menikmatinya dengan pikiran yang lebih positif. Menyemangati diri untuk lebih mengapresiasi pencapaian saat ini merupakan langkah baik. Hal ini akan dapat memotivasi pembaca untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik kedepannya.
Beragam cara pembaca lakukan dalam menyikapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan keinginan. Hanya orang-orang optimis yang mampu memandang kenyataan hidup dari sisi positif. Sebagian besar orang pesimis menganggap bahwa kesuksesan dan kebahagiaan hanyalah tentang nasib dan keberuntungan. Apakah pembaca termasuk golongan orang-orang optimis? Atau pembaca cenderung orang yang pesimis dalam menyikapi kenyataan? Lakukanlah perenungan diri agar pembaca tidak salah langkah. Saat ini hal yang pembaca butuhkan ialah berdamai dengan kenyataan hidup agar tetap bahagia. Segala yang telah berlalu tidak perlu pembaca ungkit kembali. Ada kenangan manis dan pahit yang dapat pembaca ambil hikmahnya sebagai pembelajaran dimasa kini.
Kelebihan buku ini banyak kalimat motivasi yang dapat diambil dan dijadikan sumber referensi bagi orang-orang yang ingin berdamai dengan realita kehidupan yang dialami dan ingin menjadikan hidupnya nyaman tanpa beban.
Kekurangan buku ini yaitu terlalu fokus menceritakan cara untuk berdamai dengan realita. Sehingga mudah bosan untuk dibaca serta sampul buku yang sederhana dan kualitas kertas masih kurang bagus.
*Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang


