Datu’ Anwar Ibrahim Sang Reformis Kini Jadi PM Malaysia

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika

Probolinggo.HarianJatim.Com-Datu’ Seri Haji Anwar bin Ibrahim atau dikenal dengan panggilan Anwar Ibrahim adalah seorang politisi Malaysia yang tersohor. Ia pula merupakan politisi yang kritis yang tak mengenal rasa takut kepada siapapun. Prinsip itulah yang membuat lawan-lawan politiknya ketar-ketir, dan menjadikannya sebagai ancaman politik yang membahayakan.

Saya mendengar nama Anwar Ibrahim sejak era 80 an. Di mana saat itu banyak orang yang sering menyebut namanya, dan bahkan mengagumi sebagai seorang pejuang pembela kebenaran. Berangkat dari itu, saya ingin sekali mengenal sosok Anwar Ibrahim lebih jauh. Saya mulai mencari informasi berkait beliau. Mulai dari profil pribadinya hingga kepada sepak terjangnya sebagai aktivis dan politisi terkemuka di negeri jiran, Malaysia.

Saya membaca dari artikel ke artikel, opini ke opini bahkan buku yang menulis tentang sosok Anwar Ibrahim. Saya dapat menyimpulkan bahwa seorang Anwar Ibrahim seorang politisi ulung, akademisi yang memiliki ide cemerlang berkait dengan analisis kebangsaan dan pengembangan ekonomi Malaysia.

Yang menarik dalam perjuangannya, ia sempat merasakan dinginnya lantai buih pada 1974. Kala itu, ia ditangkap di bawah Undang-Undang Keamanan Internal (ISA) karena menggelar unjuk rasa menentang kemiskinandan kelaparan di daerah pinggiran. Berlandaskan aturan itu, Anwar dijebloskan penjara selama 20 bulan.

Karir politik Anwar Ibrahim bermula sebagai anggota Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO) hingga mencapai puncak kejayaannya menjadi Wakil Perdana Menteri Malaysia di bawah pimpinan perdana Menteri Mahathir Mohamad. Sebagai politisi, Anwar bisa dibilang sangat mengalami perjalanan yang sangat gemilang.  Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga 1983, Menteri Keuangan pada 1991 dan diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri pada 1993.

Di tangan dingin Anwar perekonomian Malaysia melejit. Bahkan Asiomoney menobatkannya sebagai Menteri Keuangan terbaik pada 1996. Walau setahun kemudian, Krisi moneter melanda dunia. Namun Anwar berhasil membawa Malaysia melalui semuanya. Ia pun ditunjuk sebagai Ketua Komite Pembangunan Bank Dunia pada 1998. Pada tahun yang sama Newsweek menobatkan Anwar sebagai “Asian of the Year”.

Melihat prestasi gemilang yang diraih Anwar Ibrahim, tekad Mahathir Mohamad untuk menyerahkan tahtanya kepada Anwar semakin kuat. Pada saat Mahathir istirahat selama dua bulan dan menunjuk Anwar sebagai perdana Menteri interium.

Pada waktu itu, Anwar menyempatkan merombak pemerintahan dan merombak kebusukan UMNO yang dianggap mulai rapuh akibat system kroni, korupsi, dan nepotisme di tubuh partai.

Bisa dikatakan bermula dari itu, semua berubah. Anwar dituntut atas dugaan korupsi dan pencobaan penghalangan pemeriksaan kasus sodomi yang dituduhkan atasnya. Setelah dipecat dari posisi wakil perdana menteri, anwart memulai Gerakan reformasi, membakar semangat pendukungnya untuk turun ke jalan melawan koalisi penguasa, Barisan Nasional. Pada tahun 20 September 1998, Anwar ditahan. Berbagai Lembaga internasional menganggap tuntutan itu bermotif politik. Juga di tahun 1999, ia sempat divonis hukuman penjara atas tuduhan korupsi dan sodomi. Mahkamah Federasi Malaysia kemudian membatalkan semua vonis atas Anwar Ibrahim dari penjara pada tahun 2004.

Meskipun berada dalam jeruji besi, Anwar tidak tinggal diam. Ia aktif memimpin Gerakan reformasi. Ia pula memimpin pembentukan partai multi ras, Partai Keadilan Nasional. Lika-liku perjalanan politik Anwar tidak berhenti disitu. Sejak tahun 2003, 2004, semangat Anwar tak pernah pudar. Ia terus membakar dan menggerakkan mesin politiknya. Terutama saat dirinya keluar dari penjara pada 2004.

Sebenarnya pada tahun 2008, PKR berhasil memenangkan pemilu dan menjadikan mereka partai oposisi terkuat di Malaysia. Di tahun 2013, mereka berhasil meraih suara lebih banyak dari koalisi Barisan Nasional. Namun, mereka tidak berhasil menggulingkan koalisi penguasa karena tak mendapatkan cukup kursi. Baru saja Anwar Menyusun kekuatan, ia kembali dijerat kasus sodomi oleh rezim Perdana Menteri Najib Razak hingga mengantarkannya pada penjara pada 2015.

Jeruji itu tak menyurutkan nadi Anwar untuk terus berjuang. Ia tetap memimpin langkah Pakatan Harapan. Dengan kemurahan hatinya, Anwar memaafkan Mahathir yang ingin menyatukan kekuatan dengan Pakatan Harapan demi melawan rezim korup Najib. Anwar sepakat menunjuk Mahathir menjadi calon menteri interim yang akan menyerahkan tahtanya kepada Anwar setelah bebar dari bui.

Setelah Mahathir menjadi PM pada pemilu bersejarah, ia mengupayakan pengampunan penuh dari raja. Dengan pengampunan itu, Anwar tidak hanya dibebarkan, tapi juga langsung dapat berpartisipasi dalam dunia politik, memuluskan jalannya menuju kursi perdana menteri.

Ironinya, gonjang-ganjing politik membuat Mahathir harus melepaskan jabatannya pada 2020. Harapan Anwar menjadi PM kembali tertunda. Semua itu tak membuat Anwar patah arang. Ia kembali bertarung dalam pemilu pekan lalu. Kini, pahlawan reformasi itu mampu mewujudkan mimpinya menjadi orang nomor satu di Negeri Jiran. Selamat bertugas dan mengemban amanah, Datu’.

Ponirin Mika I Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan