Oleh : Ponirin Mika*)
Probolinggo.HarianJatim.Com- Islam merupakan agama yang universal. Ia tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya semata. Islam juga mengajarkan pola hubungan manusia kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.
Melalui kitab yang agung, yaitu Alqur’an, Tuhan penguasa jagad raya telah memberikan pedoman pada umat manusia tentang cara ber-Islam yang baik. Petunjuk-petunjuknya sangat jelas tanpa ada kekhilapan sedikit pun. Kitab agung bernama Alqur’an itu memuat berbagai macam disiplin ilmu. Tak ter-alpa-kan sedikitpun dari ayat-ayatnya. Hal itu kemudian diperjelas dan diperkuat oleh Hadits Nabi Muhammad SAW agar seluruh umat manusia tak meragukannya. Tentu keraguan itu tidak akan berada pada orang yang memilki iman atau bertauhid.
Karena itu, Alqur’an juga menjadi jalan hidup bagi umat Islam. Sangat tidak pantas orang yang mengikrarkan dirinya sebagai Muslim yang mukmin jika masih ada keraguan meskipun hanya setipis tepung terhadap Alqur’an. Sudah sangat jelas, Allah telah menyebutkan dalam firmannya bahwa agama islam merupakan agama yang haq di sisi Allah. Tidak ada agama yang haq selain daripada agama Allah, yaitu Islam.
Sebagian ada yang mengira bahwa agama hanya mengurus tentang shalat, puasa dan haji, tidak lebih dari itu. Ini merupakan pandangan yang tidak utuh atau bahkan bisa disebut pandangan yang sempit tentang Islam. Sebab, realitanya agama telah membahas apapun dalam kehidupan, baik di dunia maupun urusan di akhirat nanti.
Di pondok pesantren, seorang santri telah mendalami ilmu-ilmu agama pasti akan mendapati kitab tafsir Alqur’an, tafsir hadits, fikih muamalah, fikih siyasah, fikih iqtishodi, tauhid, akhlak, sejarah, ilmu thib dan lainnya. Tentu ilmu-ilmu yang ada tak cukup hanya membahas satu aspek keilmuan. Namun mengkaji berbagai macam disiplin ilmu.
Seorang santri akan meyakini tidak ada keterpisahan antara ilmu pengetahuan dan agama. Karena ilmu pengetahuan tak boleh terpisah dari agama. Memisahkan agama dari ilmu pengetahuan adalah menyalahi ilmu pengetahuan itu dari kodratnya. Dalam islam agama harus menjadi nafas, dan seyogyanya harus menjiwai setiap ilmu apapun.
Berbeda dengan pandangan orang barat bahwa ilmu pengetahuan harus dipisahkan dengan agama. Bahkan, agama tidak boleh masuk pada ilmu pengetahuan. Ia juga beranggapan bahwa ilmu itu bebas nilai. Yang dikatakan oleh Barat bahwa ilmu pengetahuan bebas nilai itu bisa dikatakan menipu atau mengaburkan umat. Karena ilmu pengetahuan Barat itu terlahir dari kebudayaan dan peradabannya. Proses sekularisasi ini telah menjadi racun pada umat islam. Tak sedikit darinya beranggapan bahwa agama tidak berhak mengatur ilmu pengetahuan, bahkan menyebut agama sebagai ajaran yang privat. Cara pandang demikian itu bertolak belakang dengan ajaran Islam.
Oleh karenanya, mengenal konsep tauhid secara adil dan utuh itu sebuah keniscayaan. Tauhid bukan hanya menghafalkan sifat wajib, muhal dan jaiz bagi Allah dan juga bagi rasul. Lebih dari itu memperbaiki keyakinan hati dan pikiran bahwa Islam memiliki konsep yang holistik dan universal berkait kehidupan manusia.
Sangat naif apabila masyarakat Muslim menjadikan Barat sebagai mazhabnya dalam beragama. Ini dimaksudkan bukan anti-Barat. Tetapi meminjam pernyataan Syed Naquib al-Attas kita harus menjadi orang yang adil. Sangat betul, karena sebuah kebenaran itu tidak akan terwujud apabila keadilan tidak ada.
Ponirin Mika | Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Probolinggo dan Anggota Community of Critical Social Researh.


