Oleh: Rena Aulia*
Terdapat kenaikan beberapa harga bahan pangan pada awal Desember 2022. Pada hari Kamis (1/12/2022) harga minyak goreng, telur, cabai, dan bawang merah kompak naik.
Termasuk yang terus mengalami kelonjakan harga selama satu bulan terakhir ini yaitu komoditas telur ayam. Hal ini menurut laporan harga di Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga telur ayam secara rata-rata nasional naik Rp200 dibanding hari sebelumnya dari Rp29.800 menjadi Rp30.000 per kg.
Papua memiliki harga yang paling tinggi pada komoditas ini hampir mendekati Rp 40.000 yaitu sebesar Rp39.733 per kg, posisi berikutnya ditempati oleh Kalimantan Utara di level Rp37.000 per kg, dan Maluku di angka Rp34.017 per kg.
Menurut Kementerian Perdagangan (Kemendag) naiknya harga telur ini dipicu oleh naiknya harga pakan dari ternak itu sendiri. Sebenarnya harga pakan ternak sudah mulai naik pada bulan November dengan harga mencapai Rp 5.800 dan membuat para pedagang merugi. Pada saat yang bersamaan, harga telur dipeternak tetap murah pada bulan lalu.
Mahalnya pakan ternak ini juga membuat pedagang setuju sebagai salah satu penyebab harga telur meningkat. Sedangkan menurut Asosiasi Peternak Layer Nasional, harga jagung untuk pakan ternak per kilogram bisa mencapai Rp 2.000 hingga Rp 3.000, akibatnya saat ini harga pakan pun menembus Rp 7.000. Tingginya harga jagung dipicu oleh gagal panen yang dikarenakan curah hujan tinggi dan produktivitas ditingkat petani rendah.
Faktor lain kenaikan harga telur yang dikemukakan ole Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting (Bapokting) Kemendag, Bambang Wisnubroto, menyampaikan bahwa harga telur ayam naik akibat dampak dari afkir dini atau upaya mengurangi produksi indukan yang dilakukan peternak pada saat stok melimpah dan harga turun di kala momen lebaran lalu. Dari afkir dini yang dilakukan, membutuhkan waktu setidaknya 24 minggu untuk mengembalikan populasi.
Oleh karena itu, akhir tahun ini jadi momentum pedagang untuk meraup cuan, “Kita ketahui bersama selama 4 bulan terakhir harga jual dipeternak rendah karena permintaan turun, di sisi lain harga pakan relative tinggi. Hal ini yang menjadi momentum peternak untuk mengembalikan pemasukan setelah lama merugi.” Ucap Oke Nurwan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag.
Untuk mempercepat stabilitas harga telur, pemerintah akan memberi penugasan kepada Bulog terkait penyediaan pakan terjangkau. Stok jagung bulok diharapkan bisa memenuhi kebutuhan dalam beberapa waktu kedepan dan memberikan kestabilan harga telur.
Adapun upaya pemerintah untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang Nataru. Badan Pangan Nasional telah menetapkan harga acuan penjualan/pembelian (HAP) terhadap telur ayam di tingkat konsumen sebesar Rp27.000/kg. Namun pada realisasinya, saat ini harga sudah jauh diatas HAP.
Di sisi lain, Arief mengatakan pihaknya bersama kementerian dan lembaga terkait akan duduk bersama menyiapkan sistem untuk mengatur peningkatan produksi, suplai, penyerapan, dan pengelolaan cadangan pangan telur sehingga management stock-nya lebih terkendali.
Sementara itu, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) Yudianto Yosgiarso mengatakan sejumlah asosiasi dan koperasi petelur sepakat untuk menjual, khususnya ke Jakarta, dengan harga maksimal Rp 27.500 per kilogram. Kesepakatan itu dibuat oleh Pinsar Petelur Nasional (PPN), Pinsar Indonesia (PI), PPRN, Koperasi Pinsar Petelur Nasional, Koperasi Peternak Petelur Lampung, Koperasi Kendal, Koperasi Putra Blitar dan Koperasi Srikandi Blitar. Mereka menamakan diri sebagai Rumah Bersama.
“Kami mempunyai kesepakatan bahwa para peternak, khususnya yang menjual telur di Jakarta secara partai, akan menjual harga telur maksimal Rp 27.500 per kilogram,” ujar Yudianto dalam konferensi pers secara virtual pada Kamis, 1 Desember 2022.
Yudianto menegaskan harga tersebut hanya berlaku pada momen jelang Nataru saja, tidak untuk selama-lamanya. Keputusan itu dibuat dalam rangka mengakomodasi semua kepentingan peternak, baik di Blitar, Jawa Tengah, dan, Jawa Barat. Peternak di luar Pulau Jawa pun, kata Yudianto turut mendukung kesepakatan itu, seperti daerah Palembang, Lampung, dan Padang.
*Mahasiswi Universitas Negeri Malang


