Menjadi Santrinya Kiai Zaini Mun’im

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika

Probolinggo.HarianJatim.Com- Menjadi santri tidak semua orang menginginkannya. Sebaliknya, tidak semua orang yang ingin menjadoi santri kemudian terwujud, karena berbagai halangan, seperti izin orang, pertimbangan biaya dan lainnya. Bagi yang tidak menginginkan, tinggal betah di pesantren itu amat menjenuhkan. Lebih baik berada di rumah sendiri atau di tempat kos-kosan.

Menjadi santri itu, salah satu cara menempa diri agar menjadi manusia yang paripurna. Di mana pada saban harinya dilatih menahan rindu pada keluarga, sibuk dengan mengaji kitab-kitab klasik, dan memperbanyak dzikir pada Tuhan, sang pemilik rindu dan kasih sayang.

Oleh sebagian orang, santri itu digolongkan sebagai manusia suci. Ia sulit mengakses kemaksiatan. Tak seperti manusia yang berada pada dunia bebas yang memiliki banyak peluang melihat berbagai macam suguhan kemaksiatan.

Selama menempuh hidup di pesantren, setidaknya ada upaya mendesain diri dengan berbagai bentuk aktivitas kesantriannya. Dengan belajar memperhatikan hal yang bersifat fardhu ain, mawas diri untuk meninggalkan dosa besar, dan berbudi luhur pada Allah dan makhluknya.

Di tambah dengan berupaya untuk memiliki kesadaran beragama, kesadaran berilmu, kesadaran berorganisasi, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berbangsa, dan bernegara.

Inilah yang oleh KH Zaini Mun’im, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid, disebut trilogi dan panca kesadaran santri.

Prinsip dasar ini harus tertanam bagi setiap santri yang mondok di pesantren Nurul Jadid. Internalisasi trilogi dan panca kesadaran ini menandakan bahwa ia akan menjadi santri Kiai Zaini Mun’im dengan seutuhnya.

Dulu, waktu saya masih di Kangean, pulau terpencil di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, seringkali melihat foto Kiai Zaini yang terpajang di ruang tamu rumah seseorang. Tampak aura teduh terpancar pada wajah kiai kharismatik itu. Saya sesekali mengirim surat Al-Fatihah saat menatap wajahnya. Sembari bergumam dalam hati, semoga suatu saat nanti saya menjadi santri beliau.

Alhasil, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu di pesantren yang ia dirikan. Bahkan hingga saya bisa mengabdi dengan menggarap keberkahan darinya. Menjadi santri Kiai Zaini tak melulu belajar, tapi juga berjuang. Sebab kata beliau, tidak berjuang itu tergolong pada maqom telah berbuat maksiat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
¿por qué elegir punta cana ? el paraíso que mereces visitar. Free ad network. Infos zum event proffound fistival.