Oleh Ponirin Mika*)
Probolinggo.HarianJatim.Com-Pada pengajian kitab “Muroqil Ubudiyah Syarah” dari kitab “Bidayatul Hidayah”, Sabtu (21/01/23), materi pembahasannya terkait dengan adab-adab puasa. Di kitab itu diterangkan bahwa puasa merupakan benteng untuk manusia agar tidak mudah dirayu oleh syetan.
Imam Ghazali menyebutkan, puasa dapat melemahkan syahwat dan menguatkan manusia untuk beramal baik. Tentu puasa yang demikian ini adalah puasa yang bukan sekadar dilakukan dengan hanya meninggalkan makan, minum, dan melakukan hubungan suami istri bagi orang yang telah menikah.
Hakikat puasa, menurutnya, menahan segala anggota tubuh dari perbuatan maksiat dan menghindarkan mulut dari ghibah, menutup telinga dari pendengaran pada permbicaraan yang tidak baik, menjaga tangan dari mencuri, dan menahan kaki diperuntukkan berjalan menuju perbuatan yang diharamkan.
Dengan tegas Imam Al Ghazali membagi tingkatan orang berpuasa menjadi tiga golongan. Pertama, puasanya orang awam. Disebut puasanya orang awam karena dilakukan hanya dengan menahan makan dan minum, serta berkumpulnya suami istri yang sah. Saat yang sama ia tidak menjaga tubuhnya, sehingga masih mengerjakan perbuatan yang tidak dibenarkan.
Kedua, puasanya orang khusus (khawash), yakni puasa yang tak hanya menahan makan dan minum, tapi berupaya menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Ketiga, puasanya orang khusus wal khusush. Golongan ini, ia sedang berpuasa hanya semata-mata ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dianjurkan bagi umat Islam agar melaksanakan puasa sesuai dengan syariat Allah. Puasa semacam ini dapat menjemput keridhaan Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan, orang yang melaksanakan puasa seraya berpegang pada adab-adab puasa akan mendapatkan kehormatan di sisi Allah SWT. Ia akan dimasukkan surga dengan pintu yang istimewa serta pahala baginya akan diberikan oleh Allah tanpa melalui perantara siapa pun. Teramasuk keistimewaan bagi orang yang melaksanakan puasa secara sempurna, akan mendapatkan tempat istimewa di surga, membentengi dirinya dari godaan syetan, mengekang syahwat agar tidak terjerumus pada jurang kehinaan dan bau mulutnya akan lebih harum ketimbang bau minyak misik.
Diceritakan dalam kitab “Muroqil Ubudiyah” bahwa bau mulutnya orang yang sedang berpuasa dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, daripada harumnya aroma minyak misik.
Bulan puasa yang akan tiba tinggal menghitung bulan ini, setidaknya mendorong Umat Islam untuk menata diri agar melaksanakan puasa sesuai dengan petunjuk syariat. Hal ini diharap agar keistimewaan dapat diraih. Sebab, orang yang meninggalkan adab-adab berpuasa akan mengurangi kesempurnaan ibadah tersebut. Dengan begitu, ia akan sulit mendatangkan rahasia-rahasia puasa kepada dirinya sendiri.
*) Ponirin Mika adalah Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Probolinggo, dan anggota Community of Critical Social Research.


