Penulis : SRI MURYANTI, S.Pd
TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 2,
Bojonegoro
Budaya antri yang efektif dan positif menyangkut bagaimana pendidik mengajar danmembimbing anak, termasuk anak Taman Kanak-kanak (TK) untuk mengenal berbagai aturanyang berlaku di lingkungannya. Dengan menerapkan teknik yang tepat dan sesuai denganperkembangan anak memungkinkan budaya antri yang dikenalkan kepada anak TK dapat
dipahami.
Guru seharusnya dapat mengajarkan budaya antri pada anak dimulai dengan halhal kecil seperti: Guru mengajarkan anak untuk dapat bergiliran main dalam permainan, Guru
mengajarkan anak berurutan masuk kelas dan keluar kelas, Guru mengajarkan bergiliran ketikaingin bertanya, Guru mengajarkan untuk dapat bergantian ketika ingin maju kedepan kelas,Guru mengajarkan anak ketika berpamitan ingin pulang harus secara berurutan.
Orang tua seharusnya juga dapat mengajarkan budaya antri pada anak dimulai dengan hal-hal kecil seperti: Orang tua mengajarkan anak untuk dapat bergiliran ketika ingin mengambil makanan,
Orang tua mengajarkan anak untuk dapat berurutan masuk dan keluar rumah, Orang tuamengajarkan bergantian ketika ingin menonton tv, Orang tua mengajarkan anak untuk dapatbergantian untuk membersihkan rumah atau membantu membersihkan rumah, danmemberikan contoh modeling dalam meningkatkan budaya antri pada anak usia dini.
Budaya antri yang efektif dan positif menyangkut bagaimana pendidik mengajar dan membimbing anak, termasuk anak Taman Kanak-kanak (TK) untuk mengenal berbagai aturan yang berlaku di lingkungannya.Dengan menerapkan teknik yang tepat dan sesuai dengan perkembangan anak memungkinkan budaya antri yang dikenalkan kepada anak TK dapat dipahami.
Etika Antri Pada Anak Usia Dini
- Antri sesuai urutan
- Jangan berebut posisi ketika antri
- Jangan sekali-kali memotong antrian
- Beri kesempatan yang antri duluan
- Jangan antri sambil membawa barang yang kurang pantas
- Jangan antri dengan membawa binatang peliharaan
- Jangan antri dengan membawa makanan yang bau
- Jangan saling mendorong pada saat antri
- Jangan sampai membuat antrian baru, ikuti antrian paling belakang
- Jangan saling berebut antrian
- Jangan dengan sengaja menyentuh pengantri yang lain
- Jangan ikut berteriak bila ada pengantri yang menyerobot.
Manfaat Antri Sebagai Pembelajaran : - Melatih emosi, dimana anak harus bersabar menunggu giliran.
- Melatih kejujuran, dimana anak harus sesuai dengan urutannya tidak berbohong.
- Melatih disiplin, dimana anak harus antri dan tepat waktu waktu apabila ingin cepat selesai.
- Melatih kreativitas, dimana anak memikirkan cara kegiatan apa yang tidak membosankan
ketika saat mengantri. - Melatih memiliki rasa malu, dimana jika anak menyerobot antrian dan mengambil hak orang lain.
- Melatih atau belajar hukum sebab akibat, dimana jika anak datang terlambat konsekuensinya mendapat barisan paling belakang..

Budaya antri adalah mematuhi urutan atau menunggu giliran atau tidak saling mendahului serta budaya antri menunjukkan bahwa merupakan aktivitas sosial yang dapat terjadi dimana saja dan sebagai orang tua dan pendidik marilah mengajarkan kepada anak-anak didik kita untuk membudayakan mengantri yang lebih mudah jika dididik mulai dari usia dini.
Usia dini adalah usia golden age (masa keemasan), seperti pendapat Jean Piaget dimana anak seperti kertas putih. Pembelajaran akan sangat maksimal didapatkan jika orang tua atau lingkungan rumah dan lingkungan sekolah terutama guru saling bekerja sama. Untuk itu marilah kita semua saling bekerja sama agar mendapatkan atau menghasilkan anak-anak yang sangat mengerti dan memahami untuk menjadikan suatu kebiasaan mengantri atau budaya antri dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga anak dapat melatih emosi, dimana anak harus bersabar menunggu giliran, melatih kejujuran, melatih disiplin, dimana anak harus antri dan tepat waktu waktu apabila ingin cepat selesai, melatih kreativitas, dimana anak memikirkan cara kegiatan apa yang tidak membosankan ketika saat mengantri, melatih memiliki rasa malu, dimana jika anak menyerobot antrian dan mengambil hak orang lain serta dapat melatih atau belajar hukum sebab akibat, dimana jika anak datang terlamba konsekuensinya mendapat barisan belakang.


