Jangan Malu Berkata “Saya Seorang Muslim”

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika*

Probolinggo.HarianJatim.Com– Sebagian umat islam tidak percaya diri mengatakan dirinya sebagai muslim yang baik. Ia lebih suka menutup-nutupi keislamannya daripada harus mengatakan dengan tegas bahwa dirinya adalah seorang muslim yang taat dan sejati. Kebanggaan dirinya atas agama wahyu (islam) yang diyakini sebagai agama yang benar dan tidak ada keraguan sedikit pun harus terus terpancarkan dalam kehidupan sehari-hari. Kecelakaan besar yang terjadi bagi seorang muslim apabila tidak bangga bahkan malu untuk mengikrarkan dirinya sebagai seorang muslim.

Seorang pemikir muslim terkemuka Prof Syed Naquib Al-Attas pernah didatangani oleh seorang panitia seminar, yang bertanya, mengapa Prof. al-Attas menulis, bahwa hanya agama Islam agama yang benar. Dijawab dengan halus, bahwa sebagai Muslim, Prof. al-Attas berhak menyatakan, agama Islam-lah yang benar. Ia mempersilahkan penganut agama lain untuk mengklaim dan meyakini kebenaran agamanya sendiri-sendiri. Jangan sampai mereka ragu dengan agamanya, lalu semuanya juga diajak untuk ragu.

Prof. al-Attas bukan tanpa dasar akan pemikiran atau gagasan yang ditulisnya. Ia meletakkan Islam sebagai agama wahyu dan agama-agama lain sebagai agama budaya “cultural religions” dalam buku Prolegomena to The Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur; ISTAC, 1995). Konsep Prof. al-Attas tentang Islam sebagai agama wahyu dan agama-agama lain sebagai agama budaya merupakan pemikiran strategis dalam menghadapi dominasi barat dalam studi agama-agama yang meletakkan semua agama sebagai produk budaya. Pengkaburan atas sebuah kebenaran telah menjadi kegiatan para orientalis, lebih-lebih menciptakan keraguan pada masyarakat terhadap kebenaran islam sebagai agama yang paling benar.

Mengatakan bahwa agama Islam satu-satunya agama wahyu, tidak berakibat pada sikap menutup diri dalam bermuamalah dengan orang yang beragama lain. Meski Prof. al-Attas sangat tegas mengatakan hanya agama Islam agama wahyu dan murni dan agama lain sebagai produk budaya. Tetapi Prof. al-Attas memiliki sejumlah teman baik, berasal dari kalangan orintalis non muslim. Ia pun mengundang beberapa orientalis untuk mengajar di ISTAC seperti Prof. Hans Deiber, Prof. Paul Letink dan lainnya. Ketegasan mengatakan bahwa agama Islam yang dianutnya, bukanlah sebagai penghalang untuk berteman dengan orang yang berbeda keyakinan. Sikap yang dimiliki Prof. al-Attas sangat pantas menjadi renungan kita sebagai muslim, agar kita dalam berislam secara kaffah.

Racun sekularisme dan liberalisme sangat berbahaya. Penyakit ini pada sebagian orang muslim telah hinggap dan menjadi penyakit kronis. Akibatnya, ia meragukan akan kebenaran agama Islam sebagai satu-satunya agama yang bukan dihasilkan dari budaya, dana tau bahkan hasil dari ciptaan manusia. Menganggap bahwa agama adalah sama, dan meyakini semua agama adalah benar, hal itu merupakan kesesatan dalam berfikir.

Alhasil, apa malunya kalau kita mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang suci dan murni, dan juga merupakan agama wahyu dari Allah. Ia, karena memang benar adanya. Agama Islam bukan buatan Nabi Muhammad berbeda dengan agama lain, ajaran Islam pun juga adalah wahyu. Jadilah seorang muslim sejati, yang memiliki adab. Beradab dalam keyakinan, pikiran dan amaliahnya, tentu bila sesuai dengan syariat yang telah dirisalahkan Allah pada Nabinya yang agung. Oleh karenanya, jangan malu mengatakan “saya adalah seorang Muslim, dan Islam agama yang paling benar, tidak ada agama yang menyamainya. As-islamu Ya’lu Wala Yu’la alaihi. Wallahu’alam.

*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Probolinggo dan Anggota Community of Critical Social Research.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
kontakt proffound fistival. Contains custom information set by the web developer via the _setcustomvar method in google analytics. punta cana hotel whala ! bávaro.