SMRC: Calon Wakil Presiden Tidak Membantu Elektabilitas Calon Presiden

  • Bagikan
Tangkap layar

Dalam variabel kontrol, ditanyakan siapa yang akan dipilih jika Ganjar berhadapan dengan Anies dan Prabowo. Hasilnya Ganjar mendapatkan 41 persen, Prabowo 29 persen, dan Anies 23 persen. Ada 7 persen yang tidak menjawab.

Sementara dalam treatment Ganjar berpasangan dengan Airlangga melawan Prabowo dan Anies, suara Ganjar menjadi 37 persen, Prabowo 27 persen, Anies 25 persen, dan tidak jawab 11 persen. Jika berpasangan dengan Erick, Ganjar mendapat 36 persen, Prabowo 24 persen, Anies 26 persen, dan tidak jawab 14 persen. Jika berpasangan dengan Khofifah, Ganjar didukung 38 persen, Prabowo 24 persen, Anies 28 persen, dan tidak jawab 9 persen. Jika berpasangan dengan Mahfud MD, Ganjar mendapatkan 35 persen suara, Prabowo 26 persen, Anies 24 persen, dan tidak jawab 15 persen. Sementara jika berpasangan dengan Ridwan Kamil, Ganjar mendapat dukungan 40 persen, Prabowo 28 persen, Anies 22 persen, dan tidak jawab 10 persen.

Ada keragaman efek calon wakil presiden pada elektabilitas Ganjar. Namun keragaman tersebut, kata Saiful, tidak signifikan secara statistik. Dalam uji statistik di mana p-value terbesar 0,05, tidak ada satu pun nama calon wakil yang dimasukkan sebagai treatment yang mendekati 0,05 atau lebih kecil, bahkan semuanya di atas 0,1.

“Secara keseluruhan, semua nama yang dimasukkan sebagai calon wakil presiden dalam studi ini tidak membantu Ganjar jika dilihat dari sisi elektabilitas,” kata Saiful.

Karena itu, menurut Saiful, nama-nama tersebut tidak bisa dipilih sebagai cawapres dengan alasan untuk menaikkan elektabilitas Ganjar.

Kalau mau memilih di antara nama-nama ini (untuk menjadi cawapres), lanjutnya, pertimbangannya bukan elektabilitas, tapi alasan lain seperti kompetensi, leadership, atau alasan lain seperti mendukung agar pembangunan ekonomi ke depan bisa lebih kuat.

Eksperimen kedua adalah menguji efek calon wakil presiden pada elektabilitas Anies berhadapan dengan Ganjar dan Prabowo. Dalam variabel kontrol, ditanyakan bahwa jika Anies berhadapan dengan Ganjar dan Prabowo, akan memilih siapa? Anies mendapat dukungan 22 persen, Ganjar 40 persen, Prabowo 30 persen, dan belum jawab 9.

Siapa yang akan membantu menaikkan suara Anies jika terjadi persaingan di antara tiga nama? Dalam eksperimen, dimasukkan nama Airlangga. Pertimbangannya karena tokoh ini memiliki modal politik yang besar. Karena itu, jika dia tidak diambil Ganjar, maka mungkin bisa dipasangkan dengan Anies.

Nama kedua adalah Agus Harimurti-Yudhoyono (AHY). Ada pembicaraan tentang harapan Demokrat agar AHY bisa menjadi wakil presiden untuk Anies. Selanjutnya adalah Ahmad Heryawan (Aher) karena merupakan kader atau elit PKS. Selain itu, juga dimasukkan nama Andika Perkasa. Tokoh ini juga banyak dibicarakan karena posisinya sebagai mantan panglima TNI dan memiliki kedekatan dengan Nasdem. Kemungkinan ada pertimbangan teknokratik dan stabilitas politik yang melatar belakangi penyebutan nama Andika.

Selanjutnya adalah Khofifah. Bahkan sudah terjadi diskusi yang cukup serius di mana seorang kader atau elit Nasdem secara terbuka menyatakan Khofifah menjadi alternatif calon wakil presiden Anies. Pertimbangannya adalah bahwa Khofifah bisa mengatasi lemahnya dukungan Anies di Jawa Timur. Selain itu, Anies juga butuh memperkuat dukungan di kalangan NU.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Free ad network. punta cana : lujo, aventura y las playas más vibrantes.