Oleh :Widiyatmiko,S.Pd,M.M
harianjatim.com-Bojonegoro. “Perpisahan” diksi kata yang sebagian besar orang mungkin dianggap sebagai sesuatu hal yang paling menyedihkan dalam kehidupan, sebab apa karena perpisahan itu pastilah akan membuat hati menjadi gundah, kehilangan akan sesuatu hal yang selama ini dianggap bisa membahagiakan, dan bahkan bisa membuat gabut diri. “Laisal firoqi lil firoqi” tidaklah perpisahan itu sebuah perpisahan, yang mengandung banyak kisah dan kenangan dalam diri seseorang.
Namun Ada kalanya perpisahan itu hanya sementara, karena bisa jadi semesta ingin agar kita bisa belajar memahami bahwa perpisahan sebenarnya adalah cara takdir kembali menuliskan cerita untuk menemukan jalan pulang. Adalah sunnatullah, setiap pertemuan ada perpisahan. Begitu pun Ramadhan yang tanpa terasa saat ini kita sudah berada di penghujung akhir bulan ramadhan kepergiannya sebentar lagi akan menjadi keniscayaan yang tak dapat terelakkan lagi. Karena bagaimanapun inilah sebuah siklus kehidupan yang senantiasa datang dan pergi. Itulah roda kehidupan yang terus berjalan dan berputar mengitari kehidupan manusia.
Kepergian Ramadhan tentunya meninggalkan pesan perpisahan berharga. Ramadhan tidak butuh tangisan sesaat yang hanya dijadikan ratapan dan nostalgia tanpa dampak yang membekas dalam kehidupan kita. Namun bagaimana Proses pembiasaan ibadah selama bulan Ramadhan dapat dijadikan sebagai momentum perubahan bagi seseorang untuk mencapai dan menjadi pribadi yang paripurna sebagai hamba yang semakin taat dan tunduk terhadap segala perintahNya dan LarangaNya. Ibadah Puasa selam bulan Ramadhan bukanlah hanya sekedar puasa yang secara secara lahir, melainkan juga harus mampu menjadikan puasa secara batin, yakni menjaga hati dan pancaindra dari segala sesuatu yang dilarang Allah. Sabda Rasulullah SAW: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya selain lapar dan dahaga dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan pahala shalat malamnya selain begadang semata” (HR Ahmad).
Fenomena yang menarik yang terjadi dimasyarakat kita diakhir bulan ramadhan, dan bahkan telah menjadi sebuah tradisi dan membudaya direpublik +82 dapat dilihat dari masyarakat mulai menyibukkan diri dengan urusan-urusan duniawi, seperti persiapan pesta pada hari raya Idul Fitri. Mal-mal, plaza-plaza, serta berbagai pusat perbelanjaan lainnya mulai dipadati kaum Muslimin bahkan mereka rela antri di pintu masuk maupun pintu keluar arena parkir pusat perbelanjaan, berdesak-desakan di dalam mal, bahkan merasa ikhlas antri di kasir-kasir sejumlah departemen store dan supermarket hanya untuk membeli pakaian, makanan, serta barang-barang lainnya yang akan dipakai ketika Idul Fitri,serta sibuk memasak aneka kue kering serta mendekor ruang tamu demi menyongsong Idul Fitri. Bahkan mereka juga sibuk memasak aneka macam hidangan makanan dan minuman sebagai sajian untuk pesta saat idul Fitri. Semuanya itu menyebabkan jumlah shaf pada shalat berjamaah, termasuk shalat tarawih di masjid-masjid. Tadarrus Al Qur’an yang mulai ditinggalkan diakhir Ramadha, acara pengajian (ta’lim) pun semakin sepi peminat. Dan bahkan tidak sedikit pula bentuk amal-amal kebaikan lainnya yang telah ditinggalkan diakhir bulan Ramadhan.
Perpisahan dengan bulan ramadahan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi seorang muslim sejati, berakhirnya Ramadan, justru menjadi awal perjalanan baru untuk menapaki fase kehidupan selanjutnya yang lebih baik karena bagi seorang muslim sejati Perpisahan dengan bulan Ramadhan mengandung “pesan hikmah” ataupun pelajaran penting baginya yakni :
1.Menambah ketakwaan
Puasa dimaknai untuk menambah ketakwaan kepada Allah SWT. Ibadah puasa di bulan Ramadhan dapat dijadikan ajang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa juga menjadi sarana mengingat Allah melalui zikir yang dilantunkan kepada Allah.
2.Istikamah
Puasa Ramadhan juga merupakan latihan untuk menjadi istikamah atau tetap konsisten di jalan Allah.
3.Mencegah maksiat
Puasa dapat menjadi benteng bagi diri untuk mencegah melakukan perbuatan maksiat. Selama berpuasa, setiap orang diminta untuk menjaga hawa nafsu dan melindungi diri dari godaan setan
4.Melatih kepedulian
Puasa melatih kepedulian kepada sesama manusia. Dengan merasakan lapar tidak makan seharian, diharapkan seseorang dapat berempati dan peka pada orang miskin yang kelaparan. Sehingga, dapat menumbuhkan rasa saling membantu
5.Mengontrol emosi
Puasa mesti dilakukan dengan banyak bersabar. Oleh karena itu, setiap orang diharapkan dapat mengontrol emosi dari berpuasa selama sebulan penuh.
6.Qana’ah
Qanaah yaitu rela atau menerima takdir yang diberikan Allah. Dengan berpuasa muncul rasa syukur dan merasa cukup atas segala sesuatu yang diberikan Allah.
7.Sarana silahturahmi
Puasa Ramadhan juga ajang menjalin silaturahmi atau tali persaudaraan dengan keluarga, kerabat, dan teman, bahkan dengan orang-orang Muslim lainnya
Oleh karena itu, bergetarlah hati seorang muslim sejati jika puasa yang telah dijalankan tidak mengantarnya pada nilai-nilai takwa. Bergetarlah hatinya kalaulah puasa tidak bisa mencegahnya dari perbuatan dhalim antar sesama. Sungguh celakalah para alumnus Ramadhan yang mengabaikan pesan takwa dari kehidupan sehari-hari. Cukuplah Ranking ketakwaan menjadi kebanggaan dan pelajaran berharga dari ibadah puasa yang telah dilalui. Perpisahan merupakan ucapan yang penuh dengan rindu. Aku takut merindukanmu lebih berat Selamat Tinggal Bulan Suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan semoga tahun depan kita berjumpa lagi. Allahualam bisoab
Penulis adalah tenaga pengajar SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro


