Belajar Pada Nabi Ibrahim

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika*


Nabi Ibrahim salah satu nabi yang wajib diketahui oleh umat Islam. Nabi yang memiliki ketabahan dan kesabaran yang sungguh luar biasa. Ia tak hanya sebagai kekasih Allah, tapi sebagai seorang ayah penyayang pada puteranya.

Kisah yang bisa diteladani adalah di mana Nabi Ibrahim menginginkan keturunan (anak) dengan bertahun-tahun yang kala itu belum dianugerahi oleh Allah. Namun setelah memiliki keturuanan (anak) Allah menyuruhnya untuk menyembeli. Perintah itu ia dapatkan melalui mimpi yang benar (rukya as-Shadiqah). Mendapatkan perintah itu Nabi Ibrahim tak butuh berfikir panjang untuk merealisasikannya.

Begitu pun Nabi Ismail yang tak lain adalah putera Nabi Ibrahim. Mendengar cerita yang disampaikan bapaknya (Ibrahim) berkait perintah untuk menyembelihnya, ia pun tak banyak pertanyaan. Ismail menerima keinginan Nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah agar menyembeli dirinya.

Dua orang antara bapak dan anak sama-sama memiliki keluruhan adab pada dzat penciptanya. Sehingga apapun bentuk perintah Allah mereka berdua menerima dengan senang hati, dan bahkan bergembira. Meskipun pada akhirnya Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba dan Nabi Ibrahim tak jadi menyembeli seorang puteranya yang sangat ia sayangi.Inilah menjadi penyebab adanya kurban yang diritualkan pada setia hari raya idul adha.

Momen itu dapat dijadikan ibrah agar seorang manusia (hamba) harus rela mengorbankan apa saja yang Allah perintahkan. Tidak ada sesuatu apapun yang harus diberatkan saat melaksanakan perintah Tuhan. Sebab itu adalah bentuk penghambaan yang sejati.

Setidaknya ada dua hal yang dapat kita ambil dari cerita dua manusia hebat di atas, yaitu, pertama; sebagai hamba tidak merasa berat kehilangan harta benda termasuk juga seseorang yang di cintai. Karena semua yang di miliki manusia pada hakikatnya adalah titipan dari Allah yang maha bijaksana. Kedua; harus sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan Allah SWT. Kesabaran itu adalah puncak dari penghambaan manusia. Kesabaran dalam melaksanakan perintah Allah merupakan bentuk dari manifestasi penghambaan seseorang.

Menyambut hari raya kurban, setidaknya sosok manusia hebat itu harus dihadirkan di tengah-tengah aktifitas keseharian kita. Jangan sampai idul kurban berupa ritual tahunan yang menampilkan penyembelian hewan berupa sapi, kambing semata. Namun lebih dari itu adalah menghadirkan sikap, perilaku, komitmen dan pengorbanan seorang hamba Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pada Tuhannya yang maha esa.

Sebab, akhir-akhir ini kebanyakan umat islam telah kehilangan makna hari raya kurban. Sebagian bangga dengan banyaknya mendapatkan daging kurban, sebagian yang lain bangga dengan banyaknya berkurban hewan. Sangat minim berjuang menghilangkan ego untuk menjadi manusia paripurna.

*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton Probolinggo dan Anggota Community of Critical Social Research

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Infos zum event proffound fistival. Contains custom information set by the web developer via the _setcustomvar method in google analytics. Viajes a punta cana.