Oleh : Ponirin Mika*
Salah satu dari maksiatnya lisan adalah suka melaknat pada sesama makhluknya Allah SWT. Hujjatul Islam Imam Ghazali mengatakan perilaku suka melaknat merupakan salah satu perbuatan dosa yang harus dihindari oleh setiap orang.
Menurutnya, melaknat siapapun dari makhluknya Allah merupakan perbuatan lidah yang buruk. Melaknat sesuatu berarti menganggap hal yang dilaknat seolah jauh dari Allah. Padahal Allah selalu melimpahkan rahmat kepada setiap makhluk-Nya. Sebab, melaknat makhluk, merupakan hak Allah. Manusia tidak bisa ikut campur tangan di dalamnya.
Syekh Nawawi al-Bantani di dalam kitab Moruqil Ubudiyah syarah dari kitab Bidayatul Hidayah menegaskan agar orang berhati-hati dalam urusan laknat-melaknat. Beliau menyarankan agar orang tidak melaknat meskipun apa yang dikatakannya memang benar, karena tidak ada manfaat yang ditimbulkannya. Lidah seharusnya dibuat sibuk memuji Allah. Lidah juga sebaiknya dicegah dari berdoa kepada Allah untuk mencelakakan seseorang, walaupun ia seorang penindas.
Perilaku melaknat di akhirat nanti akan diminta pertanggung jawaban. Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang akan diberikan pada orang yang memiliki perilaku tersebut, diantaranya adalah; untuk apa kamu melaknat si fulan, karena apa kamu melaknatnya, dan mengapa kamu melaknat pula kepada sesama makhluknya Allah SWT.
Dalam ungkapan laknat itu ada kebencian, ketidak sukaan, kesombongan, keangkuhan juga ada sikap diri yang menganggap lebih baik dari yang lain. Sikap yang tidak terpuji ini akan mengotori hati menjadi pendendam yang tak berkesudahan.
Mengapa islam melarang melaknat pada sesama. Sebab tidak ada satu pun dari makhluknya Allah yang lepas dari ketentuan Allah. Seumpama kita melaknat orang kafir, kita pun tidak tahu takut ia (kafir) mati dalam keadaan beriman kepada Allah sedangkan kita sebaliknya. Kita melaknat anjing, kita pun tidak tahu , jangan-jangan perilaku kita lebih buruk daripada anjing.
Walhasil, orang yang melihat dengan mata kasih sayang, pandangan rahmat, ia akan melihat siapapun dari makhluknya Allah dengan penglihatan yang bijaksana.
*) Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo


