Santri Berbicara Politik

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika*


Berbicara politik tak hanya berada di gedung-gedung dewan, gubenur, bupati, kepala-kepala desa. Di warung-warung nasi dan kopi pun terjadi perbincangan politik baik dalam negeri maupun luar negeri. Bias positif demokrasi telah menyebar luar pada semua elemen masyarakat baik tingkat kota maupun desa.

Tak terkejut, seorang santri juga bisa membicarakan politik. Saat waktu luang di tengah kesibukan saya mengerjakan tugas sebagai pengurus pesantren. Saya bersama Ainul Yakin, Didik P Wicaksono bertiga berdiskusi berkait isu politik nasional yang terjadi saat ini. Bakal calon presiden 2024 tak luput dari teropong orang bertiga yang tak lain adalah seorang santri. Ketiganya mengalisis kelebihan dan kekurangan masing-masing bakal calon yang menyeruak di media massa. Sebut saja bakal calon itu adalah Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.Tak terasa pembicaraan kita telah mendapatkan perhatian dari beberapa santri yang lain. Mereka menikmati perbincangan kami hingga berjam-jam. Kebebasan berbicara politik merupakan buah yang bisa dinikmati pasca ode baru. Dahulu saat orde baru berkuasa, pembicaraan politik hanya berada di ruang eksekutif dan legislatif. Banyak orang merasa takut berbicara politik karena nyawa menjadi taruhan di kala itu.

Didik P Wicaksono yang mendukung Prabowo Subianto memberikan ungkapan bahwa ia seorang negarawan sejati yang memiliki jaringan luas serta memahami percaturan politik dari generasi ke generasi begitu pun Ainul Yakin. Sedangkan saya memberikan analisis terhadap keunggulan seorang Anies dan Ganjar yang sama-sama mempunyai potensi untuk menjadi presiden.

Kesadaran santri tentang pendidikan politik tersebut itu harus di miliki sebagai pengetahuan agar berbicara politik tidaklah tabu dalam dunia Pondok Pesantren. Kami bertiga adalah seorang santri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang didirikan oleh alm. KH. Zaini Mun’im. Di Pesantren Nurul Jadid ini ada prinsip yang telah menjadi ruh dan harus diinternalisasikan pada seluruh santri yaitu panca kesadaran. Salah satu panca kesadaran yang ada adalah kesadaran berbangsa dan bernegara. Kesadaran ini menandakan bahwa santri di Pesantren Nurul Jadid harus memiliki pengetahuan politik agar dapat menyumbang ide dan gagasan berkait perpolitikan yang terjadi pada anak bangsa.Kesadaran berbangsa menjadi salah satu ciri santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid di tandai dengan banyaknya kegiatan kebangsaan oleh santri di pesantren ini.

Betul, jika alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid setelah keluar menjadi alumni mampu bersaing di tengah-tengah masyarakat dengan menempati bidang apapun termasuk juga bidang politik. Ini selaras dengan pesan Kiai Zaini “Saya tidak rela memiliki santri yang tidak berjuang di masyarakat”.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
teilnehmer proffound fistival. Frozen bounce house. Bienvenido a la sección dedicada a cayo santa maria :.