Dari tiga partai terbesar, fluktuasi swing voters sangat terbesar terlihat pada Gerindra. Pada November 2022, misalnya, swing voters Gerindra sempat menyentuh angka 65,6 persen. Sementara pada Golkar, ada kecenderungan swing voters pada partai ini mengalami peningkatan dalam 4 tahun terakhir, namun peningkatannya tidak terlalu ekstrim. Hal yang sama terjadi pada PDIP, dalam empat tahu mengalami kenaikan swing voters, namun dengan dinamika yang relatif rendah.
Sementara swing voters Demokrat mengalami peningkatan yang cukup tajam dari 16,7 persen pada Agustus 2019 menjadi 48 persen pada awal Mei 2023. Namun, Saiful menjelaskan, bahwa jika melihat bahwa perolehan suara Demokrat saat ini kurang lebih sama atau sedikit di bawah perolehan suara 2019, artinya selain ada yang keluar, pemilih baru juga masuk ke partai ini. Hal ini berbeda dengan PAN di mana yang keluar cukup banyak, tapi pemilih baru belum banyak yang masuk.
PAN, PPP, dan Nasdem juga memiliki fluktuasi swing voters yang sangat tinggi. Saiful memberi catatan bahwa Nasdem adalah partai pemegang kursi keempat terbesar di parlemen, namun sekarang belum mendapatkan pemulihan suara yang memadai. Partai ini pernah mendapatkan swing voters 78,1 persen pada Desember 2022.
Saiful menilai fluktuasi yang besar menunjukkan bahwa suara partai-partai masih bisa berubah tergantung bagaimana mereka bekerja.
Secara keseluruhan dalam empat tahun terakhir (2019-2023), proporsi swing voters terbesar ada pada PAN 42,9 persen, disusul Nasdem 37,2 persen, Gerindra 35,8 persen, Demokrat 34,1 persen, PPP 32,8 persen, Golkar 27,7 persen, PKS 20,7 persen, dan yang terendah PDIP dan PKB masing-masing 20,5 dan 20,1 persen.
Saiful menjelaskan bahwa ada kecenderung partai-partai lama, yang lahir pada Pemilu pertama Reformasi atau sebelumnya, memiliki swing voters yang relatif kecil dibanding partai yang lahir belakangan. Namun hal ini tidak terjadi pada PAN. PAN adalah juga partai yang lahir ketika Reformasi bergulir, namun tingkat swing votersnya tertinggi. Saiful menduga hal ini terkait dengan lahirnya partai baru yang memiliki latar belakang sosiologis yang relatif sama dengan PAN.
Selain itu, lanjut Saiful, partai-partai di Indonesia umumnya terkait dengan figur tokoh. PAN sebelumnya memiliki figur Amin Rais. Dan Amin Rais sekarang mendirikan partai baru. Ada kemungkinan sebagian pemilih PAN sekarang menunggu keputusan.
Aspek Demografi


