Apakah fenomena swing voters yang besar ini terkait dengan fenomena pemilih rasional yang tumbuh di Indonesia? Saiful menjelaskan bahwa pemilih rasional salah satunya berhubungan dengan tingkat pendidikan. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih rasional dalam menentukan pilihan. Rasionalitas pemilih juga terkait dengan latar belakang tempat tinggal, pemilih perkotaan cenderung lebih rasional karena lebih mudah mengakses informasi. Hal lain adalah usia. Di segmen mana pemilih yang loyal dan swing itu cenderung berada?
Berdasarkan data gabungan survei nasional 2019-2023, dari sisi gender, terlihat tidak ada perbedaan antara swing voters pada laki-laki dan perempuan. Karena itu aspek gender tidak punya pengaruh pada swing voters. Dari sisi desa-kota, variabel ini umumnya tidak memiliki pengaruh signifikan pada swing voters masing-masing partai, kecuali pada PKS. Ada 24 persen pemilih PKS di desa yang merupakan swing voters, sementara yang kota hanya 17 persen.
“Pemilih PKS di perkotaan lebih loyal dibanding yang perdesaan,” kata Saiful.
Saiful melihat bahwa karakteristik pemilih PKS memang dari kalangan kelas menengah, terpelajar, dan tinggal di kota. Karena itu di kota, pemilih PKS lebih sedikit yang swing. Yang potensial pindah adalah di perdesaan. Ini mengindikasikan, menurut Saiful, bahwa pemilih PKS di perdesaan kurang ideologis, lebih merupakan hasil mobilisasi. Untuk sementara, karena Pemilunya masih jauh, kemungkinan PKS belum banyak bekerja di perdesaan. Sementara ada kemungkinan partai lain yang sudah bekerja bisa menarik suara PKS di perdesaan.
Dari sisi usia, pemilih swing PKB cenderung datang dari pemilih yang lebih senior. Ada 19 persen pemilih PKB yang berusia 55 tahun ke atas pemilih yang kemungkinan berubah pilihan, sementara yang kalangan 25 tahun ke bawah hanya 13 persen. Loyalis PKB cenderung datang dari kalangan yang lebih muda. Saiful melihat hal ini mencerminkan elit politik PKB yang cenderung lebih muda. Muhaimin Iskandar, misalnya, dari sisi usia lebih muda dari umumnya ketua-ketua umum partai.
Pemilih PDIP juga memiliki kecenderungan pemilih loyal di kalangan pemilih senior dibanding kalangan muda, namun selisihnya tidak begitu signifikan. Sementara swing voters Golkar di kalangan anak muda (25 tahun ke bawah) mencapai 34 persen dan yang berumur 55 ke atas sebanyak 18 persen. “Regenerasi di kalangan pemilih Golkar tidak terjadi. Partai ini menua,” kata Saiful. Ini, menurut Saiful, menunjukkan bahwa Golkar tidak berhasil menggarap anak muda secara lebih baik. Jika Golkar ingin lebih kompetitif, maka tidak bisa dihindarkan Golkar harus bekerja lebih serius pada pemilih yang lebih muda.
Hal yang sama terjadi pada PPP, proporsi pemilih muda yang loyal lebih sedikit dibanding dengan yang tua. 37 persen pemilih PPP dari yang berusia 25 tahun ke bawah menyatakan kemungkinan mengubah pilihan, sementara yang berusia 55 tahun ke atas 28 persen. Demikian pula PAN, pemilih swing di kalangan usia 25 tahun ke bawah 47 persen, dan usia 55 tahun ke atas 32 persen.
Dari sisi pendidikan, ada perbedaan proporsi pemilih swing di Golkar. Pada kalangan berpendidikan tinggi, swing voters Golkar mencapai 31 persen, sementara yang berpendidikan SD ke bawah sebanyak 23 persen. Sebaliknya dengan PKS, swing voters partai ini lebih banyak di kalangan berpendidikan SD ke bawah (24 persen) dibanding yang berpendidikan tinggi (15 persen). Pola yang sama terjadi pada PPP dan PAN. Ada 31 persen pemilih berpendidikan SD PPP tidak loyal, sementara yang berpendidikan tinggi 25 persen. Pemilih bependidikan SD PAN yang kemungkinan mengubah pilihan sebanyak 45 persen, sementara yang berpendidikan tinggi 37 persen.
Sementara partai seperti PKB, Gerindra, PDIP, Nasdem, dan Demokrat tidak memperlihatkan pola yang berbeda dari sisi pendidikan terhadap proporsi swing voters partai-partai tersebut.
Saiful menyimpulkan bahwa secara keseluruhan, swing voters di Indonesia besar dan itu memberi peluang bagi partai untuk membesarkan perolehan suaranya. Dari sisi demografi, swing voters tidak merata di antara semua partai.
Video utuh presentasi Prof. Saiful bisa disimak di sini:


