Oleh : Ponirin Mika*
Probolinggo.HarianJatim. Com – Di era modern saat ini, tidak hanya mulut yang bisa berbicara. Tapi jari-jari bisa mengungkapkan kata-kata melalui tulisan di media sosial dan media publikasi lainnya. Tulisan yang baik akan bermanfaat bagi penulis dan orang yang membacanya begitupun sebaliknya. Setidaknya, dua anggota tubuh yang paling penting untuk di jaga oleh manusia. Yaitu tangan dan mulut. Hanya lewat tulisan singkat ini, saya akan menulis penyakitnya lisan.
Mulutmu, harimaumu. Peribahasa ini sering kali dianggap mempunyai konotasi negatif bahwa setiap kata yang kita lontarkan bisa menyakiti orang lain. Meski begitu, peribahasa ini juga punya makna bahwa setiap kata punya kekuatan yang sangat besar efeknya bagi diri sendiri maupun orang lain. Efeknya bisa jadi buruk maupun baik. Ya, kata-kata memiliki banyak manfaat. Meskipun terlihat remeh, ada banyak manfaat mendalam yang dapat diperoleh dengan kata-kata. Salah satunya adalah untuk menyembuhkan. Memilih kata-kata yang tepat dalam situasi cemas dapat menenangkan seseorang. Misalnya, dengan mengingatkan seseorang bahwa mereka dicintai, dihormati, dan dihargai.
Mengapa mulut diserupakan dengan harimau? Imam Ghazali dalam kitab muroqil ubudiyah menjelaskan tentang penyakit lisan. Salah satu penyakit lisan adalah mengutuk seseorang, dengan berharap agar orang lain mendapatkan musibah atau celaka. Mengutuk orang lain merupakan perbuatan yang tercela, didalamnya ada unsur peremehan, pelaknatan, dan segala perilaku lisan yang tidak terpuji. Rasulullah SAW bersaba yang arinya; Lisanmu adalah singamu. Kalau lisanmu dibiarkan, maka akan menerkammu, sebaliknya jika lisanmu di jaga dengan baik, maka akan menyelamatkanmu.
Imam Nawawi al-Bantani menyebutkan bahwa anggota tubuh yang sering melakukan kesalahan adalah lisan. Kebanyakan orang yang celaka bahkan mati terbunuh akibat lisannya. Betul juga pepatah yang mengatakan; kalau tubuh terluka akibat pedang, masih ada harapan semubuh. Tapi jika hati terluka akibat lisan kemana obat akan di cari.
Mengingat bahayanya lisan tersebut, Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq memberi batu pada lisannya agar tidak sembarangan mengelurkan perkataan yang tidak baik. Ia hanya berbicara sesuatu yang penting saja. Suatu ketika ada orang bermimpi melihat Khalifah Abu Bakar dalam mimpinya. Iya bertanya pada Abu Bakar. Apa yang menyebabkan engkau (Abu Bakar) mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah. Khalifah Abu Bakar menjawab, saya menjaga mulut dan memperbanyak mengucapkan kalimat Lailaha illallah.
Rasulullah SAW bersabda ” Barang siapa yang beriman kepada Allah maka berbicaralah yang baik atau diamlah”.
Diam adalah pilihan yang terbaik untuk menjaga mulut. Bahkan anjuran untuk uzlah dari komunitas yang membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, pilihan yang tepat agar dilakukan oleh seseorang.
*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo


