Oleh : Ponirin Mika*
Probolinggo-harianjatim.com. Hari ini saya mendengar kabar duka agak terlambat berkait wafatnya KH. Hefny Mahfudz salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Saya bersiap mau mengisi materi “News Faradigm” di acara TOT untuk kakak asuh yang dipersiapkan pada kegiatan Orientasi Santri Baru (Osabar), tiba-tiba A. Jazim ketua tim pelaksana Osabar memberi kabar atas meninggalnya Kiai Hefny. Saya setengah tidak percaya pada informasi tersebut. Kabar itu, saya tanyakan di grup Whatshapp ex-officio PSB dan saya menemukan jawaban atas kepergian beliau untuk selamanya. Tidak ada kata yang terucap dari mulut saya, selain kata “ya Allah”. Kiai Hefny sosok familiar di tengah-tengah masyarakat telah di panggil oleh Allah dan meninggalkan kita semua.
Sosok Kiai Hefny Mahfudz
Kiai Mahfudz sosok alim yang memiliki keterampilan dakwah yang sangat bagus. Methode dakwahnya sangat digandrungi oleh lapisan masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Dari kalangan pendidikan atas, menengah dan bawah pun cara dakwah yang dilakukan beliau mendapatkan respon positif.
Salah satu kelebihan beliau adalah meskipun menghadiri undangan dalam satu hari di tiga tempat yang berbeda. Kiai Hefny menyampaikan materi dakwahnya berbeda-beda, tak mengulangi pembahasan yang sama. Ia pun sangat alim membuat joke-joke yang membuat audiens terhibur dan tidak merasa capek meskipun ber jam-jam mengikutinya. Tentang kewafatan beliau, banyak masyarakat yang merasa kehilangan pada sosok pengayom, dan berbaur pada masyarakat tanpa melihat status sosial. Beliau sangat menjaga tatakrama dan sopan santun. Bahkan sikapnya yang membangun keakraban dengan masyarakat menjadi ciri khasnya.
Mengaji pada Beliau
Dulu, saat saya masih mondok di Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Saya istikamah mengikuti pengajian beliau setiap malam di mulai sejak pukul 21. 00-23.00 WIB di Musalla al-Insyiroh Wilayah Zaid bin Tsabit (K). Saya bersama teman saya, Ahmad Hudri berangkat dari wilayah pusat (Gang D), untuk mengikuti pengajian kitab yang di ampu beliau. Kitab yang di bahas adalah Alfiyah Ibnu Malik, Ta’limul Muta’allim, Muroqil Ubudiyah, Tafsir Jalalain, Minhajul ‘Abidin, untuk kitab alfiyah di baca setiap malam, dan untuk kitab lainnya di baca secara bergantian saban malamnya. Dalam mengajar, beliau sangat telaten, dan terkadang saat pengajian akan di akhiri, beliau selalu menanyakan perilhal penjelas alfiyah yang sudah di baca sebelumnya. Terkadang pula, beliau meminta santri membaca ulang kitab yang telah di kaji. Saya baru berhenti ikut mengaji setelah hamper mau menikah. Pada saat itu tidak focus belajar yang ada dalam pikiran saya adalah menikah. Kejadian ini yang membuat saya tidak khatam satu kitab pun yang di kaji beliau. Meskipun saya telah lama berhenti mengaji pada beliau, saya bersyukur beliau masih ingat saya, dan sering menanyakan kabar pada saya saat bertemu di acara-acara di masyarakat.
Kini beliau telah tiada. Dan tidak akan menemani kita di tengah-tengah masyarakat dengan dakwah-dakwahnya. Beliau lebih di sayang Allah untuk segera ditempatkan di surganya.
Kiai…
Saya bersaksi engkau orang baik dan insya Allah husnul khatimah. Selamat bertemu kekasih njenengan yang lebih sayang pada njenengan di alam keabadian.
*Ketua Lapesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo.


