Reporter: harianjatim
Sumenep-harianjatim.com. Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya melaksanakan pemberdayaan kader posyandu di Pulau Kangean dan Pulau Mamburit, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Tujuannya, agar kader dapat melakukan penilaian status gizi serta skrining stunting secara benar.
Tim pengabdian yang terdiri dari gabungan Dosen dan mahasiswa itu, diantaranya; Trias Mahmudiono, PhD (Ketua), Dr. Diah Indriani, S.Si., M.Si dan Ira Suarilah Soediantoro, PhD, dan dibantu Nining Tyas dan Abdullah Al Mamun, mahasiswa S3 serta sejumlah mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair. Selama dua hari di pulau Kangean, pada 22-23 Juni 2023, juga hadir Camat Arjasa, Husairi Husein, Kepala TU Puskesmas Arjasa, Adi Munip, dan sejumlah kader posyandu di dua pulau tersebut.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Trias Mahmudiono, PhD mengatakan, pemberdayaan kader posyandu penting dilakukan agar kader dapat melakukan penilaian status gizi serta skrining stunting secara benar di wilayah Puskesmas Arjasa khususnya dan Pulau Kangean secara umum.
”Dalam kegiatan ini, meliputi Pemberdayaan Kader Posyandu terkait Gizi serta Penilaian Status Gizi Balita serta Skrining Balita Stunting. Kader diberi pengetahuan terkait gizi balita, pemberian makan pada balita, serta prosedur penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan interpretasi status gizi anak. Kemudian, dilakukan pula praktek simulasi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan balita,” ujar Trias Mahmudiono.
Selain melakukan kegiatan Penilaian Status Gizi Anak, tim juga melakukan kegiatan demo masak Makanan Balita Tinggi Zat Gizi, yaitu mie dan bakso yang berbahan dasar pangan lokal, yaitu anggur laut dan ikan tongkol. Dengan kegiatan tersebut, lanjutnya, diharapkan kader akan menularkan kemampuan memasak makanan yang bergizi berbahan pangan lokal kepada ibu-ibu balita.

Trias Mahmudiono menerangkan, kegiatan kedua yang dilakukan oleh Tim Universitas Airlangga, melakukan skrining balita stunting di Pulau Mamburit. Kegiatan tersebut diikuti oleh hampir 100 balita yang tinggal di Pulau Mamburit. Skrining yang dilakukan adalah pengukuran tinggi badan.
”Setelah kegiatan skrining dilakukan, kami dari Tim Universitas Airlangga menyerahkan stadiometer sebagai alat untuk melanjutkan kegiatan skrining balita stunting di kemudian hari. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Airlangga membuktikan bahwa amakan menjadi bagian dari usaha pemerintah dalam mewujudkan penurunan stunting di Indonesia serta mewujudkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang lebih sehat,” tegasnya penuh harap.
Menariknya, salah satu kader posyandu di Puskesmas Arjasa menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh Tim Unair memberikan dampak besar dan positif bagi kader. Alasannya, dengan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan, kader akan dapat membantu tenaga kesehatan untuk melakukan penilaian status gizi balita secara benar di posyandu. ”Karena kader merupakan orang terdekat bagi ibu-ibu balita,” imbuhnya.
Sebelum melakukan pemberdayaan kader, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Trias Mahmudiono, PhD menjelaskan, kesehatan merupakan suatu hal yang penting dalam menentukan kualitas hidup seorang anak di masa sekarang maupun masa depan dan erat kaitannya dengan status gizi anak.
Saat ini, lanjutnya, masih banyak anak mengalami masalah gizi, salah satunya stunting. Menurut UNICEF, balita yang mengalami stunting di dunia pada tahun 2020 mencapai 149.2 juta balita. Sedangkan berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022, angka stunting di Indonesia mencapai 21.6 persen.
”Stunting tidak hanya menyebabkan ukuran tubuh yang lebih pendek daripada anak seusianya, namun juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang seperti terjadinya diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, dan sindrom metabolik lainnya. Selain itu, stunting juga dapat menimbulkan keterbatasan perkembangan otak sehingga dapat menurunkan kemampuan belajar dan produktivitas saat dewasa nanti,” terangnya.
Dijelaskan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan dan mencegah terjadinya stunting di Indonesia, yang merupakan wujud nyata dukungan terhadap kesuksesan tercapainya Sustainable Development Goals (SDG’s) poin 2 yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi lebih baik serta mendukung pertanian berkelanjutan.
Upaya penurunan dan pencegahan stunting juga merupakan bentuk perwujudan SDG’s poin 3, yaitu memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia. Salah satu bentuk upaya pencegahan stunting adalah dengan melakukan monitoring status gizi secara kontinu. Penilaian dan monitoring status gizi secara dini perlu dilakukan untuk melakukan antisipasi munculnya stunting.
Monitoring status gizi sudah dilakukan secara kontinu di posyandu yaitu kegiatan penimbangan setiap satu bulan sekali dan pengukuran tinggi badan setiap bulan timbang, yaitu Pebruari dan Agustus. Kegiatan posyandu dapat berjalan setiap bulannya tidak hanya karena peran tenaga kesehatan, namun lebih dari itu, bantuan kader posyandu saat mendukung berjalannya kegiatan posyandu.
”Itulah pentingnya kader posyandu harus diberikan pemahaman yang komprehensif tentang penilaian status gizi anak serta skrining balita stunting agar kasus stunting di lapangan dapat segera terdeteksi. Kedepan, terutama di Pulau Kangean ini, tidak akan ada lagi kasus stunting,” pungkasnya penuh harap.

Baca Juga : Harta Karun Lumpur Lapindo Lebih Mahal dari Emas
Ikuti informasi terkini melalui harianjatim.com.
(rls/red)


