1 Muharram Momentum Evaluasi Diri

  • Bagikan

Penulis : Ponirin Mika*

Probolinggo.HarianJatim.Com- Manusia tempat salah dan khilaf. Ungkapan ini sering terdengar oleh telinga kita. Memang makhluk yang bernama manusia tidak terlepas dari dosa dan alpa. Ini merupakan kodrat manusia yang harus disadari setiap saat. KH. Moh. Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid mengemukakan, paling baiknya manusui bukanlah dirinya tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi ia mengakuai dan menyesali kesalahan yang diperbuatnya.

Kiai Zuhri Zaini menegaskan, bahwa tidak mungkin manusia lepas dari kesalahan. Baik kesalahan itu di sengaja maupun tidak di sengaja. Oleh sebab itu, manusia yang penuh penyesalan terhadap perbuatan tidak baik yang ia lakukan menunjukkan i’tikad baik yang ada pada dirinya untuk menjadi insan kamil. Allah telah memberikan banyak kesempatan waktu bertaubat pada hambanya. Selain dari bulan ramadan ada bulan muharram yang dapat dijadikan momentum evaluasi diri bagi seorang hamba.

Tahun Baru Islam 1 Muharram menjadi momentum untuk mengevaluasi diri dan introspeksi dalam bernegara serta bermasyarakat. Kita belajar, kita mengevaluasi diri, sudah berapa banyak diri kita melakukan sesuatu yang berguna bagi diri, bagi lingkungan, lalu meningkat bagi masyarakat dan yang lebih besar lagi tentunya bagi bangsa dan negara. Jadi apa yang sudah kita perbuat dan berguna untuk itu semua. Sudahkah kita melakukan yang terbaik untuk semua

Peringatan 1 Muharram 1443 Hijriah dapat dimaknai dalam dua dimensi baik secara personal dan sosial. Secara personal, lanjut dia, 1 Muharram dimaknai dengan melakukan muhasabah atau evaluasi diri, mujahadah atau berjuang bersungguh-sungguh dan muqarabah atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Sedangkan dalam dimensi sosial dirinya mengajak umat islam untuk terus berusaha, berjuang dan salin tolong menolong agar dapat menjaga keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Evaluasi diri tersebut dapat didorong oleh semangat hijrah ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah menuju ke Madinah dalam membangun suatu peradaban baru, yang menjadikan Madinah sebagai awal peradaban baru, dari gelap menuju terang. Mujahadah Nabi Muhammad untuk mewujudkan negara yang adil dan makmur dengan keadilan yang merata tengah termanifestasi dari spirit hijrahnya.

Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri pada saat di Madinah juga membuka ‘kran’ untuk melakukan interaksi sosial kepada siapapun. Tidak hanya kepada sesama umat Islam, tetapi juga kepada umat lainnya seperti Yahudi Nasrani dan lain-lain baik itu dalam dalam bidang perdagangan, politik, sosial dan bahkan budaya.

Setidaknya, pelajaran yang dapat di petik oleh kita sebagai umat Nabi Muhammad untuk meneladani diri beliau dalam mengarungi kehidupan. Tentu dengan terus menerus bermujahadah dalam menjaga diri agar selamat dari akidah, pikiran dan aktifitas yang menyimpang. Wallahu’alam.

*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
C/o dirk bachhausen. Enter address information (edit). Viajes a punta cana.