Saiful Mujani: Rakyat Tidak Menghendaki MPR Kembali Menjadi Lembaga Tertinggi Negara

  • Bagikan
Gedung MPR RI (ist)

Saiful menyatakan bahwa ada sistem presidensial di bawah Bung Karno dan Soeharto, tapi itu sistem presidensial otoritarian. Reformasi mengoreksinya dan membuat sistem presidensialisme yang sebenarnya seperti yang sekarang dianut. Dan hasilnya sangat baik. Indonesia menjadi salah satu negara yang kuat secara ekonomi di dunia sekarang. Dan itu hasil dari sistem yang sekarang dianut: presidensialisme.

Lebih jauh Saiful menyatakan bahwa sikap untuk mempertahankan sistem presidensialisme ini terkait dengan visi bagaimana melihat Indonesia ke depan, bukan ego kepentingan politik sempit dan sesaat. Kalau yang dikedepankan adalah kepenting politik sesaat, egoistik, dan untuk kepentingan dirinya sendiri, hal tersebut tidak akan mendapatkan respons yang mudah dari masyarakat. Hal itu juga potensial memunculkan ketidaksepahaman di tingkat elit.

Dia mengemukakan soal pengalaman ketika ada gagasan untuk memperpanjang periode presiden atau menunda pemilihan umum (Pemilu). Sebagian partai menunjukkan keinginan untuk mendukung gagasan itu. Karena mereka mendapatkan insentif politik: tanpa Pemilu mereka bisa mempertahankan kekuasaan. Tapi kenyataannya insentif itu tidak diambil dan gagasan perpanjangan periode presiden dan penundaan Pemilu ditolak. Menurut dia, itu salah satunya karena adanya partai oposisi. Kalau tidak ada partai oposisi, kemungkinan gagasan itu akan diterima. Walaupun kecil, Demokrat dan PKS, tapi suara mereka cukup penting untuk menolak gagasan tersebut.

Namun ada dua yang betul-betul mengejutkan, kata Saiful. Pertama adalah sikap dari DPD yang tidak mendukung gagasan tiga periode dan penundaan Pemilu. Kedua, yang lebih mengejutkan adalah sikap Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan yang juga menolak gagasan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode dan penundaan Pemilu. Padahal sebagai partai paling besar, PDI Perjuangan bisa mempertahankan kebesarannya tanpa harus capek mengikuti Pemilu. Seharusnya mereka ambil gagasan tersebut, tapi ternyata tidak. Penjelasannya adalah tidak ada lain kecuali adanya visi politik pimpinan PDI Perjuangan sendiri yang melihat bahwa Konstitusi harus ditegakkan.

“Konstitusi adalah fondasi kita dalam bernegara. Kalau itu saja dengan mudah bisa diubah, maka sumber instabilitas akan muncul dari sana,” jelas penulis buku Muslim Demokrat tersebut.

Saiful melihat tidak terlihat ada konflik antara yang menginginkan tiga periode presiden dan penundaan Pemilu dengan yang tidak mau. Menurut dia, penolakan dari PDI Perjuangan tersebut betul-betul bersumber dari komitmen pada Konstitusi. PDI Perjuangan punya sejarah yang cukup panjang. Mereka adalah kekuatan utama yang beroposisi pada Orde Baru. Mereka yang menjatuhkan Orde Baru. Amandeman UUD yang sekarang berlaku adalah hasil dari Reformasi tersebut. Dan gerakan tersebut hampir melekat dengan PDI Perjuangan. PDI Perjuangan sejauh ini komit dengan gerakan Reformasi tersebut. Dan patut disyukuri bahwa kita memiliki partai dengan kekuatan besar seperti PDI Perjuangan yang memiliki komitmen pada Konstitusi.

“Kalau tidak ada PDI Perjuangan kemarin, saya kira, Demokrat, PKS, dan DPD akan mudah dilewatkan (untuk meloloskan gagasan tiga periode dan penundaan Pemilu), karena akan ada lebih dari 75 persen kekuatan yang ada di MPR akan diraih jika PDI Perjuangan tidak menyempal,” jelasnya.

Karena itu, Saiful menyatakan berharap PDI Perjuangan kembali meluruskan agenda politik jangka panjang Indonesia, meneguhkan dasar bernegara, yaitu Konstitusi, yang selama ini sudah dijalani dengan cukup baik dilihat dari pelbagai aspek dan dengan perbandingan di pelbagai negara di dunia.

“Adalah keharusan untuk menjaga Konstitusi yang sudah baik mengantarkan Indonesia seperti sekarang. Tentu ada kekurang, tapi bukan pada Konstitusi, melainkan pada bagaimana menjabarkan Konstitusi tersebut dalam kehidupan politik,” kata dia.

Saiful melanjutkan bahwa kegagalan gagasan tiga periode presiden dan penundaan Pemilu, salah satunya karena ada dinamika di tingkat elit yang tidak solid mendukungan usulan tersebut. Di sisi yang lain, ada aspirasi yang kuat di masyarakat yang resisten pada ide tiga periode presiden dan penundaan Pemilu. Aspirasi ini bisa diketahui melalui survei opini publik dan diberitakan cukup intensif oleh media massa. Sikap media massa juga cukup sejalan dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat tersebut. Ide mengenai tiga periode presiden dan penundaan Pemilu tersebut adalah ide yang tidak bijaksana karena kurang mempertimbangkan dengan baik aspirasi dan resistensi yang tumbuh dalam masyarakat.

Video utuh presentasi Prof. Saiful bisa disimak di sini:

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Booking todo incluido ofertas al caribe.