Oleh : Hirzan Anwari*
Setiap seminggu sekali, saya melintasi jalan Pantura Probolinggo. Mulai dari ujung timur, Paiton, tempat saya berdomisili, sampai ujung barat, Tongas. Perjalanan itu berlanjut sampai Malang, tempat saya kuliah. Sepanjang melintasi jalan Pantura Probolinggo, saya selalu mewanti-wanti agar bensin motor saya tidak kehabisan sampai SPBU yang menyediakan pertalite. SPBU pertama yang saya lewati terletak di desa Karanganyar. Di SPBU ini, bensin jenis pertalite seringkali habis. Itu sebabnya, ketika pertalite tersedia, banyak pengendara rela panas-panasan mengantre panjang mengular demi mendapatkan bensin itu.
Keadaan ini tidak berlaku bagi pengendara yang buru-buru seperti saya. Dengan terpaksa (sambil sesekali melihat indikator bensin), saya melanjutkan perjalanan hingga SPBU selanjutnya, di Kebonagung. Kondisi di sini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Pertalite sering kering. Dan selalu disesaki pengendara yang terpaksa antre demi setetes pertalite. Pemandangan ini saya lihat sampai pom bensin Curah Sawo.
Barulah saat tiba di daerah Dringu, saat laju motor yang saya kendarai mulai ngos-ngosan, saya menemukan SPBU yang menyediakan pertalite. Awalnya saya ragu. Karena pertalite sering kering di SPBU ini. Meski tidak sesering SPBU sebelumnya. Dan seperti biasa, SPBU yang sering kehabisan stok pertalite, selalu dikerumuni oleh pemburu BBM yang ekonomis ini.
Setiap seminggu sekali saya harus menghadapi kenyataan ini. Seharusnya, dengan melihat kondisi konsumen yang tinggi, pihak SPBU bisa segera menyesuaikan. Tapi faktanya, dalam rentan waktu satu minggu, tidak ada perubahan yang signifikan. Apakah ketidak-seimbangan antara BBM yang tersedia di SPBU di sepanjang jalan Pantura Probolinggo dengan jumlah konsumen menjadi penyebab utamanya?
Stok BBM di SPBU Probolinggo
Dilansir dari pasarproperti.com, ada 15 SPBU yang tersebar di Probolinggo, diantaranya SPBU 51.67202 (Desa Klarak, Kec. Leces), SPBU 53.67222 (Jl. Soekarno Hatta No.102 Kel. Suka), SPBU 54.67201 (Jl. Raya Dringu No.37), SPBU 54.67205 (Jl. Kebon Agung Kraksaan), SPBU 54.67207 (Ds. Sumber Anyar Paiton), SPBU 54.67208 (Ds. Tongas Wetan), SPBU 54.67209 (Ds. Semampir, Kec. Kraksaan), SPBU 54.67212 (Ds. Gending Raya Paturangan), SPBU 54.67213 (Ds. Klenang Lor Kec. Banyu Anyar), SPBU 54.67214 (Ds. Banjar Sari, Kec. Sumber Asih), SPBU 54.67215 (Ds. Malasan Kulon, Kec. Leces), SPBU 54.67216 (Ds. Karanganyar, Kec. Paiton), SPBU 54.67217 (Ds. Brumbungan Lor, Gending), SPBU 54.67220 (Ds. Sukapura, Kec. Sukapura), SPBU 54.67221 (Ds. Curahsawo, Kec. Gending).
Setiap SPBU tersebut memiliki kuota yang terbatas. Seaction Head Communication Patra Niaga Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus), Arya Yusa Dwicandra menerangkan bahwa ada pembatasan kuota BBM subsidi di setiap SPBU. Ia juga menegaskan agar kuota ini tidak kehabisan sebelum waktunya. Sejak tahun 2022, kuota BBM subsidi selama setahun untuk Kabupaten Probolinggo diproyeksikan mencapai 54.754 Kl dan Kota Probolinggo 29.834 Kl. Untuk stok jenis Pertalite, disalurkan sebanyak 9.000 Kiloliter perbulan. Sedangkan jenis lainnya, seperti Bio Solar, disalurkan sebanyak 66.170 Kiloliter perbulan. Dan solar sebanyak 5.500 Kiloliter perbulan. Stok bensin akan stabil jika angka konsumen juga stabil, dan tidak ada kecurangan-kecurangan saat transaksi di lapangan. Namun faktanya tidak demikian.
Faktor Penyebab Kelangkaan BBM
Secara garis besar, ada dua factor yang menyebabkan BBM sering mengalami kekeringan di SPBU Probolinggo. Yakni faktor internal, yang disebabkan langsung oleh pihak SPBU; dan faktor eksternal, yang disebabkan oleh kondisi di luar SPBU. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, saya menemukan sekurangnya ada dua hal yang menjadi faktor internal: Pertama, masih banyak SPBU di Probolinggo yang tidak menerapkan aplikasi MyPertamina dan bacode untuk pembelian BBM subsidi. Kedua, proses penyaluran dari terminal BBM ke SPBU yang menggunakan mobil tanki, tidak sesuai dengan estimasi waktu yang telah ditentukan. Hal ini terjadi apabila ada SPBU yang butuh suplai. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Deden Mochamad Idham, Area Manager Communication & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus saat merinci kuota penyaluran bio solar dan pertalite di Kota dan Kabupaten Probolinggo.
Sedangkan faktor eksternal, ada dua: Pertama, meningkatnya angka konsumen. Hal ini disebabkan karena jalan pantura Probolinggo merupakan akses utama bagi mobil-mobil besar dari suatu perusahaan atau pabrik yang hendak mengirimkan barang lintas provinsi. Selain itu, banyak karyawan yang bekerja dan menetap di Probolinggo. Sebabnya, terdapat pabrik-pabrik besar, PLTU, dan pondok pesantren yang berdiri di sekitar Probolinggo. Kedua, maraknya penimbunan BBM. Hal ini terungkap setelah Aparat Penegak Hukum (APH) berhasil mengamankan empat tersangka dan 31 liter BBM bersubsidi jenis solar.
Sikap Tegas SPBU
SPBU punya peran penting dan menjadi kunci utama dalam menyelesaikan kekeringan BBM di Probolinggo khususnya di jalan Pantura. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh SPBU. Pertama, seluruh SPBU harus menerapkan MyPertamina dan barcode dalam pengisian BBM. Hal ini untuk mengatur kestabilan secara otomatis antara stok BBM dengan kebutuhan konsumen. Setidaknya, stok BBM akan terkontrol dan terpantau melalui aplikasi tersebut sekalipun saat mengalami suplai. Kedua, SPBU harus berani tegas saat ada pihak yang membeli dengan lagak mencurigakan atau terlihat membeli dengan prosedur yang tidak sewajarnya. Dan berani menolak segala bentuk negosisai yang memungkin terjadinya penimbunan BBM. Kedua cara ini menjadi kunci utama dalam menghentikan terjadinya kekeringan BBM di Probolinggo.
*Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang dan Anggota Kelompok Mujaddid Karanganyar, Paiton, Probolinggo.


