Probolinggo.HarianJatim. Com- Perpolitikan di Indonesia selalu mempertontonkan dinamika yang menarik. Ini tak lepas dari mastermind yang memiliki strategi dalam percaturan politik dari tahun ke tahun. Keberhasilan bangsa Indonesia melahirkan master man patut dibanggakan. Setidaknya, pada setiap periode ada tokoh-tokoh politik sebagai rujukan dalam mengambil kebijakan politik. Banyak pengamat yang menilai bahwa saat ini mastermaid politik adalah Ir. Joko Widodo yang tak lain presiden Republik Indonesia yang ke 7. Banyak pula kalangan mengatakan bahwa hal itu tidak lepas dari jokowi effec dampak dari keberhasilannya memimpin bangsa Indonesia.
Jokowi sebagai master politik dapat dibuktikan dengan kebersediannya mengajak lawan politiknya pada tahun 2019 Prabowo Subianto dan Sandiaga Sholahudin Uno bergabung di dalam kepemerintahannya. Sikap ksatria itu memberikan ekses yang sangat bagus sehingga dengannya masyarakat Indonesia mengaguminya. Bagaimana tidak, Prabowo dan Sandiaga Uno sebagai lawan politiknya, namun dengan legowo ia mengangkatnya sebagai menteri dari kabinetnya.
Di sisi yang lain, kedua tokoh nasioanal tersebut (Prabowo dan Sandiaga Uno) menerima dengan tangan terbungka. Mereka berdua mengedepankan perjalanan bangsa agar lebi baik untuk 5 tahun ke depan ketimbang menonjolkan egoisme semata. Tampak jelas, ketiga orang ini sangat menikmati pekerjaannya sebagai abdi Negara tanpa mengingat pertarungan yang di alami saat 2019 tahun silam. Sikap patriotik ketiganya menggambarkan karakter Nusantara di mana para pejuang bangsa terdahulu lebih mengedepankan kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi, partai dan golongan tertentu.
Akibatnya, bangsa Indonesia semakin mengagumi sosok Jokowi sebagai presiden yang mampu mengakomodir lawan politiknya. Andaikan tidak, dapat dimungkinkan partai gerindra akan menjadi partai oposisi pemerintah. Meskipun menjadi oposisi itu sebuah keharusan agar dapat menjadi penyeimbang dalam kebijakan publik pemerintah. Namun setidaknya, bangsa Indonesia lebih nyaman dengan tidak adanya oposisi yang “terkadang” mengganggu kenyamanan bangsa. Walapun di satu sisi Negara akan mengalami sikap tak mau berkembang dan berubah tanpa ada yang “mengganggu”. Masih untung ada Rocky Gerung dan kawan-kawannya yang selalu mengeritik pemerintah, Kehadiran mereka paling tidak sebagai kontrol sosial di saat para wakil rakyat tak memiliki suara lantang dalam melakukan pembelaan terhadap kepentingan rakyat.
Gibran diyakini sebagai sosok ideal untuk menggantikan Jokowi, tak hanya itu ia akan mewakili generasi muda dalam kancah nasional bahkan internasional. Pun di duga dapat melanjutkan program Jokowi untuk lima tahun ke depan. Gibran bukan anak yang baru lahir, tapi ia memiliki pengalaman memimpin kota solo.
Jokowi Effec ini menjadi rebutan para para partai pengusung agar dapat mendulang suara demi kemenangan pada percaturan politik di tahun 2024 mendatang. Saya tertarik pada analisis Burhanudin Muhtadi selaku Dir. Eksekutif Indikator Politik Indonesia ia memberikan tanggapan bahwa munculnya Gibran ditengah-tengah Pengusungan nama calon wakil presiden untuk Prabowo Subianto bisa diterima oleh Golkar. Pada satu sisi Gibran dinilai bisa menjadi aset elektoral untuk basis Ganjar. Meskipun Gibran ditengarahi diihat sesuai data, tidak terlalu banyak basis Ganjar yang bisa ditarik oleh Gibran. Menurutnya, hal ini harus dipertimbangkan oleh Prabowo Subianto sebab pendukung Prabowo didominasi oleh basis pendukung lama yang dimana tidak puas dengan kinerja Presiden Jokowi.
Pilihan koalisi indonesia maju (KIM) jatuh pada Gibran Rakabuming Raka merupakan yang merupakan anak sulung dari Presiden RI Joko Widodo. Tentu, penilaian ini membuat sejumlah pendukung Prabowo Subianto sulit untuk tidak mengatakan bahwa karena faktor Jokowi.
Jika salah dalam mengelola , tentu akan membuat sejumlah pendukung Prabowo Subianto lari dan mengalihkan arahan kepada capres-cawapres lain, yang berpotensi akan pindah haluan kepada paslon Anies Baswedan dan Cak Imin. Di posisi inilah Ganjar-Mahfud yang dirugikan. Namun tidak ada yang final dalam politik. Sebab politik adalah percaturan yang sulit di tebak. Siapa yang dapat berkah dari sang mastermind?
*Ketua Lakpesdam MCWNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo.


