Pandangan Para Ekonom terhadap Pernyataan Zulhas dan Tantangan Pangan di Indonesia

  • Bagikan

Oleh: Andhika Wahyudiono*

DALAM konteks pernyataan yang dikeluarkan oleh Zulhas, Menteri Perdagangan, terkait dengan kenaikan harga pangan yang disebabkan oleh libur Lebaran, terdapat beragam tanggapan dan kritik dari para ekonom. Kritik yang disampaikan oleh Nailul Huda dari CELIOS menyoroti ketidaketisan pernyataan tersebut, menyatakan bahwa hal tersebut tidak hanya tidak etis tetapi juga memalukan, terutama mengingat jabatan yang dipegang oleh Zulhas. Huda menilai bahwa alasan yang disampaikan tidak masuk akal dan tidak layak untuk disampaikan oleh seorang pejabat publik, terlebih lagi oleh seorang Menteri Perdagangan.

Menyikapi hal ini, Nailul Huda juga menambahkan bahwa kenaikan harga pangan sebenarnya telah terjadi sebelum masa libur Lebaran. Ia menjelaskan bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh kelebihan permintaan, di mana permintaan melebihi penawaran atau stok yang tersedia. Lebih lanjut, Huda mengindikasikan bahwa peningkatan permintaan ini dipicu oleh kenaikan pendapatan yang terjadi menjelang atau selama bulan Ramadan dan Lebaran.

Menanggapi kritik yang disampaikan oleh Nailul Huda, Eliza Mardian dari CORE juga menganggap bahwa alasan yang dikemukakan oleh Zulhas tidak masuk akal. Eliza menekankan bahwa kenaikan harga pangan sebenarnya sudah terjadi sejak akhir Desember hingga menjelang Lebaran, jauh sebelum libur Lebaran dimulai. Dia juga menyatakan bahwa kenaikan harga pangan di bulan Ramadhan dan Lebaran lebih disebabkan oleh tingginya permintaan daripada persediaan yang tersedia.

Eliza juga menjelaskan bahwa kenaikan harga beras, misalnya, terjadi karena masalah distribusi dan kurangnya data yang akurat dalam rantai pasok. Dia juga mengungkapkan bahwa meskipun harga gabah di tingkat petani telah turun, harga beras di tingkat pedagang masih relatif tinggi, menunjukkan adanya masalah dalam rantai pasok tersebut.

Baca Juga :  Lindungi Petani, Bapemperda Dorong Revisi Perda Pembelian Tembakau

Terkait dengan kenaikan harga bawang merah, Eliza menyoroti bahwa saat ini sebagian besar produksi bawang merah berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara sebagian besar konsumsi terjadi di kawasan barat Indonesia. Hal ini mengakibatkan defisit bawang merah di banyak daerah, terutama di kawasan barat, yang mengandalkan suplai dari Jawa.

Selain itu, Eliza juga menyoroti masalah infrastruktur yang kurang memadai dalam perdagangan antardaerah, yang menyebabkan biaya logistik menjadi tinggi. Dia menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah dalam mengatasi masalah ini, termasuk pengawasan ketat terhadap perdagangan pangan serta pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Kritik yang dilontarkan oleh para ekonom terhadap pernyataan Zulhas membuka jendela kepada pemahaman yang terbatas terkait masalah ekonomi serta pengelolaan pangan di Indonesia. Mereka memandang bahwa alasan yang dikemukakan oleh Zulhas tidak sepenuhnya relevan dengan realitas yang terjadi di lapangan, mencerminkan kurangnya pemahaman akan kompleksitas persoalan yang tengah dihadapi oleh sektor pangan. Selain itu, kritik tersebut juga mencerminkan rendahnya kesadaran akan isu-isu mendasar yang menjadi inti permasalahan dalam tata kelola pangan. Dalam konteks ini, para ekonom memandang perlu adanya langkah konkret dari pemerintah dalam menanggapi tantangan ini.

Baca Juga :  Lindungi Petani, Bapemperda Dorong Revisi Perda Pembelian Tembakau

Terkait dengan kurangnya pemahaman yang mendalam terhadap masalah ekonomi, para ekonom berpendapat bahwa hal tersebut dapat berdampak negatif pada kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Mereka menekankan bahwa pemahaman yang dangkal terhadap kondisi ekonomi riil dapat mengakibatkan kebijakan yang tidak tepat sasaran atau bahkan merugikan bagi masyarakat. Oleh karena itu, para ekonom mendorong perlunya peningkatan pemahaman dan kesadaran akan aspek-aspek ekonomi yang mendasar bagi para pembuat kebijakan di tingkat pemerintahan.

Selain itu, kritik yang disampaikan oleh para ekonom juga menggambarkan kurangnya kesadaran akan masalah mendasar dalam tata kelola pangan di Indonesia. Mereka menyoroti bahwa alasan yang disampaikan oleh Zulhas tidak mencerminkan pemahaman yang memadai akan dinamika pasar pangan dan faktor-faktor yang memengaruhi ketersediaan serta harga pangan. Hal ini menunjukkan perlunya adanya pendekatan yang lebih holistik dan mendalam dalam mengelola sektor pangan guna memastikan ketersediaan pangan yang memadai bagi masyarakat.

Para ekonom juga menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah konkret dalam mengatasi masalah yang tengah dihadapi oleh sektor pangan. Mereka berpendapat bahwa pengawasan ketat terhadap perdagangan pangan menjadi salah satu langkah penting yang harus diambil oleh pemerintah guna mengantisipasi fluktuasi harga dan memastikan ketersediaan pangan yang stabil. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan daerah juga menjadi hal yang penting guna memastikan distribusi pangan yang lancar dan efisien ke seluruh wilayah Indonesia.

Baca Juga :  Lindungi Petani, Bapemperda Dorong Revisi Perda Pembelian Tembakau

Dalam kerangka pembangunan infrastruktur, para ekonom menyoroti pentingnya memperhatikan keberagaman geografis dan demografis di Indonesia. Mereka menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga pembangunan infrastruktur harus disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing. Hal ini akan membantu memastikan bahwa pangan dapat didistribusikan secara merata dan efektif ke seluruh pelosok negeri, tanpa terkendala oleh faktor-faktor geografis atau infrastruktur yang tidak memadai.

Selain itu, para ekonom juga mengajukan perlunya keterlibatan aktif dari berbagai pihak dalam mengatasi masalah dalam sektor pangan. Mereka menekankan bahwa penyelesaian masalah ini tidak bisa dilakukan secara terpisah oleh pemerintah saja, melainkan memerlukan kolaborasi dari berbagai sektor, termasuk sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Dengan melibatkan berbagai pihak, diharapkan dapat ditemukan solusi-solusi inovatif dan efektif untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh sektor pangan di Indonesia.

Secara keseluruhan, kritik yang disampaikan oleh para ekonom terhadap pernyataan Zulhas menyoroti kompleksitas masalah yang dihadapi oleh sektor pangan di Indonesia serta pentingnya adanya langkah-langkah konkret dalam menanggapi tantangan ini. Mereka menekankan perlunya peningkatan pemahaman dan kesadaran akan aspek-aspek ekonomi yang mendasar, serta perluasan kerjasama antarberbagai pihak guna mencapai solusi-solusi yang berkelanjutan dan efektif dalam mengelola sektor pangan di Indonesia.

*) Dosen UNTAG Banyuwangi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 336x280