Oleh: Andhika Wahyudiono*
Pengelolaan investasi dan sektor energi Indonesia, kolaborasi antara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan PT Pertamina (Persero) menjadi simbol pentingnya sinergi. Kedua entitas ini berperan dalam memastikan bahwa sumber daya energi dikelola secara bijaksana dan efisien. Kerjasama ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, yang memberi dasar hukum untuk pengelolaan energi secara berkelanjutan. Dengan mengacu pada teori ekonomi sumber daya Harold Hotelling, kolaborasi ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan energi di masa depan. Peningkatan kinerja sektor energi harus melibatkan pendekatan yang lebih terstruktur dan berorientasi pada keberlanjutan. Oleh karena itu, sinergi ini menjadi kunci dalam pengelolaan energi yang lebih baik.
CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan Pertamina dalam menghadapi tantangan energi. Sinergi ini penting dalam menciptakan nilai tambah bagi kedua belah pihak dan meningkatkan daya saing di industri energi. Teori sinergi yang dijelaskan oleh Michael Porter menekankan pentingnya kerjasama antar perusahaan untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Integrasi strategi dan sumber daya antara BPI Danantara dan Pertamina memungkinkan kedua perusahaan untuk lebih efisien dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Oleh karena itu, kerjasama ini memberi dampak positif terhadap ketahanan energi nasional. Sinergi yang terjalin juga dapat meningkatkan kontribusi mereka terhadap penerimaan negara.
Transformasi besar yang dilakukan oleh Pertamina sejak 2021, dengan pembentukan enam subholding dan 260 entitas, menunjukkan upaya untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara mengatur peran BUMN dalam meningkatkan efisiensi operasional. Dengan berlandaskan pada teori organisasi dari Henry Mintzberg, pengaturan struktur organisasi yang tepat dapat memaksimalkan kinerja operasional. Struktur subholding ini memungkinkan Pertamina untuk fokus pada bidang usaha tertentu. Akibatnya, perusahaan dapat lebih responsif dalam menghadapi tantangan yang dihadapi industri energi. Transformasi ini juga menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi Pertamina di pasar energi global.
Pertamina yang terus mencatatkan kontribusi lebih dari Rp300 triliun per tahun untuk penerimaan negara mengindikasikan peran penting BUMN dalam perekonomian Indonesia. Joseph Stiglitz dalam teori kontribusi BUMN menekankan bahwa BUMN harus memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Dengan kinerja keuangan yang solid, Pertamina tidak hanya berkontribusi pada pendapatan negara, tetapi juga mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Keberlanjutan ini bergantung pada kelangsungan investasi dan pengelolaan yang efektif terhadap sumber daya energi. Oleh karena itu, penting bagi Pertamina untuk menjaga kinerja yang positif agar dapat terus memberikan kontribusi yang signifikan. Kontribusi ini mencerminkan tanggung jawab besar yang dimiliki oleh BUMN dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam jangka panjang, Pertamina berencana untuk menerapkan dual growth strategy guna memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi energi. Pergeseran dari energi fosil ke energi terbarukan adalah hal yang tak terhindarkan, menurut teori transisi energi oleh Vaclav Smil. Strategi terencana dan terintegrasi diperlukan untuk memastikan bahwa transisi ini berlangsung lancar. Pertamina akan memperkuat produksi migas domestik dan meningkatkan digitalisasi layanan untuk mendukung transisi ini. Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga ketersediaan energi di masa depan. Dengan demikian, dual growth strategy merupakan elemen kunci dalam mencapai ketahanan energi yang lebih baik.
Digitalisasi layanan oleh Pertamina sejalan dengan tren global yang sedang berkembang dalam industri energi. Clayton Christensen dalam teorinya tentang inovasi menunjukkan bahwa adopsi teknologi baru dapat menciptakan nilai baru dan meningkatkan efisiensi. Inovasi digital ini memungkinkan Pertamina untuk mengoptimalkan operasional dan meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. Dengan demikian, digitalisasi menjadi salah satu pilar utama dalam strategi perusahaan untuk tetap kompetitif. Penerapan teknologi digital juga dapat meningkatkan pengelolaan sumber daya energi yang lebih efisien. Oleh karena itu, langkah ini akan memperkuat daya saing Pertamina di pasar energi yang semakin kompetitif.
Langkah strategis lainnya adalah peningkatan bauran biofuel yang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan energi. John Elkington dalam teori keberlanjutan menyarankan agar perusahaan menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan. Peningkatan penggunaan biofuel akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan demikian, Pertamina dapat berperan aktif dalam mitigasi perubahan iklim yang semakin menjadi isu global. Keberlanjutan energi ini juga berkaitan dengan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan hidup. Upaya ini akan mendukung pencapaian target energi bersih yang lebih tinggi.
Kolaborasi antara BPI Danantara dan Pertamina dalam pengelolaan energi berkelanjutan menunjukkan pentingnya sinergi antara sektor publik dan swasta. Teori pembangunan berkelanjutan oleh Brundtland Commission menyatakan bahwa pembangunan harus mempertimbangkan kebutuhan generasi mendatang. Oleh karena itu, kolaborasi ini dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan ekonomi yang lebih inklusif. Sinergi ini juga dapat menciptakan sistem energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Integrasi prinsip keberlanjutan dalam strategi bisnis adalah langkah yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Sinergi antara kedua pihak ini memiliki potensi besar untuk mewujudkan masa depan energi yang lebih baik.
Sinergi antara BPI Danantara dan Pertamina dapat membawa keuntungan signifikan bagi sektor energi Indonesia. Kedua entitas ini saling melengkapi dalam berbagai aspek, baik dari sisi sumber daya maupun strategi. Dalam konteks ini, BPI Danantara memiliki peran penting dalam mengelola investasi, sedangkan Pertamina bertanggung jawab atas produksi dan distribusi energi. Melalui sinergi ini, Indonesia dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya energi yang dimilikinya. Kerjasama ini juga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor energi. Oleh karena itu, langkah ini akan memberikan dampak positif pada perekonomian nasional.
Keberlanjutan energi akan menjadi tantangan besar di masa depan, namun dengan adanya sinergi antara sektor publik dan swasta, Indonesia dapat menghadapinya. Penerapan kebijakan yang mendukung energi terbarukan menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Dalam hal ini, teori transisi energi sangat relevan, mengingat peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan membutuhkan komitmen jangka panjang. BPI Danantara dan Pertamina, dengan peran mereka masing-masing, dapat mempercepat transisi ini. Sinergi ini juga dapat mendorong inovasi dalam teknologi energi bersih. Oleh karena itu, Indonesia dapat menghadapi masa depan energi dengan lebih baik.
Kerjasama yang terjalin antara BPI Danantara dan Pertamina dapat menjadi model untuk pengelolaan energi yang lebih berkelanjutan di negara berkembang. Negara berkembang sering menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan energi, baik dari segi teknologi maupun investasi. Dengan kolaborasi yang baik, tantangan ini dapat diatasi secara lebih efisien. Pengelolaan energi yang berkelanjutan dapat menciptakan kesempatan baru bagi masyarakat dan sektor industri. Kerjasama ini juga akan memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan demikian, model ini dapat diadopsi oleh negara berkembang lainnya untuk mengelola sumber daya energi mereka dengan lebih baik.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara BPI Danantara dan Pertamina adalah langkah strategis dalam mencapai tujuan pembangunan energi berkelanjutan. Kolaborasi ini mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu kesatuan strategi. Dengan mempertimbangkan teori-teori yang relevan, kerjasama ini dapat memberikan dampak positif terhadap ketahanan energi dan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, kolaborasi ini merupakan model pengelolaan energi yang dapat diterapkan di negara lain dengan kondisi serupa. Masa depan energi Indonesia akan lebih cerah dengan adanya sinergi antara sektor publik dan swasta. Keberlanjutan energi akan menjadi lebih terjamin dengan langkah-langkah yang diambil oleh kedua belah pihak.
*) Dosen UNTAG Banyuwangi
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. atau download App HarianjatimCom.


