Perang Iran vs Israel – Benarkah Perang Ideologi?

  • Bagikan

Oleh: Ponirin Mika, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo

Konflik antara Iran dan Israel sudah menjadi topik yang tidak pernah usai untuk dibahas. Ketegangan yang terus berlangsung ini sering dipandang sebagai benturan ideologi besar antara dua sistem yang bertentangan: Islamisme Syiah yang diusung oleh Iran dan Zionisme yang menjadi dasar negara Israel. Namun, apakah benar perang ini hanya bisa dilihat melalui kacamata ideologi, ataukah ada faktor-faktor lain yang lebih pragmatis yang turut berperan? Dalam opini ini, saya akan mencoba menggali berbagai dimensi yang membentuk hubungan antara Iran dan Israel, dan menilai apakah benar konflik ini bisa disebut perang ideologi semata.

1. Konflik Berdasarkan Ideologi?

Kebanyakan orang memandang konflik Iran-Israel sebagai perang ideologi yang dipicu oleh perbedaan prinsip dasar antara dua negara tersebut. Robert Fisk dalam bukunya The Great War for Civilisation (2005) mengingatkan kita bahwa meskipun ideologi memang memainkan peran penting, kita tidak bisa melihatnya hanya dari satu sisi saja. Fisk menjelaskan bahwa ketegangan ini lebih kompleks dan berakar dari ketegangan yang lebih besar di Timur Tengah. Israel sering dianggap sebagai penjajah oleh negara-negara Arab, termasuk Iran yang mayoritas Syiah. Konflik ini, menurut Fisk, lebih merupakan bagian dari persaingan regional yang lebih luas, bukan semata-mata soal ideologi.

2. Iran: Ideologi Anti-Zionisme Sejak Revolusi 1979

Setelah Revolusi Islam 1979, Iran mengadopsi ideologi anti-Zionisme yang jelas, dan ini menjadi salah satu alasan utama permusuhan terhadap Israel. Vali Nasr, dalam The Shia Revival (2006), menjelaskan bahwa sikap Iran terhadap Israel tidak hanya dipengaruhi oleh masalah Palestina, tetapi juga oleh keinginan untuk menyebarkan Islamisme Syiah di kawasan tersebut. Iran melihat dirinya sebagai pembela Islam melawan dominasi Barat yang dipersonifikasikan oleh Israel. Sebagai negara yang mengklaim diri sebagai pelopor revolusi Islam, Iran merasa perlu untuk menentang keberadaan Israel, yang dianggapnya sebagai simbol penjajahan Barat.

3. Israel: Keamanan dan Ancaman Nuklir

Sementara itu, Israel melihat Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama terkait dengan ambisi nuklir Iran. Barry Rubin dalam Middle East Review of International Affairs (2009) menekankan bahwa meskipun ideologi ada, ancaman yang paling besar bagi Israel adalah keamanan nasionalnya. Israel telah lama mengandalkan superioritas militer untuk menjaga eksistensinya, dan potensi kemampuan nuklir Iran menambah kecemasan. Dalam hal ini, Israel memandang Iran bukan hanya sebagai musuh ideologis, tetapi juga sebagai ancaman nyata terhadap kelangsungan hidup negara Yahudi tersebut.

4. Perang Proxy dan Kepentingan Geopolitik

Namun, selain aspek ideologi, hubungan antara Iran dan Israel juga mencakup persaingan geopolitik yang sangat kuat. Shibley Telhami, dalam bukunya The Stakes: America and the Middle East (2009), menjelaskan bahwa konflik ini sering berlangsung melalui perang proxy, di mana kedua negara mendukung kelompok militan yang beroperasi di luar perbatasan mereka, seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Telhami berpendapat bahwa meskipun ada elemen ideologis dalam dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok ini, Iran juga berusaha memperluas pengaruhnya di kawasan. Israel, pada sisi lainnya, berusaha mengurangi pengaruh Iran dan melindungi dirinya dari serangan yang didalangi oleh negara tersebut.

Perang proxy ini juga menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi tidak selalu berkisar pada perang langsung antara Iran dan Israel, tetapi lebih kepada pertarungan pengaruh yang melibatkan aktor-aktor lain, baik negara maupun kelompok militan. Ini semakin memperkuat argumen bahwa meskipun ideologi memainkan peran, kepentingan strategis lebih sering menjadi pendorong utama.

5. Iran vs Israel: Perang Ideologi atau Geopolitik?

Apakah kita bisa benar-benar mengatakan bahwa perang antara Iran dan Israel adalah perang ideologi? Saya rasa, menyebutnya begitu akan terlalu menyederhanakan kompleksitas yang ada. Mearsheimer dan Walt dalam The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (2007) menyebutkan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yang mendukung Israel, memperburuk ketegangan antara negara-negara Muslim, termasuk Iran. Mereka menekankan bahwa Iran melihat Israel sebagai representasi dari dominasi Barat di kawasan Timur Tengah, dan ini bukan hanya masalah ideologi agama semata, tetapi juga masalah kekuasaan geopolitik.

Perang ideologi memang ada, tetapi pada akhirnya ketegangan ini juga dipicu oleh faktor-faktor yang lebih pragmatis, seperti dominasi militer, ambisi nuklir, dan persaingan pengaruh di dunia Arab. Iran ingin memperluas pengaruhnya, sementara Israel berusaha melindungi eksistensinya. Dalam hal ini, kita bisa mengatakan bahwa konflik ini merupakan hasil dari benturan kepentingan strategis dan perimbangan kekuatan yang lebih besar, yang melibatkan banyak pihak di luar Iran dan Israel itu sendiri.

6. Program Nuklir Iran dan Ketegangan Global

Salah satu isu utama yang menambah ketegangan dalam hubungan Iran dan Israel adalah masalah program nuklir Iran. David Albright dalam The New York Times (2012) menulis bahwa potensi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir menjadi salah satu faktor yang semakin memperburuk ketegangan ini. Bagi Israel, program nuklir Iran bukan hanya masalah keamanan nasional, tetapi juga masalah keberlanjutan negara Yahudi tersebut di tengah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Program nuklir ini lebih dari sekadar simbolisme ideologi; ia adalah ancaman nyata terhadap keseimbangan kekuatan yang sudah rapuh di kawasan tersebut.

7. Kepentingan Internasional dan Aliansi yang Terkait

Perang ini juga dipengaruhi oleh kepentingan internasional yang jauh lebih luas. Seperti yang dicatat oleh Fareed Zakaria dalam The Post-American World (2008), kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang mendukung Israel memberikan dampak besar terhadap hubungan Iran-Israel. Amerika Serikat adalah sekutu utama Israel, sementara Iran mencoba menantang pengaruh Barat yang dia anggap merusak keseimbangan kekuasaan di kawasan. Tidak hanya Amerika Serikat, Rusia dan China juga terlibat dalam mendukung Iran, sementara negara-negara Eropa terkadang berada di posisi yang lebih netral.

Faktor internasional ini memperburuk ketegangan karena Iran merasa terisolasi oleh sanksi internasional yang diterapkan atas program nuklirnya, sementara Israel merasa semakin terancam oleh ambisi regional Iran. Dalam konteks ini, perang ideologi antara Iran dan Israel juga harus dipahami dalam kerangka lebih besar, yaitu persaingan geopolitik yang melibatkan banyak aktor global.

8. Kesimpulan: Perang Ideologi atau Geopolitik?

Sebagai kesimpulan, saya cenderung berpandangan bahwa konflik Iran dan Israel lebih dari sekadar perang ideologi. Memang ada dimensi ideologis yang besar, seperti perbedaan antara Islamisme Syiah yang dipromosikan oleh Iran dan Zionisme yang mendasari Israel. Namun, ketegangan ini juga sangat dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik, keamanan, dan persaingan kekuasaan di kawasan Timur Tengah. Iran melihat Israel sebagai simbol dominasi Barat yang harus dilawan, sementara Israel melihat Iran sebagai ancaman langsung terhadap keberlanjutan negara Yahudi itu.

Dengan demikian, meskipun ideologi menjadi faktor pendorong utama dalam permusuhan ini, ketegangan yang terjadi jauh lebih kompleks. Ini adalah perang yang melibatkan pertarungan untuk supremasi regional, pengaruh politik, serta kelangsungan hidup nasional, yang lebih berkaitan dengan dinamika kekuasaan dan keamanan daripada sekadar perbedaan ideologis semata. Perang ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang semakin terhubung, bahkan konflik yang berakar dalam ideologi pun sering kali dipengaruhi oleh perimbangan kepentingan yang jauh lebih pragmatis.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Viajes a punta cana. Earn recurring commissions by referring others — completely free and simple to use on websites and social media. Infos zum event proffound fistival.